Liputan6.com, Jakarta - Menteri Lingkungan Hidup (MenLH), Hanif Faisol Nurofiq angkat bicara tentang laporan IQAir yang menempatkan Indonesia masuk dalam 20 besar negara dengan tingkat polusi udara tertinggi di dunia. Ia menyampaikan pihaknya terus melakukan berbagai upaya menangani polusi udara di Indonesia.
"Kita sedang tangani, kemarin kita sudah mulai melakukan launching ini mengatasi emisi dari pembuangan kendaraan," kata Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq usai tinjauan ke Pasar Tomang Barat bersama Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso di Jakarta Barat, Jumat, 14 Maret 2025.
Menteri Hanif merujuk kepada upaya KLH bersama dengan Kementerian Perhubungan, Kepolisian, dan Pemprov DKI Jakarta untuk melakukan uji emisi kendaraan tipe N dan O atau alat angkutan barang dan kendaraan gandeng pada 11 Maret 2025. Menteri LH mengatakan akan mengenakan sanksi pada operator truk barang yang tidak lulus uji emisi, mengingat kontribusi gas buangan kendaraan terhadap polusi udara.
Advertisement
Menurut Hanif, pihaknya masih memiliki banyak isu yang perlu ditangani terkait penanganan polusi udara, terutama di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Beberapa isu yang harus ditangani, termasuk penertiban open burning atau pembakaran secara terbuka dan cerobong asap di beberapa lokasi industri.
Selain itu, terdapat isu kualitas bahan bakar di Indonesia yang mempengaruhi gas buangan kendaraan yang berada di jalanan. Hal itu memengaruhi tingkat polusi udara dari sektor transportasi yang berkontribusi sekitar 33 persen sampai 35 persen.
Ancaman Besar Polusi Udara
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4558576/original/028111000_1693469764-20230831-Polusi_Udara_Jakarta-FAI_7.jpg)
Menyinggung Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang masih menggunakan batu bara, ia mengatakan, kini dicari alternatif untuk menggunakan bahan yang lebih ramah lingkungan. "Jadi, nanti kami akan mainkan untuk mengarahkan mereka menggunakan bahan baku selain batu bara dulu. Tapi, kita akan mencoba, karena ini konsekuensinya panjang," terangnya.
Sebelumnya, laporan IQair memasukkan Indonesia dalam daftar 20 besar negara dengan udara tercemar pada 2024. Indonesia ditempatkan di posisi 15 dengan rata-rata konsentrasi PM2.5 yaitu 35,5 mikrogram/m3. Posisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat polusi udara paling parah di kawasan Asia Tenggara pada 2024.
Chad dan Bangladesh tercatat sebagai negara dengan tingkat polusi udara tertinggi di dunia pada 2024, dengan rata-rata kadar kabut asap lebih dari 15 kali lipat di atas pedoman WHO, berdasarkan data yang dikumpulkan IQAir. Hanya Australia, Selandia Baru, Bahama, Barbados, Grenada, Estonia, dan Islandia yang berhasil memenuhi standar WHO, kata IQAir.
Polusi udara menjadi ancaman besar bagi kesehatan anak-anak di Asia Timur dan Pasifik. Menurut laporan terbaru dari Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), lebih dari 100 anak di bawah usia lima tahun meninggal setiap hari akibat dampak buruk polusi udara di wilayah ini.
Â
Advertisement
Sumber Utama Polusi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2717466/original/084659200_1548917163-20190131-Polusi-Buruk_-Anak-Anak-Thailand-Sekolah-Pakai-Masker5.jpg)
Laporan tersebut mengungkap bahwa angka kematian akibat polusi mencapai hampir satu dari empat kematian secara keseluruhan. Dampaknya tidak hanya dirasakan di masa kanak-kanak, tetapi juga berlanjut hingga usia dewasa, menyebabkan berbagai masalah kesehatan kronis.
Mengutip kanal Global Liputan6.com yang melansir dari Bangkok Post, Minggu, 9 Februari 2025, UNICEF menyatakan bahwa seluruh 500 juta anak di Asia Timur dan Pasifik terpapar tingkat polusi udara yang tidak sehat. Sumber utama polusi dalam rumah tangga berasal dari bahan bakar yang digunakan untuk memasak dan pemanasan, yang menjadi penyebab utama kematian anak di bawah lima tahun.
Selain itu, sekitar 325 juta anak tinggal di negara-negara dengan tingkat rata-rata tahunan partikel halus (PM2.5) yang melebihi pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hingga lima kali lipat. Sumber utama polusi ini berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, biomassa, dan limbah pertanian.
Paparan jangka panjang terhadap polutan udara dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan kognitif anak. UNICEF memperingatkan bahwa dampak polusi udara dapat menyebabkan penyakit seperti asma, kerusakan paru-paru, keterlambatan perkembangan, diabetes, hingga penyakit jantung di kemudian hari.Â
Dampak Kesehatan Akibat Polusi Udara
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4994977/original/081795700_1730971721-20241107-Water_Canon_India-AFP_2.jpg)
Menurut edisi kelima laporan "State of Global Air" yang dirilis oleh Health Effects Institute dan UNICEF pada 2024, polusi udara menyebabkan 700.000 kematian anak di bawah lima tahun secara global pada 2021.
Angka tersebut setara dengan hampir 2.000 kematian per hari, menjadikannya faktor risiko kematian tertinggi kedua bagi anak-anak setelah malnutrisi. Partikel halus PM2.5 disebut sebagai indikator paling akurat dalam memprediksi dampak kesehatan buruk akibat polusi udara di seluruh dunia.
"Setiap napas sangat berarti, tetapi bagi terlalu banyak anak, setiap napas justru membawa bahaya," ujar Direktur Regional UNICEF untuk Asia Timur dan Pasifik June Kunugi. "Udara yang mereka hirup, pada masa di mana tubuh dan otak mereka masih berkembang, terlalu sering mengandung tingkat polusi yang membahayakan pertumbuhan, kesehatan paru-paru, dan perkembangan kognitif mereka."
Beberapa kota di Asia seperti New Delhi, Dhaka, dan Bangkok saat ini tengah berjuang melawan polusi udara yang semakin parah akibat pembakaran musiman tanaman pertanian, polusi kendaraan, serta fenomena cuaca yang menjebak partikel debu di atmosfer.
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4480731/original/047801400_1687713352-Infografis_jurnal.jpg)
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2559129/original/026504800_1546249540-vietnam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8805424/original/032384700_1782904857-Cek_fakta_-_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490270/original/075910100_1770004204-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-02T104539.335.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5163353/original/056703200_1742005847-klh_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1412168/original/032906400_1479724398-Indonesia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776140/original/038104800_1782846348-063_2284057834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711662/original/096717100_1782792792-korsel_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8864051/original/078185200_1782929110-063_2284211401.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8933715/original/054098500_1782962062-AP26183008148565.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8929510/original/065051700_1782959692-bos7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8920532/original/092816500_1782954338-AP26183030266108.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262489/original/072589900_1781818934-Switzerland_s_Johan_Manzambi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8888290/original/030850900_1782938816-Senegal_s_Habib_Diarra__21__scores_their_first_goal_against_Belgium_goalkeeper_Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8898171/original/047299800_1782942914-Belgium_s_Romelu_Lukaku_senegal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8896227/original/086707700_1782942096-Belgium_s_Romelu_Lukaku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782402/original/009814100_1782885154-belanda.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8901298/original/009057900_1782944367-Belgium_s_Youri_Tielemans__left__celebrates_with_Belgium_s_Romelu_Lukaku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5541400/original/075682500_1774861454-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8808562/original/035738800_1782906188-Pendekatan_dengan_Ecological_Mangrove_Rehabilitation__EMR_..jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5209049/original/095547800_1746424139-image__12_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8825823/original/067176400_1782914193-Ab_Extend_Image2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782434/original/080491600_1782886022-WhatsApp_Image_2026-07-01_at_12.31.11.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8780885/original/061071700_1782876923-WhatsApp_Image_2026-06-30_at_22.24.35.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776118/original/029958900_1782836806-Sekjen_Kemendikdasmen.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8769101/original/055174700_1782831715-Gempa_BMKG.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8755603/original/054569300_1782826896-20260630_170742.jpg)