Seniman Indonesia Bakal Tampil di Venice Biennale 2026, Pertama Usai 6 Tahun Absen

Venice Biennale 2026 akan dibuka untuk umum mulai 9 Mei 2026 dan berlangsung hingga 22 November 2026.

Diterbitkan 06 Maret 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia bakal mengirimkan kontingen seni ke Venice Biennale 2026. Rencananya ada 14 seniman atau perupa yang bakal memamerkan karyanya di ajang seni rupa bergengsi di dunia tersebut.

Momen itu merupakan kembalinya Indonesia setelah absen selama enam tahun terakhir. Dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, Jumat (6/3/2026), keikutsertaan itu menjadi bagian dari strategi diplomasi budaya dan penguatan soft power Indonesia di dunia lewat kekuatan seni dan budaya.

"Ini adalah satu kesempatan juga untuk promosi budaya kita karena banyak sekali talenta, bakat, dan juga tentu seniman budayawan yang hebat," jelas Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon di kantor Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) Jakarta.

Pameran utama Venice Biennale 2026 akan dibuka untuk publik pada 9 Mei 2026 dan berlangsung hingga 22 November 2026. Pada edisi kali ini, Paviliun Indonesia direncanakan berada di sebuah bangunan sekolah grafis di Venesia, Scuola Internazionale Di Grafica, berbeda dengan beberapa ajang sebelumnya yang menempati area utama.

Menteri Kebudayaan menunjuk Aminuddin TH Siregar, yang akrab disapa Ucok dan juga merupakan kurator Galeri Nasional Indonesia, sebagai kurator Paviliun Indonesia. Ucok menjelaskan bahwa konsep presentasi Indonesia juga akan menampilkan konteks sejarah dan visual seni rupa Indonesia melalui berbagai referensi grafis dan arsip visual.

"Gagasannya adalah memperlihatkan beberapa karya grafis yang terkait dengan Indonesia di masa lalu, termasuk buku-buku tua, litografi, dan berbagai materi visual lain yang dapat memberikan gambaran tentang perkembangan seni rupa Indonesia," jelasnya.

 

Seniman Terpilih Lewat Kurasi Ketat

Partisipasi Indonesia dalam Venice Biennale 2026 merupakan bagian dari penguatan ekosistem seni dalam kerangka Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya yang dikembangkan Kemenbud. Program ini mencakup lima ekosistem utama, yaitu sastra, seni rupa, seni pertunjukan, film, dan musik.

Proses pemilihan seniman yang akan mengikuti Venice Biennale 2026 telah dilakukan melalui kurasi yang ketat untuk menjaring talenta muda dan memperluas jejaring mereka di tingkat global. Selain karya para seniman, Paviliun Indonesia juga direncanakan menampilkan berbagai buku seni rupa Indonesia sebagai bagian dari ruang referensi selama pameran berlangsung.

Menbud menyampaikan bahwa kehadiran buku-buku tersebut dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan tradisi seni rupa Indonesia kepada pengunjung internasional. Melalui buku-buku tersebut, pengunjung dapat melihat kekayaan genre, gaya, dan mazhab seni rupa Indonesia yang sangat beragam.

Menbud juga menjelaskan bahwa seni rupa di Indonesia merupakan warisan tradisi nenek moyang. "Baru saja tanggal 22 Januari, lukisan purba tertua di dunia dinyatakan ada di Indonesia, umurnya 67.800 tahun. Jadi tradisi (seni rupa) itu bukan tradisi baru, tapi tradisi panjang yang ada di Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatra," paparnya.

MTN Seni Budaya

Sebelumnya, Kemenbud merevitalisasi pendekatan dan skema MTN Seni Budaya pada pertengahan 2025. Tidak sampai satu tahun, MTN Seni Budaya mencatat capaian yang signifikan. MTN Seni Budaya telah menjangkau 36.990 peserta yang terlibat dalam kegiatan pra-pembibitan, bekerja sama dengan 200 mitra sanggar, komunitas, festival, dan market di dalam dan luar negeri.

Sebanyak 5.711 talenta masuk dalam trajektori MTN, 208 program terlaksana bersama mitra, 116 talenta memperoleh rekognisi internasional, serta menjangkau 19 negara dan 58 kota dan kabupaten di Indonesia. Capaian ini kemudian dirangkum dan dipresentasikan melalui MTN Wave, yang dikemas sebagai pertunjukan seni modern dan relevan, menampilkan talenta unggul dari lima bidang seni budaya: seni rupa, seni pertunjukan, musik, film, dan sastra.

Dirancang oleh Direktur Kreatif Rangga Djoened, kelima bidang tersebut direpresentasikan sebagai gelombang yang bergerak bersama, memperlihatkan keterhubungan, dan pertumbuhan talenta seni budaya Indonesia lewat pertunjukan utama bertajuk Resonansa: Dari Titik Kecil Menjadi Gelombang Peradaban pada Rabu, 11 Februari 2026.

5 Pertunjukan Karya MTN Wave

Selain menghadirkan pertunjukan utama, MTN Wave turut menampilkan instalasi karya Sigit D. Pratama serta rangkaian karya lintas disiplin. Bidang seni rupa mengambil tajuk Rupa Mantra yang menampilkan karya Arifa Safura, Arsya Ardiansyah, Ben Suryo, F. Boy Sinaga, Juan Arminandi, Kezia Rantung, Riyan Kelana, Taufiqurrahman Kifu.

Bidang film pertunjukan berjudul Di Antara Tubuh, Ingatan, dan Kehilangan yang melibatkan Lola Amaria, serta karya Khozy Rizal, Felix K. Nesi, Rein Maychaelson, Yosef Levi. Bidang pertunjukan karya berjudul Tumbuh di Atas Jerami dengan penampil Aditya Warman, Daniel S. Pambudi, Dendi Wardiman, Densiel Lebang, Uni Tati (Hartati), Davit Fitrik, Fazri Arif Sahputra, Maria Bernadeta, Menthari Ashia, Taufik Adam, Try Anggara.

Bidang sastra bertajuk Siklus Suara yang akan diisi oleh Bongso Temmar, Lala Bohang, Reda Gaudiamo, Tara Febriani, Theoresia Rumthe. Turut memberikan dukungan terhadap MTN Seni Budaya adalah penulis sekaligus talenta unggul, Dewi Dee Lestari. Pertunjukan ditutup bidang musik dengan judul Simfoni Khatulistiwa yang menampilkan karya Basboi, Djangat Indonesia, Giring Fitrah, Gondrong Gunarto, Kunto Aji, Parasirama, Tsai. Seluruhnya dipandu Lukman Sardi sebagai narator yang merajut narasi tentang perjalanan talenta seni budaya Indonesia.

Â