Bangkok Darurat Polusi Udara Akibat Pembakaran Limbah Pertanian, Warga Diminta WFH 2 Hari

Selama beberapa hari, tingkat polusi udara mencapai level tertinggi di Bangkok, Thailand. Kadar PM2.5 meningkat pesat, terutama di pagi hari.

Diterbitkan 29 Januari 2026, 03:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pada Rabu, 28 Januari 2026, Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt memperingatkan warganya tentang memburuknya polusi udara di seluruh Bangkok bagian timur dan sebagian Pathum Thani. Pemerintah kota pun meminta warganya bekerja dari rumah (work from home/WFH) selama dua hari, pada 29--30 Januari 2026.

Dikutip dari The Thaiger, Rabu, 28 Januari 2026, dalam konferensi pers di Dewan Metropolitan Bangkok, gubernur menyatakan kualitas udara di setidaknya empat distrik timur Bangkok berada di level merah. Ia mencatat bahwa kombinasi arah angin dan kondisi cuaca yang stagnan semalaman telah menyebabkan akumulasi partikel debu halus.

Mengutip citra satelit dan analisis ahli, Chadchart mengatakan pembakaran besar-besaran limbah pertanian seperti jerami padi dan sisa tanaman telah terdeteksi di daerah utara dan barat ibu kota. Area yang terbakar dilaporkan meluas dari 13.000 rai (20,8 juta meter persegi) menjadi hampir 20.000 rai (32 juta meter persegi) dalam waktu singkat.

Akibatnya kepulan asap tebal menyebar ke kota. Kadar PM2.5 pun meningkat pesat di sejumlah distrik seperti Nong Chok, Min Buri, Khlong Sam Wa, Khan Na Yao, dan Prawet, serta beberapa daerah di Pathum Thani, terutama pada pagi hari.

Ia menjelaskan bahwa fenomena cuaca yang dikenal sebagai inversi suhu, yang memerangkap udara dingin di dekat permukaan, mencegah partikel debu menyebar. Meskipun emisi dari lalu lintas tetap menjadi faktor, sumber utama lonjakan polusi saat ini tampaknya berasal dari pembakaran biomassa di dekatnya.

 

 

Warga Disarankan Tak Beraktivitas di Luar Rumah

Chadchart menekankan bahwa Pemerintah Metropolitan Bangkok (BMA) tidak menyalahkan kelompok mana pun, tetapi justru bekerja sama erat dengan provinsi-provinsi tetangga untuk mengatasi akar penyebabnya. Ia menyerukan dukungan tambahan bagi petani untuk menemukan alternatif selain pembakaran terbuka, seperti menggunakan mikroorganisme untuk menguraikan limbah atau menggunakan mesin seperti mesin pengepak jerami.

Meskipun sekolah tetap buka dengan protokol keselamatan yang ada, pihak berwenang menyarankan kelompok rentan di daerah yang terdampak untuk menghindari aktivitas di luar ruangan dan mengenakan masker pelindung. Distrik-distrik setempat juga dapat menyesuaikan langkah-langkah mereka berdasarkan kondisi terkini.

Gubernur menambahkan bahwa BMA akan terus memantau cuaca, titik-titik rawan polusi, dan arah angin secara cermat, serta menjaga koordinasi dengan provinsi-provinsi terdekat untuk meminimalkan dampak kesehatan. Prakiraan menunjukkan bahwa tingkat PM2.5 akan mencapai tingkat peringatan oranye di lebih dari 35 distrik, yang menimbulkan risiko kesehatan.

Kebakaran Hutan di Kalimantan Barat

Dari dalam negeri, kebakaran hutan juga mulai terjadi di Kalimantan Barat di awal 2026, meski wilayah lain di Indonesia mengalami musim hujan. Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan, Seksi Wilayah II Pontianak bersama BPBD, TNI/Polri dan para pihak terus melakukan upaya pemadaman kebakaran hutan khususnya di Kubu Raya, Sambas, Mempawah, dan Ketapang.

 

Dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, berdasarkan pemantauan Kementerian Kehutanan, karhut di Provinsi Kalimantan Barat mulai terjadi sejak 17 Januari 2026. Melalui upaya pemadaman intensif yang dilakukan Manggala Agni Kalimantan Barat bersama para pihak, sejumlah lokasi telah berhasil dipadamkan dan dinyatakan aman pada Minggu 25 Januari 2026.

Daerah itu meliputi Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya; Desa Rasau Jaya Tiga, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya; Kelurahan Bansir Darat, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak; Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah; Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang; Desa Kemboja, Kecamatan Pulau Maya, Kabupaten Kayong Utara; Desa Sepenggan, Kecamatan Semparuk, Kabupaten Sambas; dan Desa Selakau Tua, Kecamatan Selakau Timur, Kabupaten Sambas.

25 Titik Panas di Kalbar

Hingga saat ini, Tim Daops Kalimantan Manggala Agni VIII/Pontianak bersama para pihak masih terus memadamkan kebakaran di sejumlah titik karhut baru, yaitu di Kelurahan Bansir Darat, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak; Desa Rasau Jaya Umum, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya; Desa Punggur Kecil dan Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya; serta Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah. Selain itu, Tim Daops Manggala Agni Kalimantan XI/Sintang juga masih berupaya memadamkan karhutla di Desa Kebong, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat.

"Untuk mengantisipasi peningkatan kerawanan karhutla, saat ini telah dimulai operasi patroli pencegahan di wilayah Kalimantan Barat. Patroli ini bertujuan untuk mendeteksi kondisi lapangan lebih awal, memperkuat koordinasi, serta mempercepat arus informasi dari masyarakat sehingga respons terhadap kejadian karhutla dapat dilakukan lebih cepat," kata Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho.

Ia juga menyampaikan bahwa patroli dilakukan untuk mengecek kondisi bahan bakar, potensi sumber air, serta isu-isu karhutla di masyarakat. Berdasarkan data Posko Pengendalian Kebakaran Hutan Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan, Ditjen Gakkum Kehutanan per 27 Januari 2026, hotspot dari Satelit TERRA/AQUA (MODIS NASA) dengan confidence level High pada Januari 2026 Kalbar 25 titik panas.