Tak Hanya Anabul, Serangga Juga Jadi Hewan Peliharaan Favorit Masyarakat Jepang

Serangga di Jepang menjadi media unik untuk memahami budaya, pendidikan, dan peran penting dalam menjaga keseimbangan alam.

Diterbitkan 14 Agustus 2025, 02:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di Jepang, serangga menjadi hewan peliharaan yang sangat populer, setara dengan kucing dan anjing. Tradisi ini sudah berlangsung sejak era Heian, yang tercermin dalam karya sastra klasik seperti The Tale of Genji.

Melansir Japan Today, Senin, 11 Agustus 2025, sampai sekarang, serangga tetap mendapat tempat khusus dalam budaya Jepang, termasuk di manga populer seperti Mushishi. Masyarakat Jepang mengagumi keindahan serangga, misalnya kunang-kunang yang bersinar di taman pada malam hari atau suara jangkrik yang menenangkan ketika dipelihara dalam kandang kecil.

Selain menikmati keindahan dan suara serangga, masyarakat Jepang juga menyediakan makanan khusus bagi hewan kecil ini, seperti jeli khusus yang bisa dibeli di toko-toko. Bahkan, beberapa jenis serangga langka dapat dijual dengan harga mencapai 20.000 yen (Rp2,2 juta). Ini menunjukkan bahwa memelihara serangga bukan hanya hobi biasa, melainkan bagian dari cara hidup dan penghormatan terhadap alam.

Hobi memelihara serangga tidak hanya populer di kalangan ilmuwan atau kolektor, tapi juga di antara selebriti Jepang. Banyak selebriti dengan bangga membicarakan kegemaran mereka berburu serangga, sama seperti selebriti Barat yang membahas hobi golf atau berlayar. Dengan cara ini, serangga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan budaya masyarakat Jepang, mencerminkan kedekatan manusia dengan alam.

Fungsi Serangga untuk Keberlanjutan Hidup Manusia

Serangga berperan penting dalam budaya Jepang yang melampaui sekadar makhluk kecil biasa. Mereka dianggap sebagai simbol keindahan alam dan sering muncul dalam berbagai karya seni, cerita rakyat, serta media populer seperti manga dan animasi.

Munetoshi Maruyama, profesor ilmu biolingkungan di Universitas Kyushu, mengatakan, "Mereka sangat indah dari segi bentuk dan rupa." Pernyataan ini menunjukkan betapa masyarakat Jepang menghargai keunikan serangga sebagai bagian dari budaya dan estetika mereka.

Serangga berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem yang sangat krusial bagi kehidupan manusia. Mereka berfungsi sebagai penyerbuk tanaman, yang berkontribusi besar terhadap produksi makanan.

Serangga juga menjadi sumber makanan bagi burung dan satwa liar lainnya. Karena pentingnya keberadaan serangga, manusia tidak akan dapat mempertahankan kehidupan yang berkelanjutan jika serangga punah.

Selain fungsi ekologis, perilaku serangga sosial seperti lebah dan semut sangat menarik untuk dipelajari. Mereka menunjukkan kecerdasan melalui cara berkomunikasi, mengingat rute kembali ke sarang, serta membangun jaringan terowongan yang kompleks. Studi tentang perilaku ini memberikan wawasan berharga dalam ilmu biologi dan ekologi.

 

Didik Anak Cinta Serangga Sejak Dini

 

Anak-anak di Jepang diperkenalkan pada serangga sejak usia dini melalui buku-buku, kelas, dan tur edukasi yang memudahkan interaksi langsung. Jaring penangkap serangga dapat dibeli di toko serba ada, membuat anak-anak mudah mengeksplorasi dunia serangga. Proses metamorfosis serangga, seperti perubahan dari larva menjadi kupu-kupu, menjadi pengalaman belajar yang menarik dan nyata bagi anak-anak.

Selain aspek edukasi, serangga sosial, seperti lebah dan semut, menunjukkan kecerdasan melalui cara berkomunikasi dan membangun sarang yang rumit. Interaksi ini tidak hanya menghibur, tapi juga mengajarkan nilai-nilai ilmu pengetahuan dan ekologi. Dengan mengenal serangga lebih dekat, anak-anak dapat mengembangkan rasa cinta dan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.

Acara seperti The Great Insect Exhibition di Tokyo memberikan kesempatan bagi anak-anak dan pengunjung untuk berinteraksi langsung dengan berbagai jenis serangga. Toyoji Suzuki, penyelenggara acara, menyatakan, "Kami ingin anak-anak merasakan emosi dan kegembiraan saat benar-benar menyentuh serangga di sini. Itu sangat positif untuk kerja otak anak."

Jangan Remehkan Serangga Kecil

Selain itu, salah satu peran penting lain dari serangga adalah sebagai dekomposer. Kumbang kotoran, lalat bangkai, bahkan rayap, misalnya, mempunyai peran penting karena dapat menguraikan feses, bangkai, dan pohon-pohon yang tumbang di hutan, dan mengembalikan unsur-unsur hara kedalam tanah.

"Bahkan dalam dunia forensik, serangga digunakan untuk menentukan waktu kematian melalui urutan datangnya lalat dan kumbang pada bangkai," ungkap pakar entomologi IPB University, Profesor Damayanti Buchori, mengutip laman IPB.

Peranan serangga dalam siklus hidup pohon beringin atau dikenal sebagai bagian dari genus Ficus. "Keberadaan Ficus sangat tergantung pada penyerbuknya, yaitu tabuhan kecil dari famili Agaonidae. Ada proses koevolusi yang telah terjadi ribuan tahun antara Ficus dan Agaonidae. Jika spesies tumbuhan itu punah, maka spesies Ficus yang bergantung padanya juga akan punah," katanya.

Mengingat berbagai peran serangga bagi kehidupan manusia, Damayanti mengajak masyarakat untuk tidak hanya fokus pada sisi negatif serangga. "Jangan merendahkan hewan-hewan kecil. Serangga itu kecil tapi dampaknya luar biasa," pungkasnya.