Sukses

Sekolah di China Larang Siswa Perempuan Berambut Panjang dan Berponi

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah sekolah menengah di China melarang para siswa memiliki "gaya rambut aneh", termasuk rambut panjang pada siswa perempuan dan laki-laki, cambang, mullet dan poni. Hal ini dikarenakan gaya rambut itu "merepotkan" dan merusak kinerja akademis.

Dikutip dari South China Morning Post, Selasa, 2 Agustus 2022, larangan rambut panjang diterapkan pekan ini untuk siswa kelas 1 baru di Sekolah Menengah Wenchang di Dingzhou di Provinsi Hebei, Tiongkok utara, demikian media lokal melaporkan. Dalam pemberitahuan yang dikeluarkan tentang manajemen siswa, sekolah menyebut semua siswa dilarang memiliki rambut "gaya aneh", rambut panjang, dan poni panjang.

Murid juga tidak boleh mengecat atau mengeriting rambut, atau memakai aksesori rambut apa pun, The Paper melaporkan. Unggahan berita tentang larangan tersebut memicu diskusi panas minggu ini dan ditonton lebih dari 10 juta kali di aplikasi video media sosial Douyin.

Sekolah juga merilis foto gaya rambut yang dapat diperbolehkan. Potret tersebut menunjukkan potongan rambut depan, belakang dan samping untuk membantu siswa dan orangtua mengikuti "gaya rambut standar" yang diminta.

Murid laki-laki secara khusus dilarang memiliki cambang, mullet, atau bagian panjang rambut di bagian belakang kepala. Sementara, siswa perempuan harus menjaga rambut mereka dipotong jauh di atas bahu dan tidak berponi.

Seorang guru yang tidak disebutkan namanya dari sekolah mengatakan aturan yang mengatur panjang dan gaya rambut sebenarnya telah ada selama bertahun-tahun. "Yang kami khawatirkan adalah rambut panjang akan memengaruhi studi siswa," katanya kepada The Paper.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Alasan Aturan Dibuat

"Beberapa murid tidak menyukai ini pada awalnya, tetapi setelah upaya persuasi kami, siswa dan orangtua menerima aturan," lanjut guru tersebut.

Guru itu mengungkapkan banyak sekolah lain di Dingzhou memiliki aturan serupa untuk rambut murid. "Siswa senang berdandan dan mereka cenderung memiliki rambut panjang. Tapi itu merepotkan untuk mencuci rambut panjang, apalagi poni yang panjang akan menutupi mata mereka dan mengganggu pelajaran mereka," kata guru tersebut.

Diakuinya, beberapa siswa tidak mengikuti aturan dan datang ke sekolah dengan rambut dicat dan dikeriting. Siswa yang terlibat dalam kegiatan, termasuk tari dan seni pertunjukan dapat meminta pengecualian dari aturan rambut, kata guru tersebut.

Guru lain dari departemen pendaftaran sekolah menyampaikan aturan tentang rambut pertama kali diterapkan lebih dari satu dekade lalu. "Akan ada terlalu banyak masalah ketika anak perempuan memiliki rambut panjang," katanya.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 4 halaman

Aturan Kaku

Guru tersebut menambahkan bahwa, "Departemen pendidikan moral sekolah kami memiliki wewenang untuk menerapkan larangan rambut ini." Terkait aturan ini, warganet turut menanggapinya di jagat maya.

"Ini keterlaluan. Sekolah harus mempertimbangkan perasaan para anak perempuan," tulis seorang warganet di Baidu. "Saya tidak bisa berkata-kata. Saya tidak mengerti persyaratan ini. Tidak ada salahnya perempuan berambut panjang, seperti dikuncir kuda untuk menunjukkan kecantikan masa mudanya," lanjut warganet lain.

Ada pula yang mengatakan sekolah beroperasi dalam perannya untuk mempersiapkan murid untuk masa depan. "Saya kira tidak ada masalah dengan aturan ini. Seperti pepatah Cina kuno: 'Tidak ada yang bisa dicapai tanpa norma atau standar'," kata warganet.

Sekolah-sekolah di China telah memberlakukan serangkaian aturan kaku untuk mencoba mengarahkan siswa agar menghabiskan seluruh waktu dan energi mereka untuk studi akademis. Beberapa sekolah telah melarang murid laki-laki dan perempuan untuk berduaan atau berada dalam jarak 0,8 meter dari satu sama lain karena takut mereka akan memulai hubungan romantis. Sejumlah sekolah melarang siswa berbicara atau bermain dengan teman sekelas saat istirahat, dan hanya diperbolehkan menggunakan kamar mandi.

4 dari 4 halaman

Rambut Harus Hitam

Bukan hanya di China, Jepang juga punya aturan rambut murid harus hitam. Kontroversi muncul karena kebijakan sekolah mengharuskan para siswa untuk mewarnai rambutnya agar menjadi hitam.

Para anggota Dewan Pendidikan Metropolitan Tokyo berkumpul untuk membicarakan hal tersebut pada Maret lalu. Ada peningkatan diskusi di Jepang mengenai apakah sudah waktunya untuk menyingkirkan aturan sekolah tertentu, salah satunya soal warna rambut, yang masih diberlakukan di beberapa institusi, dilansir dari laman SoraNews24, Sabtu, 12 Maret 2022.

Alasan pihak sekolah yang mengharuskan siswa untuk mewarnai rambut mereka menjadi hitam untuk menciptakan penampilan yang seragam bagi siswa. Selama tahun ajaran 2021, tujuh sekolah menengah umum di Tokyo masih mewajibkan siswa dengan rambut non-hitam alami untuk mewarnainya menjadi hitam.

Musim semi adalah awal tahun ajaran di Jepang yang artinya, tahun ajaran 2022 yang akan segera dimulai, aturan tersebut telah sepenuhnya dihapuskan, dan tidak lagi berlaku di sekolah menengah kota mana pun. Selain itu, 13 sekolah menengah yang memiliki aturan yang menentukan warna pakaian dalam yang harus dikenakan siswa. Namun, sekarang semuanya akan menyerahkan pilihan itu kepada siswa.

Logika di balik aturan seperti itu adalah bahwa warna yang diperlukan akan mencegah pakaian dalam siswa terlihat melalui seragam mereka. Namun, logika yang lebih masuk akal bahwa selama pakaian dalam tidak terlihat, bukan urusan siapa pun warna apa yang akan dikenakan.