Preliminary Pemilihan Puteri Indonesia 2026, Gaya 10 Finalis dengan Gaun Malam Unik Penuh Makna

Sepuluh finalis Puteri Indonesia 2026 tampil memukau di babak preliminary dengan gaun unik penuh makna, memadukan budaya, elegansi, dan identitas diri.

Diterbitkan 24 April 2026, 03:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Preliminary Puteri Indonesia 2026 menjadi salah satu tahapan krusial dalam rangkaian pemilihan Puteri Indonesia tahun ini. Agenda ini digelar pada Selasa, 21 April 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, di Ballroom Kuningan City Mall, Jakarta. 

Dalam tahap awal ini, 45 finalis dari 34 provinsi mengikuti proses penjurian untuk memperebutkan tempat di babak semifinal. Para finalis menampilkan kemampuan terbaik mereka melalui sesi bakat, pemahaman budaya, hingga peragaan gaun malam, mengutip keterangan di akun media sosial Dewan Pembina Puteri Indonesia, Putri Kusuma Wardani, Kamis, 23 April 2026.

Sesi preliminary menjadi momen penting karena memperlihatkan bagaimana para finalis mempresentasikan diri secara utuh di atas panggung. Pada tahap ini, setiap peserta berusaha menunjukkan identitas, karakter, dan visi yang mereka bawa sebagai representasi daerah. Tahap ini juga menjadi bagian dari proses penilaian untuk masuk ke babak selanjutnya.

Peragaan gaun malam menjadi salah satu segmen yang menarik perhatian. Para finalis tampil mengenakan gaun yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga mengandung cerita dan filosofi mendalam. 

Dengan konsep yang kuat dan presentasi yang matang, para finalis berhasil menciptakan 'a walk to remember' yang memikat perhatian penonton dan juri. Berikut 10 finalis yang tampil mencuri perhatian dengan gaun unik mereka:

1. Agnes Rahajeng – Banten

Agnes Rahajeng tampil dengan gaun yang terinspirasi dari kristal merah langka yang terbentuk di bawah tekanan ekstrem. Gaun ini didominasi warna merah yang melambangkan gairah dan kekuatan, dipadukan dengan sentuhan putih dan hitam sebagai simbol keseimbangan serta kejernihan dalam mengambil keputusan. Desainnya dilengkapi cape panjang yang mengalir lembut, menciptakan siluet anggun saat ia melangkah di atas panggung.

Menurut Agnes dalam caption di akun media sosialnya @agnesrahajeng, gaun ini merepresentasikan perjalanan hidupnya yang penuh tantangan, yang membentuk karakter yang lebih kuat dan tangguh. Ia menyampaikan bahwa setiap detail dalam busana tersebut mencerminkan proses pertumbuhan diri. Secara keseluruhan, gaun Agnes memadukan estetika dramatis dengan makna emosional yang dalam, menjadikannya salah satu penampilan yang berkesan di malam preliminary.

2. Karina Moudy – DKI Jakarta 3

Karina Moudy menghadirkan gaun bertema The Magical of Ondel-Ondel yang terinspirasi dari budaya Betawi. Gaun ini didominasi warna hitam yang merepresentasikan sisi gelap kehidupan, namun juga menegaskan bahwa dalam kegelapan selalu ada kekuatan yang melindungi. Elemen desainnya mengambil bentuk ondel-ondel serta motif gigi balang khas Betawi, yang dipadukan dengan tekstil tradisional.

Dalam caption di akun media sosialnya @karinamoudy, ia menjelaskan bahwa ondel-ondel secara historis dipercaya sebagai penjaga yang mengusir energi negatif. Melalui gaun ini, ia ingin mengangkat makna tersebut ke dalam konteks modern, bahwa kekuatan tidak selalu terlihat secara kasat mata.

Detail yang halus serta struktur gaun yang tegas menciptakan kesan elegan sekaligus kuat. "Saya ingin menunjukkan bahwa perempuan bisa menjadi pelindung, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi lingkungan sekitarnya," ungkap Karina.

3. Victoria Kosasieputri – Bali

Victoria tampil memukau dengan gaun bertema Ratu Mas Subandar – Praba Linting Kencana. Gaun berwarna merah dan emas ini mencerminkan kemegahan, kemakmuran, dan keanggunan perempuan Nusantara. Efek kilau emas pada gaun memberikan kesan cahaya yang hidup dan dinamis, seolah menggambarkan energi yang terus mengalir.

Victoria menyebut bahwa gaun ini merupakan simbol kekuatan perempuan yang tidak pernah padam. Desainnya menonjolkan siluet elegan dengan detail mewah yang memperkuat kesan regal. Gaun ini tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga membawa pesan spiritual dan budaya yang kuat, menjadikannya salah satu highlight di panggung preliminary.

4. Ayu Sulistiani – Sumatera Selatan

Ayu Sulistiani mengenakan gaun bertajuk Heritage of Sriwijaya yang terinspirasi dari kejayaan peradaban maritim Sriwijaya. Gaun ini memadukan warna merah yang kuat dengan elemen budaya seperti tanggai Palembang yang dikenakan di jari sebagai simbol kehormatan dan kehalusan budi.

Ayu menjelaskan bahwa gaun ini merupakan representasi warisan budaya yang tetap hidup hingga kini. Ia juga mengaitkan desain tersebut dengan nilai-nilai luhur dari Candi Borobudur sebagai simbol kebesaran Nusantara. Gaun ini menonjolkan kemegahan sekaligus keanggunan, dengan detail yang memperkuat identitas budaya Sumatera Selatan.

 

5. Melisa Foris – Nusa Tenggara Timur

Melisa Foris tampil dengan gaun bertema Mutiara dari Timur. Gaun ini terinspirasi dari kisah seorang gadis dari Maumere yang berani keluar dari keterbatasan untuk meraih impian. Desainnya menggambarkan transformasi dari sesuatu yang sederhana menjadi berharga, seperti mutiara.

Melisa menyampaikan bahwa gaun ini melambangkan harapan dan keberanian. Gaun tersebut memadukan elemen lembut dan elegan dengan nuansa yang hangat, menciptakan kesan emosional yang kuat di atas panggung.

6. Gisela Thesa – DKI Jakarta 2

Gisela mengenakan gaun bertema The Vermilion Phoenix – Reign of Fire yang terinspirasi dari burung phoenix. Gaun ini didominasi warna merah dan emas yang mencerminkan keberanian, keanggunan, dan semangat yang terus menyala.

Menurut Gisela, phoenix adalah simbol transformasi dan harapan baru. Desain gaun ini menonjolkan siluet dramatis dengan detail yang menyerupai sayap, memberikan kesan kuat dan dinamis.

7. Louisa Mahuze – Papua Selatan

Louisa menghadirkan konsep gaun yang terinspirasi dari alam Papua, khususnya hutan sebagai simbol kehidupan. Ia menekankan bahwa seorang perempuan bukan hanya mengenakan mahkota, tetapi juga bertanggung jawab menjaga lingkungannya.

Louisa menyampaikan dalam caption di akun media sosialnya @louisa.mahuze, bahwa gaun ini adalah bentuk penghormatan terhadap alam dan identitas Papua. "Kerajaan saya adalah hutan Papua yang indah," ujarnya. Desainnya menampilkan unsur natural yang kuat dengan sentuhan elegan.

8. Natasya Palasa – Sumatera Utara

Natasya tampil dengan gaun The Blue Symphony of Toba yang terinspirasi dari keindahan Danau Toba. Warna biru mendominasi, mencerminkan ketenangan sekaligus kekuatan.

Ia menjelaskan bahwa gaun ini adalah penghormatan bagi perempuan Indonesia yang tangguh. "Seperti Danau Toba, perempuan tetap kuat meski menghadapi berbagai tantangan," katanya. Desainnya menonjolkan kesan lembut namun berkarakter.

9. Rayya Haq – Jawa Timur

Rayya mengenakan gaun bertema Sanjivani Dahana Paksi yang terinspirasi dari mitologi burung api Bromodedali. Sanjivani berarti yang menghidupkan kembali, Dahana adalah api atau nyala, dan Paksi berarti burung. Gaun ini melambangkan kebangkitan dan transformasi.

Rayya menyampaikan bahwa gaun ini merepresentasikan perempuan yang tidak mudah menyerah. "Setiap jatuh adalah awal untuk bangkit lebih kuat," ujarnya. Detail motif batik tembakau dan kopi memperkuat identitas Jawa Timur.

10. Angelina Meryciana – Gorontalo

 

Angelina tampil dengan gaun yang merepresentasikan kebanggaan terhadap daerah asalnya. Ia menekankan bahwa perjalanan di panggung preliminary adalah bagian dari perjalanan yang lebih besar.

Menurut Angelina, gaun yang ia kenakan mencerminkan identitas dan rasa syukur. "Saya membawa kebanggaan daerah saya di setiap langkah," katanya. Desainnya sederhana namun penuh makna, menonjolkan keanggunan yang autentik.