Liputan6.com, Jakarta - Piala Dunia 2026 sangat bersejarah bagi Tim Nasional (Timnas) Kongo. Mereka kembali ke ajang sepak bola dunia itu setelah 52 tahun berjuang. Menandai momen tersebut, Timnas Kongo bergaya dengan mengenakan setelan leopard, menarik perhatian publik saat mendarat di Houston, Amerika Serikat, beberapa waktu lalu.
Setelan itu ternyata dirancang desainer kelahiran Kongo berusia 30 tahun yang berbasis di Paris, Alvin Mak. Mengutip Vogue, Minggu, 21 Juni 2026, ia merancang setelan jas hitam yang rapi dengan bros macan tutul perak, panel motif hewan, dan tas bermotif senada yang serasi berukuran besar.
Tak hanya busana yang menarik perhatian, permainan Timnas Kongo juga tak kalah ciamik. Salah satu pemain mereka, Yoane Wissa, mencetak gol pertama negara itu di Piala Dunia, menyamakan kedudukan Kongo dengan Portugal dalam pertandingan yang berakhir imbang, 1:1, pada 17 Juni 2026.
Advertisement
Mak hadir menyaksikan momen tersebut, duduk di antara kelompok pendukung Kongo yang relatif kecil namun penuh semangat, banyak di antaranya adalah ekspatriat. Kehadiran para pemain dari Kongo sangat terbatas karena wabah Ebola yang masih berlangsung di negara tersebut, yang mengharuskan para pelancong—termasuk anggota tim nasional dan staf—untuk mematuhi langkah-langkah karantina.
Sementara, Mak juga pertama kalinya mengunjungi Amerika Serikat. Ia mengenakan salah satu kemeja bermotif macan tutul dan bros berbentuk kucing buatannya sendiri.
"Dalam beberapa tahun terakhir, ketika orang berbicara tentang Kongo, mereka sering fokus pada perang, kekerasan, atau penyakit seperti Ebola," kata Mak, yang pindah ke Paris dari Kongo pada usia 11 tahun.
Makna Motif Leopard di Kostum Timnas Kongo
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263831/original/034397800_1782019568-timnas_kongo2.jpg)
Mak menyatakan masalah-masalah yang dihadapi negaranya saat ini tidaklah mendefinisikan budaya Kongo. Ia pun ingin mengubah citra dan persepsi negaranya melalui karya seninya.
"Untuk menampilkan dan mempromosikan budaya Kongo, keterampilan kerajinan tangan, dan juga berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja di Kongo," tuturnya.
Inti dari koleksi ini adalah motif leopard yang bermakna simbolis yang mendalam di seluruh negeri. "Macan tutul adalah hewan lambang dan totem Kongo," jelas Mak. "Di berbagai institusi, kelompok etnis, dan banyak desa, ia melambangkan kekuatan, ketahanan, semangat juang, keberanian, dan kehormatan."
Desainnya juga mengacu pada La Sape—singkatan dari Société des Ambianceurs et des Personnes Élégantes (Masyarakat Pencipta Suasana dan Orang-Orang Elegan)—gerakan mode Kongo yang terkenal karena penjahitannya yang sempurna dan palet warnanya yang cerah. La Sape, yang sejak lama dianggap sebagai ekspresi aspirasi dan identitas, menawarkan kerangka kerja yang ingin diinterpretasikan ulang oleh Mak untuk generasi atlet baru.
"Ini mencerminkan pola pikir ambisi dan ekspresi diri, yang sangat menginspirasi saya dan yang ingin saya sampaikan," katanya.
Â
Â
Advertisement
Gabungkan Teknik ala Prancis dan Keterampilan Tangan Perajin Kongo
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263832/original/040169800_1782019568-timnas_kongo1.jpg)
Dijuluki setelan 'Moniama', busana itu terbuat dari sutra krep dan menampilkan bagian depan kancing tunggal double-breasted, bahu yang miring tajam, dan pinggang yang dipahat lembut. Kerah trompe-l'oeil khas Mak dan panel beludru motif macan tutul menyatukan simbolisme budaya dan penjahitan teknis.
Untuk melengkapi tampilan, ia mendesain tas berbentuk bintang yang dimaksudkan untuk mewakili ambisi Kongo di turnamen tersebut. Tas ini menggabungkan tikar tenun tangan yang dibuat oleh perajin Afrika, mengubah teknik tradisional menjadi objek geometris kontemporer.
"Keinginan saya adalah untuk mengubah citra dan persepsi negara saya melalui seni saya, untuk menampilkan dan mempromosikan budaya Kongo [dan] keterampilan kerajinan tangan," ujarnya.
Ia dan timnya yang berjumlah tiga orang bekerja keras memproduksi 55 setelan untuk para pemain dan staf pelatih di Paris. Mereka juga melibatkan para pengrajin di Kongo untuk menyelesaikan proyek tersebut.
Â
Â
Desainer Hasil Belajar Otodidak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263833/original/045256600_1782019568-timnas_kongo3.jpg)
Mak tidak pernah bersekolah di sekolah mode, melainkan belajar otodidak melalui tutorial YouTube. Sebelum bekerja mandiri hampir satu dekade lalu, ia bekerja di bidang penjualan untuk merek mode mewah dan kontemporer. Ia pertama kali mendesain busana untuk penampilan tim Kongo di Piala Afrika 2025, termasuk kemeja motif macan tutul dengan bahu yang dikepang.
Menjelang Piala Dunia, ia mendekati Kementerian Olahraga Kongo dengan proposal untuk pakaian baru sepenuhnya. Yang terjadi selanjutnya adalah proses panjang yang melibatkan beberapa kali fitting dan perubahan-perubahan dilakukan saat para pemain bersiap untuk turnamen.
Hasilnya berbuah manis, respons yang diterimanya bahkan melebihi ekspektasinya sendiri. "Saya menerima pesan, email, dan telepon dari mana-mana—Australia, Amerika Serikat, Brasil, Afrika, Eropa—benar-benar dari seluruh dunia," katanya.
"Apresiasi global ini membuat saya sangat bangga. Ini mewakili puncak dari kerja keras dan ketahanan selama bertahun-tahun sekaligus menyoroti negara saya, budaya saya, dan keahlian kami."
Ia juga membuka pemesanan untuk setelan jas dan tas yang serasi melalui situs web merek tersebut. Ia telah menerima lebih dari 100 pesanan.
Â
Â
Â
Â
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316854/original/006178900_1785992062-Screenshot_2026-08-06_113022.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316905/original/064384100_1785995980-cek_fakta_luhut.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306409/original/068173500_1784877920-cek_fakta_-_pendaftaran_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5560136/original/057890300_1776659894-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-20T113652.901.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263830/original/028026800_1782019568-timnas_kongo.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5221927/original/048236500_1747377679-75th-FIFA-Congress.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4007081/original/085437700_1650961647-20220426-PPATK-Ivan-Yustiavandana-10.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289006/original/057664800_1783383743-balogun.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4473583/original/010189000_1687242103-Emi_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5556676/original/076947400_1776291207-000_A7XX4PU.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8650687/original/066270800_1782664551-South_Korea_head_coach_Hong_Myung-bo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8476989/original/007377700_1782387801-000_B88X9RV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297039/original/031145700_1784067029-fran5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5543975/original/079501300_1775041828-Iran_vs_Nigeria_dan_Bolivia-3.jpg)