Sukses

Aplikasi untuk Bantu Pilih Produk Makanan Laut Ramah Lingkungan

Liputan6.com, Jakarta - Mendukung praktik ramah lingkungan tentu bisa berawal dari sesederhana pilihan sehari-hari. Dari sekian banyak, Anda juga bisa menerapkannya saat memilih makanan laut.

"Sebagai pilihan bagi konsumen yang ingin membeli produk seafood ramah lingkungan, kami menyediakan Seafood Advisor, sebuah (aplikasi) panduan untuk konsumen," Siti Yasmina Enita, Marine Communication Specialist Yayasan WWF Indonesia, mengatakan dalam keterangan pada Liputan6.com, baru-baru ini.

Ia melanjutkan, "Harapannya, (aplikasi) dapat memberi informasi produk seafood mana yang lebih baik. Konsumen dapat memprioritaskan jenis ikan di daftar hijau yang berarti pilihan terbaik, sekaligus menghindari jenis ikan di daftar merah hingga kuning untuk menekan dampak negatif yang ditimbulkan oleh aktivitas perikanan pada kedua daftar tersebut."

Merujuk pada kajian Yayasan WWF Indonesia tahun 2020 terhadap kesadartahuan dan preferensi 500 konsumen akan produk seafood di lima kota besar: Jakarta, Denpasar, Surabaya, Makassar, dan Medan, tercatat bahwa lebih dari 90 persen konsumen sepakat sertifikat atau ekolabel keberlanjutan pada produk perikanan menjamin ketersediaan produk perikanan di masa depan.

Pasalnya, praktik itu dinilai menjaga aktivitas perikanan tidak merusak ekosistem, serta tidak menangkap berlebihan. Sayang, tingginya antusiasme konsumen tidak seiring pembelian produk makanan laut yang berekolabel. Hal ini dikarenakan produk berekolabel tidak mudah ditemukan dan jenisnya tidak banyak. 

Melihat pada kebiasaan konsumen di Indonesia, keputusan memilih produk makanan laut kebanyakan ditentukan lokasi, kualitas barang, pelayanan, brand, dan nilai sosial. Belum ada faktor keberlanjutan, tapi konsumen sangat menghargai pasar/restoran yang dapat memberikan informasi terkait seafood dari segi gizi, kebersihan, rasa, dan asal-usul.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Kampanye Seafood Ramah Lingkungan

Menggaungkan kebiasaan memilih produk makanan laut ramah lingkungan, Yayasan WWF Indonesia bekerja sama dengan Rotary Bali Pecatu District 3420, dan berbagai komunitas lain di Bali. Mereka menyelenggarakan kampanye seafood ramah Lingkungan bertema "Be Sustainable, Be a Smart Seafood Love."

Kampanye publik ini telah terselenggara di area Terrace Hub Plaza Renon, Bali pada 25--26Juni 2022. Sesederhana arti tema yang diusung, pihaknya mengajak para konsumen untuk dapat lebih bijak memilih produk makanan laut yang akan dibeli. Selain itu, "Bé" yang mengandung arti daging-dagingan dalam Bahasa Bali menekankan untuk memilih daging ikan yang berkelanjutan.

Terdapat booth program WWF Indonesia yang terdiri dari Seafood Savers, Signing Blue, SOShark, Beli yang Baik, Marine Buddies, dan Rotary. Selain itu, ada juga pameran foto aktivitas perikanan; demo masak dari finalis Master Chef Indonesia Session 6, Chef Putu, penampilan musik akustik; dan pembagian merchandise bagi pengunjung yang mengikuti aktivitas di dalam kampanye.

3 dari 4 halaman

Lomba Video Reels

Tidak ketinggalan, ada pula lomba video reels dan cerita foto berhadiah premium cookware dan produk ramah lingkungan. "Lomba ini dilaksanakan untuk mengedukasi konsumen, supaya membiasakan diri mencari tahu akan asal usul produk seafood yang akan dikonsumsi," Siti mengatakan.

"Selain itu, harapannya juga dapat menginformasikan pada penjual seafood, seperti supermarket maupun restauran, bahwa konsumen menginginkan informasi sumber seafood dan ingin memilih seafood yang ramah lingkungan," imbuhnya.

Lomba video reels dan cerita foto ini dimulai pada 14 Juni hingga 14 Juli 2022. Keterangan lebih lanjut mengenai lomba dapat diakses di akun Instagram @wwf_id.

Masih untuk merespons dampak lingkungan dari konsumsi makanan laut, sebelum ini juga sudah ada terobosan seafood dan ayam berbahan nabati. SCMP melaporkan, David Yeung, founder, sekaligus CEO Green Monday Group dan OmniFoods Hong Kong, telah memperkenalkan OmniPork nabati untuk membantu mengurangi konsumsi daging babi.

Pada presentasi acara memperingati Hari Laut Sedunia, tahun lalu, ia memberi beberapa statistik serius. Tercatat bahwa pada 1950, konsumsi makanan laut global tahunan adalah 20 juta ton. 70 tahun kemudian, angkanya naik jadi 180 juta ton.

"Bisakah lautan tanpa henti memasok makanan untuk kita?" tanya Yeong. "Masalahnya adalah tidak mungkin lautan dan dunia dapat mengikuti selera yang telah kita bangun."

 

4 dari 4 halaman

6 Produk Nabati

Pada 2017, Hong Kong adalah konsumen ikan dan makanan laut per kapita tertinggi kedua di Asia dengan 70,75 kilogram (kg), kedua setelah Maladewa dengan 90,41 kg. Cara untuk memperlambat konsumsi makanan laut adalah menawarkan alternatif nabati yang sama lezat dan bergizinya.

Mereka kemudian meluncurkan lini enam produk nabati OmniSeafood, termasuk fillet ikan klasik, fillet emas goreng, tuna cincang, dan daging kepiting. Produk itu diklaim dapat disesuaikan untuk kuliner Asia dan jenis masakan lain.

Makanan laut berbahan nabati ini terbuat dari kedelai, kacang polong, dan beras non-transgenik, tidak memiliki lemak trans atau kolesterol, dan mengandung omega-3. Produk itu bisa didapat di Kind Kitchen di Central, dan di semua toko Green Common, kecuali lokasi Alexandra House, di Hong Kong.

Perusahaan lain yang ingin membantu menahan laju perubahan iklim adalah Next Gen lewat produk mereka, Tindle. Itu merupakan "daging ayam yang terbuat dari bahan nabati" yang terdiri dari sembilan bahan, lebih sedikit dari beberapa protein alternatif sebelumnya.

Karena Tindle berbasis nabati, produksinya diklaim berdampak lebih kecil pada lingkungan dibanding memelihara dan menyembelih ayam. Ini diperkirakan "menghemat" 74 persen lahan, air 82 persen lebih sedikit, dan menghasilkan 88 persen lebih sedikit gas rumah kaca.

Produk ini diluncurkan di Singapura dan sekarang sudah disajikan di belasan restoran di Hong Kong. Saat ini, ayam nabati Tindle hanya tersedia di restoran karena para koki sedang mengembangkan cara-cara inovatif untuk menentukan apakah penjualannya bisa menyentuh tingkat ritel.