Pesawat United Airlines Putar Balik di Tengah Penerbangan Gara-Gara Laptop

Keputusan pesawat putar balik diambil sebagai langkah pencegahan atas potensi bahaya yang bisa ditimbulkan laptop tersebut.

Diterbitkan 03 November 2025, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah insiden tidak biasa memaksa penerbangan United Airlines membatalkan perjalanannya melintasi Samudra Atlantik dan kembali ke bandara asal. Penyebabnya bukan kerusakan mesin atau masalah teknis serius, melainkan sebuah laptop penumpang yang jatuh ke tempat tidak terjangkau. 

Melansir People, Jumat, 31 Oktober 2025, menurut FlightAware, pesawat jenis Boeing 767 ini sedang dalam perjalanan dari Washington Dulles menuju Roma, Italia, pada Rabu, 15 Oktober 2025. Ketika berada di lepas pantai Amerika Serikat (AS), sekitar 161 kilometer di tenggara Boston, pilot mengambil keputusan krusial untuk berputar balik.

Keputusan ini diambil sebagai langkah pencegahan atas potensi bahaya yang bisa ditimbulkan laptop tersebut. Insiden ini menyoroti betapa protokol keselamatan penerbangan modern yang harus memperhitungkan risiko dari perangkat elektronik pribadi yang kini jadi bagian tidak terpisahkan dari perjalanan udara. 

"Kami memiliki masalah kecil di sini, di mana seorang penumpang entah bagaimana menjatuhkan laptopn yang tadinya menyala ke dinding samping pesawat dan masuk ke area bagasi pesawat," ucap pilot.

Kejadian ini jadi pengingat bahwa di dalam kabin pesawat, benda sekecil laptop pun bisa jadi sumber kekhawatiran besar jika berada di tempat yang salah dan pada waktu yang tidak tepat. Penerbangan UA126 lepas landas dari Bandara Internasional Dulles pukul 22,22, waktu setempat. 

Semua tampak normal hingga kurang dari satu jam setelah mengudara, seorang penumpang melaporkan bahwa laptop miliknya terjatuh dan menghilang. Situasi jadi rumit karena laptop tersebut dalam keadaan menyala saat terjatuh. Awak kabin yang berusaha mencarinya tidak dapat melihat atau mengakses perangkat itu sama sekali. 

 

 

Dilema Pilot dan Keputusan Kritis

Kehilangan sebuah laptop mungkin terdengar sepele, namun bagi kru penerbangan yang terlatih, hilangnya perangkat elektronik aktif di area tersembunyi merupakan sebuah potensi ancaman keselamatan yang harus segera ditangani dengan serius sebelum melanjutkan perjalanan ribuan kilometer di atas air.

Menghadapi situasi yang tidak terduga ini, pilot segera menghubungi menara pengawas lalu lintas udara (ATC) di Boston untuk melaporkan masalah tersebut. Dalam rekaman percakapan yang dirilis, pilot dengan tenang menjelaskan bahwa ini adalah "situasi kecil."

Ia menegaskan, kru tidak dapat melihat atau mengetahui status laptop tersebut. Dengan pertimbangan matang, pilot memutuskan kembali ke Dulles demi menemukan laptop itu sebelum melanjutkan penerbangan melintasi samudra. 

Ancaman Tersembunyi Baterai Lithium-Ion

Petugas ATC terdengar terkejut dan merespons, "Saya belum pernah mendengar hal seperti itu sebelumnya. Cerita yang bagus untuk dikisahkan di ruang santai pilot." 

Alasan utama di balik keputusan pilot putar balik adalah risiko terkait baterai lithium-ion di dalam laptop. Baterai jenis ini, yang umum digunakan pada perangkat elektronik, dapat jadi sangat berbahaya jika rusak atau mengalami panas berlebih, karena berpotensi memicu kebakaran.

Masalah terbesar dalam insiden ini adalah lokasi laptop di ruang kargo. Ini merupakan sebuah area pada pesawat Boeing 767 yang tidak dilengkapi sistem pemadam kebakaran seperti pada kompartemen kargo utama.

Jika baterai laptop mengalami korsleting dan terbakar di area tersebut, api akan sulit dideteksi dan lebih sulit lagi untuk dipadamkan. Risiko kebakaran yang tidak terkendali di tengah penerbangan di atas lautan adalah skenario mimpi buruk bagi setiap maskapai.

Penanganan di Darat dan Dampak Keterlambatan

Setelah mendapat izin dari ATC, pesawat berbelok arah dan mendarat kembali dengan selamat di Bandara Dulles sekitar pukul 00.35, waktu setempat, sedikit lebih dari dua jam setelah lepas landas. Di darat, tim perawatan dari United Airlines segera naik ke pesawat untuk memulai pencarian. 

Mereka akhirnya berhasil menemukan dan mengambil laptop dari ruang kargo. Setelah perangkat diamankan dan pesawat menjalani inspeksi menyeluruh untuk memastikan tidak ada masalah lain, penerbangan akhirnya diizinkan berangkat kembali menuju Roma. 

Pesawat lepas landas untuk kedua kalinya pukul 03.30 dini hari. Akibat insiden ini, seluruh penumpang mengalami penundaan yang cukup lama. Menurut Badan Penerbangan Federal AS (FAA) pesawat akhirnya tiba di Roma sekitar empat setengah hingga lima jam lebih lambat dari jadwal semula.Â