12 Camilan Khas Imlek 2026 Paling Populer, Simbol Kebahagiaan dan Keberuntungan

Di antara berbagai sajian, camilan khas Imlek memegang peranan penting, bukan hanya sebagai pengisi perut melainkan sebagai simbol harapan dan doa.

Diterbitkan 05 Februari 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perayaan Tahun Baru China selalu identik oleh tradisi makan bersama keluarga, di mana camilan khas Imlek hadir sebagai pelengkap suasana hangat penuh makna. Sajian ringan ini bukan sekadar hidangan pendamping, melainkan bagian dari budaya turun-temurun penuh simbol harapan, doa baik dan filosofi kehidupan. Setiap camilan membawa cerita tersendiri terkait keberuntungan, kebahagiaan, hingga rezeki pada awal tahun.

Dalam setiap rumah, camilan khas Imlek kerap disusun rapi di meja tamu sebagai simbol penyambutan tamu serta wujud rasa syukur. Aneka rasa manis, legit, hingga gurih mencerminkan harapan hidup harmonis sepanjang tahun. Tradisi menyajikan camilan ini juga mempererat hubungan antar anggota keluarga melalui momen berbagi cerita serta tawa.

Keunikan camilan khas Imlek terletak pada makna filosofis di balik bentuk, warna, maupun bahan pembuatannya. Warna merah melambangkan keberuntungan, bentuk bulat merepresentasikan keutuhan, sementara rasa manis menjadi lambang kehidupan penuh kebahagiaan. Nilai simbolis inilah menjadikan camilan Imlek terasa istimewa dibanding kudapan hari biasa.

Tak heran bila camilan khas Imlek selalu dinanti setiap tahunnya, baik oleh masyarakat Tionghoa maupun lintas budaya. Berikut ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Kamis (5/2/2026).

1. Kue Keranjang

Kue Keranjang dikenal sebagai salah satu sajian paling ikonik dalam perayaan Tahun Baru Imlek dan hampir selalu hadir di setiap rumah. Dalam bahasa Mandarin, camilan ini disebut Nian Gao (年糕), sementara dalam dialek Hokkian dikenal sebagai Ti Kwe (甜棵). Penamaan tersebut tidak sekadar nama, melainkan mengandung filosofi mendalam tentang harapan hidup yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, Kue Keranjang melambangkan keberuntungan, kelimpahan rezeki, serta peningkatan kesejahteraan keluarga. Menyantap kue ini dipercaya membawa doa agar kehidupan di tahun baru berjalan lebih baik, penuh kebahagiaan, serta kesuksesan dalam berbagai aspek. Kue ini terbuat dari tepung ketan dan gula, menghasilkan tekstur kenyal dan lengket. Sifat lengket tersebut dimaknai sebagai simbol eratnya ikatan keluarga, kebersamaan, serta keharmonisan yang diharapkan terus terjaga sepanjang tahun.

2. Kuaci

Kuaci merupakan camilan sederhana yang kerap menemani suasana santai saat perayaan Imlek. Meskipun terlihat sederhana, kuaci memiliki makna simbolis yang sangat kuat dalam tradisi Tionghoa. Biji-bijian ini melambangkan keturunan yang banyak, keberlanjutan generasi, serta harapan akan keluarga yang besar dan harmonis.

Kuaci biasanya dinikmati sambil berbincang santai bersama keluarga atau tamu, sering ditemani minuman hangat seperti teh. Aktivitas memecah kuaci juga menciptakan suasana akrab dan penuh kehangatan. Rasa gurih dan teksturnya yang renyah menjadikan kuaci sebagai camilan favorit lintas usia, sekaligus simbol kebersamaan dalam momen perayaan.

3. Tang Yuan

Tang yuan merupakan hidangan berbentuk bulat yang memiliki makna mendalam tentang keutuhan dan keharmonisan keluarga. Bentuknya yang bulat melambangkan kebersamaan, persatuan, serta hubungan keluarga yang utuh tanpa perpecahan.

Hidangan ini sering disantap bersama saat momen penting dalam perayaan Imlek. Menyantap tang yuan dipercaya dapat mempererat hubungan antaranggota keluarga dan membawa suasana hangat, damai, serta penuh kebahagiaan di awal tahun.

 

 

4. Lapis Legit

Lapis legit termasuk camilan khas Imlek yang sarat akan filosofi kehidupan. Kue ini melambangkan rezeki yang berlapis-lapis dan terus bertambah seiring waktu. Lapisan demi lapisan pada kue dianggap mencerminkan proses kehidupan, di mana keberhasilan dan kesejahteraan dibangun secara bertahap melalui usaha yang konsisten.

Lapis legit dibuat dari campuran kuning telur, gula, dan tepung terigu, lalu dipanggang berulang kali untuk membentuk setiap lapisan. Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian tinggi, kesabaran, dan waktu yang tidak singkat. Hal tersebut menyiratkan pesan bahwa hasil manis dalam hidup tidak datang secara instan, melainkan melalui kerja keras, ketekunan, serta kesabaran yang berkelanjutan.

5. Kurma Merah

Kurma merah menjadi salah satu makanan yang hampir selalu hadir dalam tradisi Imlek. Buah ini sering disajikan sebagai camilan, campuran hidangan, maupun bahan minuman tradisional. Warna merah pada kurma memiliki makna simbolis yang kuat, melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, serta energi positif.

Dalam tradisi Tionghoa, kurma merah juga melambangkan permulaan yang baik dan harapan akan kehidupan baru yang lebih sejahtera. Oleh sebab itu, buah ini kerap digunakan dalam berbagai perayaan penting sebagai simbol doa dan harapan baik di awal tahun.

6. Onde-onde Wijen

Onde-onde wijen merupakan camilan berbahan dasar tepung ketan berisi pasta kacang hijau, lalu dilapisi biji wijen di bagian luarnya. Saat digoreng, onde-onde akan mengembang dan menghasilkan tekstur renyah di luar serta lembut di dalam.

Dalam konteks perayaan Imlek, onde-onde wijen melambangkan kelimpahan rezeki dan pertumbuhan. Bentuknya yang bulat dan mengembang dipercaya sebagai simbol kemakmuran, keberuntungan, serta kehidupan yang terus berkembang ke arah lebih baik.

7. Wonton

Wonton memiliki bentuk menyerupai kantong emas pada masa Dinasti Tiongkok kuno. Bentuk ini menjadikan wonton sebagai simbol kekayaan, kemakmuran, serta kesejahteraan.

Penyajian wonton dalam perayaan Imlek mengandung doa agar tahun baru membawa kehidupan yang lebih makmur, rezeki berlimpah, serta keberhasilan dalam berbagai aspek. Selain makna simbolisnya, wonton juga menjadi hidangan favorit karena rasanya yang lezat dan menghangatkan.

 

8. Kue Ku

Kue ku dikenal luas sebagai salah satu camilan khas Imlek yang sarat akan makna simbolis. Bentuknya menyerupai tempurung kura-kura, hewan yang dalam budaya Tionghoa dipercaya melambangkan umur panjang, ketahanan hidup, serta kesehatan yang berkelanjutan. Warna merah terang pada kue ku juga memiliki arti penting, karena merah dianggap sebagai warna pembawa keberuntungan, kebahagiaan, dan perlindungan dari energi negatif.

Kue ini terbuat dari tepung ketan yang diolah hingga menghasilkan tekstur lembut dan kenyal, lalu diisi pasta kacang hijau halus bercita rasa manis. Kombinasi bentuk, warna, serta rasa menjadikan kue ku sebagai simbol doa agar keluarga diberikan kesehatan, umur panjang, kehidupan yang stabil, dan keharmonisan sepanjang tahun baru.

9. Manisan

Manisan memiliki peran penting dalam tradisi Imlek sebagai simbol kehidupan yang manis, penuh kebahagiaan, dan harapan baik. Kehadiran manisan di meja perayaan melambangkan doa agar perjalanan hidup di tahun baru dipenuhi kegembiraan, keberuntungan, serta suasana positif dalam keluarga.

Beragam jenis manisan dan permen biasanya disajikan untuk menciptakan nuansa ceria dan hangat saat berkumpul bersama sanak saudara. Rasa manis dari manisan dipercaya menjadi pertanda awal tahun yang baik, membawa energi positif, serta menjadi pengingat agar kehidupan dijalani dengan hati yang penuh syukur dan kebahagiaan.

10. Kue Mangkuk

Kue Mangkuk atau Fa Gao (发糕) merupakan kue tradisional yang memiliki makna keberuntungan dan kemakmuran. Kata “Fa” dalam bahasa Mandarin berarti berkembang atau makmur, sehingga kue ini melambangkan pertumbuhan rezeki, peningkatan usaha, dan kesuksesan di berbagai bidang kehidupan.

Kue Mangkuk dipercaya membawa berkah serta harapan agar pekerjaan, usaha, dan kehidupan keluarga terus berkembang sepanjang tahun. Bentuknya yang merekah saat dikukus menjadi simbol kebahagiaan dan kemakmuran yang terus bertumbuh, menjadikan kue ini sebagai salah satu sajian penting dalam perayaan Imlek.

11. Puding Nasi Delapan Bentuk

Puding Nasi Delapan Bentuk atau Ba Bao Fan (八宝饭) merupakan hidangan penutup khas Imlek berbahan dasar nasi ketan lengket. Hidangan ini biasanya disajikan dalam bentuk mangkuk dan dihias delapan jenis bahan pilihan seperti kurma merah, biji teratai, kismis, chestnut, serta manisan kulit jeruk.

Angka delapan dipercaya membawa keberuntungan dalam budaya Tionghoa, sehingga setiap bahan dalam hidangan ini memiliki makna simbolis tentang umur panjang, keharmonisan, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Puding ini sering dijadikan penutup perayaan sebagai simbol doa terbaik bagi keluarga agar tahun baru dipenuhi berkah dan kebahagiaan.

12. Mie Panjang Umur

Mie Panjang Umur atau Siu Mie menjadi salah satu hidangan wajib dalam perayaan Imlek. Hidangan ini melambangkan panjang usia, kesehatan, serta kesejahteraan yang berkelanjutan bagi siapa pun yang menyantapnya.

Dalam tradisi Tionghoa, mie panjang umur tidak boleh dipotong saat dimasak, disajikan, maupun dimakan. Keutuhan mie tersebut mencerminkan doa agar kehidupan berjalan panjang, utuh, lancar, dan penuh kebahagiaan sepanjang tahun yang baru.

FAQ Seputar Topik

Apa makna kue keranjang dalam perayaan Imlek?

Kue keranjang melambangkan harapan agar keluarga selalu bersatu dan rukun karena teksturnya yang kenyal dan lengket. Bentuknya yang bulat juga melambangkan keutuhan dan tekad yang bulat dalam menghadapi tahun baru.

Mengapa kue mangkok disebut "kue kemakmuran"?

Kue mangkok disebut "kue kemakmuran" karena bentuk kelopak bunganya yang mekar melambangkan rezeki yang sedang berkembang dan kemakmuran yang melimpah.

Apa filosofi di balik kue lapis legit saat Imlek?

Kue lapis legit melambangkan keberuntungan dan kemakmuran yang berlapis-lapis, dengan kepercayaan bahwa semakin banyak lapisan, semakin berlimpah pula rezeki yang akan didapatkan.

Apa saja makna simbolis dari isi manisan segi delapan?

Manisan segi delapan berisi berbagai manisan yang melambangkan kesehatan (melon), keberuntungan dan kemakmuran (jeruk kumquat), kebersamaan (kelapa kering), banyak anak (kelengkeng), kesuburan (biji teratai), dan panjang umur (kacang tanah).