Kisah Madu Gila Langka dari Turki yang Mampu Tumbangkan Tentara dan Beruang

Madu yang dijuluki madu gila itu hanya diproduksi di dua lokasi, satu di Turki, lainnya di Nepal.

Diterbitkan 17 November 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Turki ternyata memiliki deli bal, yang bermakna madu gila dalam bahasa lokal. Wilayah Laut Hitam Turki merupakan satu dari dua tempat di dunia yang memproduksi madu langka itu. Satu lagi berlokasi di Pegunungan Hindu Kush Himalaya di Nepal.

Keunikan madu ini berasal dari sumber nektarnya. Lebah-lebah di hutan-hutan yang masih alami ini mengumpulkan nektar dari bunga Rhododendron ungu yang mekar di musim semi. 

Nektar tersebut mengandung racun alami yang disebut grayanotoxin. Jumlah toksin bervariasi tergantung musim dan bunga lain yang juga dihisap lebah. 

Selama ribuan tahun, deli bal telah digunakan sebagai obat tradisional, biasanya satu sendok sehari untuk menurunkan tekanan darah atau sebagai stimulan seksual. Kini, karena kelangkaan dan potensinya, madu ini dijual dengan harga premium.

"Di hutan kami yang masih alami, rhododendron ungu mekar di musim semi," kata Hasan Kutluata, seorang petani lebah di Pegunungan Kaçkar, Turki, kepada CNN, dilansir Minggu, 9 November 2025. "Lebah mengumpulkan nektar dari bunga-bunga itu, dan begitulah cara kami mendapatkan madu gila."

Deli bal memiliki karakteristik fisik yang sangat khas yang membedakannya dari madu biasa. Warnanya merah amber gelap pekat dan memiliki aroma yang tajam.

Saat dicicipi, rasanya didominasi nuansa earthy (khas tanah) dengan sedikit aroma kandang (barnyard notes). Namun, yang paling jelas menandakan kehadiran grayanotoxin adalah dua sensasi unik, rasa pahit herbal yang terasa di balik manisnya madu, serta sensasi panas terbakar yang menyengat di belakang tenggorokan.

 

Rasa Khas dan Bahaya di Balik Satu Sendok Madu

 

Kutluata mengungkapkan bahaya mengonsumsi madu gila. Satu sendok makan deli bal mungkin hanya akan memberikan sensasi mabuk ringan yang menenangkan, namun mengonsumsi satu stoples penuh bisa membuat seseorang berakhir di rumah sakit. 

Efeknya tidak melibatkan halusinasi, melainkan lebih ke gejala fisik yang tidak menyenangkan. Gejala keracunan deli bal meliputi pusing, tekanan darah rendah, sedikit demam, mual, dan kesulitan berjalan. 

Karena risiko ini, konsumsi deli bal sangat dibatasi. Biasanya, tidak lebih dari satu sendok teh atau satu sendok makan yang direkomendasikan. Kehati-hatian adalah kunci dalam mengonsumsi madu ini.

"Kita tidak boleh makan terlalu banyak. Jika kita makan lebih banyak, itu mungkin mempengaruhi kita," kata Kutluata. "Tidak ada halusinasi yang terlibat. Itu hanya menyebabkan pusing, tekanan darah rendah, sedikit demam, mual, dan kesulitan berjalan."

Madu ini bukan hanya sekadar makanan, tapi juga senjata biologis alami yang tercatat dalam sejarah pernah melumpuhkan pasukan. Pada abad ke-4 SM, seorang pemimpin militer Yunani, Xenophon, menulis tentang para prajuritnya yang melakukan perjalanan di dekat Trabzon di pantai Laut Hitam. 

 

Sejarah Kelam dan Pertarungan Melawan Beruang

Tentara berpesta dan mengonsumsi madu manis itu secara berlebihan. Akibatnya sangat fatal, tidak ada dari mereka yang bisa berdiri. Mereka yang makan sedikit tampak seperti orang yang sangat mabuk, sementara yang makan banyak tampak seperti orang gila, bahkan beberapa di antaranya seperti orang sekarat.

Ribuan tentara terbaring tak berdaya seolah-olah pasukan itu telah menderita kekalahan besar. Musuh kuno itu kini telah berganti wujud. Saat Kutluata selesai memanen dan kembali ke daratan, ia menarik tangga pondoknya. 

Benteng mini ini dirancang untuk melawan musuh yang berbeda, beruang yang juga tergila-gila pada madu. Panggung setinggi 10 kaki dan lapisan logam di tiang-tiangnya dirancang khusus untuk mencegah beruang memanjat. 

Kutluata tahu betul bahayanya, ia memiliki bekas luka di tangan dan kakinya setelah diserang beruang sekitar 20 tahun lalu. Beruang itu telah merampok sarangnya dan 'mabuk' deli bal sebelum menyerangnya.

"Apakah kami takut beruang atau tidak, kami harus melakukan pekerjaan ini," katanya. "Kami akan terus beternak lebah. Kami bertemu beruang hampir setiap hari. Setiap kali kami naik gunung, kami bertemu beruang."

Kehidupan Murni di 'Desa Lebah'

Kutluata dan keluarganya tinggal di dekat desa Yaylacılar, tidak jauh dari Arili Köyü yang secara tepat berarti "desa lebah". Mereka adalah keluarga peternak lebah tiga generasi. 

Lingkungan tempat mereka tinggal sangat murni. Udaranya sejuk di musim panas, tidak ada nyamuk, dan tidak ada kebisingan kota. Emine, istri Kutluata, menjelaskan bahwa kemurnian lingkungan ini, alam, ketinggian, dan tidak adanya permukiman, memainkan peran besar dalam kualitas madu yang mereka hasilkan.

Deli bal hanyalah salah satu madu yang mereka budidayakan. Setelah rhododendron ungu, bunga kastanye putih mekar, diikuti oleh rhododendron putih. Kutluata menjelaskan bahwa kualitas madu ditentukan oleh "nilai promille," yang mengacu pada konsentrasi madu. 

Semakin tinggi nilainya, semakin tinggi kualitasnya. Bagi keluarga ini, madu adalah kebutuhan pokok sarapan, dicampur dengan mentega dan dioleskan di atas roti, dan juga obat. Bagi Emine, madu melambangkan kesehatan untuk sakit tenggorokan, batuk, atau saat merasa lemah. Bagi Kutluata, lebah itu sendiri bersifat restoratif bagi kesehatan mental.