Kapal Penyeberangan Chao Phraya Thailand Terancam Setop Beroperasi Buntut Perang Iran

Perang Iran vs Israel dan AS memicu kenaikan harga bahan bakar dunia, termasuk solar, yang dipergunakan kapal penyeberangan di Sungai Chao Phraya, Thailand.

Diterbitkan 27 Maret 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perang Iran vs Israel dan AS (Amerika Serikat) yang belum menunjukkan tanda mereda terus berdampak panjang pada sektor transportasi di Asia Tenggara. Terbaru, layanan kapal penyeberangan Sungai Chao Phraya di Thailand terancam dihentikan karena harga solar yang melambung tinggi, sekitar 35 baht (sekitar Rp18 ribuan) per liter.

Mengutip The Nation Thailand, Kamis (26/3/2026), Direktur Pelaksana Chao Phraya Express Boat Ltd (CPX), Charoenporn Charoentham mengatakan perusahaannya terancam mengurangi layanan atau bahkan menghentikan operasinya jika harga bahan bakar tidak segera dikendalikan. 

"Harga solar seharusnya tidak melebihi 32 baht per liter agar kami dapat bertahan dan terus mempertahankan tarif," katanya. Meski harga solar naik, layanan kapal masih memberlakukan tarif lama, yakni sejak harga solar naik 29 baht per liter. Rinciannya:

Kapal berbendera Oranye: 16 baht (sekitar Rp8.300)

Kapal berbendera Kuning: 21 baht (sekitar Rp10.900)

Hal itu memperparah situasi karena jumlah penumpang, baik pekerja dan wisatawan, menurun. Menurut Charoentham, sebagian penurunan disumbang oleh kebijakan pemerintah yang mengimbau para pekerja untuk bekerja dari rumah. Perilaku perjalanan wisatawan juga telah bergeser, dengan penumpang semakin memilih alternatif seperti layanan kereta api, yang didukung pemerintah melalui pengurangan tarif sebagai bagian dari langkah-langkah penyesuaian biaya hidup.

 

Mengenai arahan kebijakan Kementerian Perhubungan Thailand tentang pengendalian tarif, Charoenporn mengatakan bahwa sebagai operator swasta, CPX tidak dapat menanggung kerugian jangka panjang. Jika diharuskan untuk membekukan tarif sementara biaya bahan bakar mendorong bisnis ke dalam defisit yang berkepanjangan, pihaknya tak memiliki pilihan lain selain menangguhkan layanan.

Opsi Jangka Panjang Pertahankan Layanan Kapal Penyeberangan Chao Phraya

"Kami adalah bisnis swasta. Jika kami beroperasi dengan kerugian, kami tidak dapat terus melakukannya. Jika kerugian bersifat jangka panjang, kami tidak akan tahu mengapa kami harus melanjutkannya," kata Charoenporn.

"Jika bersifat jangka pendek, kami masih dapat mempertimbangkannya. Tetapi jika kami harus menghentikan layanan karena kami tidak diizinkan untuk menyesuaikan tarif sementara kerugian bahan bakar terus berlanjut, masyarakat mungkin tidak akan terlalu terpengaruh karena transportasi sungai hanyalah salah satu pilihan."

Dalam jangka pendek, CPX berfokus pada penghematan biaya internal dan mengamankan stok bahan bakar untuk menjaga layanan tetap berjalan. Untuk jangka panjang, perusahaan sedang mempelajari kelayakan investasi pada kapal listrik untuk mengurangi ketergantungan pada minyak.

Perusahaan juga mempertimbangkan untuk mengurangi jumlah perjalanan jika harga bahan bakar tetap tinggi, meskipun perlu menilai dampaknya dengan cermat untuk menghindari penurunan permintaan.

Thai Airways Umumkan Kenaikan Harga Tiket Pesawat

Sebelumnya, maskapai nasional Thailand, Thai Airways, mengumumkan rencana kenaikan harga tiket pesawat buntut kenaikan harga bahan bakar jet lebih dari dua kali lipat. Harga bahan bakar jet melonjak dari sekitar USD 80 per barel sebelum konflik, menjadi USD 220.

Kepala Eksekutif THAI, Chai Eamsiri bahkan memprediksi harga bahan bakar bisa naik hingga USD 240 per barel jika perang itu terus berlanjut hingga dua bulan ke depan, yakni pada akhir Mei 2026. Situasi itu memaksa maskapai nasional Thailand itu menaikkan harga tiket pesawat rata-rata 10--15 persen agar bisa tetap bertahan.

"Kenaikan ini mencerminkan biaya riil, bukan oportunisme," kata Chai, melansir Bangkok Post, Senin, 23 Maret 2026. "Kami hanya bertujuan untuk menutupi biaya bahan bakar untuk memastikan kelangsungan hidup. Tanpa menaikkan tarif, perusahaan tidak dapat berlanjut."

Meskipun maskapai telah melakukan lindung nilai sekitar 50 persen dari konsumsi bahan bakarnya hingga Juni 2026, Chai mengatakan peningkatan lindung nilai pada tingkat saat ini akan berisiko karena harga telah kembali lebih tinggi. Perusahaan pun berisiko merugi jika harga bahan bakar kemudian turun.

Dibayangi Pembatalan Pemesanan Penerbangan

Lonjakan biaya juga memengaruhi permintaan. Pemesanan tiket di muka untuk liburan Songkran di pertengahan bulan depan telah melemah dibandingkan tahun lalu, terutama di kalangan penumpang jarak jauh yang bepergian ke Eropa dan Australia. Meskipun belum ada pembatalan massal, banyak penumpang menunda keputusan perjalanan dan menunggu situasi menjadi lebih jelas, katanya. 

Maskapai telah menerapkan penetapan harga dinamis dengan membatasi ketersediaan tiket murah, menaikkan tarif rata-rata sesuai dengan kondisi pasar, untuk membantu mengelola dampaknya. Maskapai juga sedang bersiap untuk meminta persetujuan dari Otoritas Penerbangan Sipil Thailand untuk memperkenalkan biaya tambahan bahan bakar yang lebih tinggi.

Jika disetujui, ia menyatakan bahwa maskapai dapat mengurangi tarif dasar untuk menyeimbangkan kenaikan keseluruhan dalam kisaran 10-15 persen. Chai mengatakan rencana darurat sedang disiapkan jika krisis berlanjut lebih jauh. Investasi yang tidak penting, termasuk pengadaan peralatan tertentu dan proyek penggantian, dapat ditunda untuk menjaga arus kas.

"Apa pun yang dapat dikurangi, ditunda, atau dibatalkan akan segera ditindaklanjuti," katanya.