Liputan6.com, Jakarta - Apakah Anda penyuka produk olahan ikan dan makanan laut lainnya? Hati-hati dan lebih teliti dalam membeli produk tersebut karena menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), sekitar satu dari lima produk tersebut yang dijual di seluruh dunia kemungkinan palsu dalam beberapa hal.
Mengutip The Star, Kamis, 26 Februari 2026, FAO menyatakan bahwa praktik curang seperti pelabelan palsu dan penjualan produk nabati sebagai produk asli 'sangat meluas'.
"Tidak ada perkiraan resmi tentang seberapa luas penipuan di sektor perikanan dan akuakultur global senilai 195 miliar dolar AS, tapi studi empiris menunjukkan bahwa 20 persen perdagangan mungkin menjadi sasaran beberapa jenis penipuan," kata FAO dalam pernyataan pada Februari 2026.
Advertisement
Lembaga itu juga memperingatkan bahwa jika menyangkut makan di luar, risikonya bisa bertambah, mencapai 30 persen. "Penipuan sangat umum terjadi di restoran dan layanan katering, di mana identifikasi visual sulit dilakukan, dan pada produk olahan, identitas spesies dapat disamarkan," jelas FAO dalam laporan baru yang menguraikan skala besar masalah ini.
"Insentif ekonomi adalah pendorong paling luas dari penipuan ikan," ujar FAO dengan menyebutkan bahwa ada banyak kategori penipuan.
Salah satu contohnya adalah penjualan salmon Atlantik yang dilabeli sebagai salmon Pasifik. Penjualan itu 'memberikan keuntungan hampir 10 dolar AS (sekitar Rp168 ribuan) per kilogram' karena sebagian besar salmon Atlantik yang bermerek dibudidayakan, sementara alternatif Pasifik umumnya ditangkap di alam liar.
Â
Modus Pemalsuan Ikan dan Makanan Laut Lainnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5353822/original/089280400_1758182151-SnapInsta.to_74917290_165565917885409_3074027333625254900_n.jpg)
Modus penipuan lainnya adalah menggunakan pewarna untuk membuat ikan seperti tuna terlihat lebih segar. Praktik lain adalah pemalsuan, seperti membuat udang imitasi dari senyawa berbasis pati.
Penipuan lainnya adalah pengemasan surimi agar tampak seperti daging kepiting. Selanjutnya, ada substitusi spesies secara langsung, seperti ketika ikan nila yang lebih murah dan berasa lebih ringan dijual di restoran sebagai ikan kakap merah yang lebih mahal dan dicari.
"Skala konsumsi ikan global yang menargetkan lebih dari 12.000 spesies makanan laut, keragaman jenis penipuan, dan kurangnya definisi penipuan yang terstandarisasi dalam regulasi atau hukum, membuat estimasi global sulit diperoleh," kata FAO, menjelaskan bahwa tingkat penipuan makanan laut jauh melebihi yang terlihat pada daging, buah, atau sayuran.
Perbedaan tersebut 'sebagian besar disebabkan oleh keragaman spesies yang sangat besar di sektor ini', kata FAO.
Advertisement
Tak Harus Makan Salmon untuk Dapat Nutrisi dari Ikan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4756832/original/022719800_1709148542-top-view-fresh-seafood-table.jpg)
Mengutip kanal Health Liputan6.com, salmon bukan satu-satunya ikan yang direkomendasikan oleh dokter untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Bahkan, ikan lokal, seperti gabus, lele, dan teri, ternyata punya kandungan gizi yang tak kalah hebat guna mendukung tumbuh kembang si Kecil.Â
Hal itu disampaikan dr. S. Tumpal Andreas C., M.Ked(Ped), Sp.A dari RS EMC Pekayon dan dr. Reza Ervanda Zilmi, Sp.A dari RS EMC Cikarang. Keduanya sepakat bahwa makanan sehat untuk anak tidak harus mahal, tidak perlu impor, dan bisa diolah dari bahan sederhana yang mudah ditemukan di pasar tradisional maupun kulkas rumah.
"Real food itu ayam direbus, ayam dibuat sop pakai daun bawang, bawang merah, bawang putih, tambah air, dimasak sampai matang. Itu sudah real food," kata dr. Andreas kepada Health Liputan6.com baru-baru ini.
Â
Yang Penting Ikan Segar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447605/original/086941800_1765959497-Frozen_food_nuget_ayam_homemade.jpg)
dr. Andreas mengingatkan bahwa orangtua tidak perlu memaksakan diri membeli ikan mahal seperti salmon. "Salmon bagus, iya. Tapi salmon hidupnya di Jepang. Begitu sampai ke sini? Udah pasti lewat proses pembekuan. Udah bukan makanan segar lagi," ujarnya.
Menurutnya, ikan lokal yang segar jauh lebih baik ketimbang salmon impor yang sudah dibekukan. Bahkan, ikan lele mengandung lemak baik yang tinggi, sangat baik untuk pertumbuhan anak.
"Ikan lele, itu proteinnya memang tidak setinggi salmon, tapi lemaknya tinggi banget. Bagus. Jadi, kenapa harus pilih yang mahal?" kata dr. Reza.
Sementara, dr. Andreas menegaskan bahwa yang perlu dihindari adalah ultra processed food, yakni makanan yang melalui banyak tahapan pengolahan dan mengandung tambahan zat seperti pengawet, pemanis, atau penguat rasa. Makanan olahan seperti nuget, sosis, atau ayam beku berbumbu meskipun berbahan dasar daging asli, tetap masuk kategori ultra processed karena sudah tidak alami lagi.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301033/original/004849700_1784434276-blt_umkm_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298964/original/044978900_1784188695-Screenshot_2026-07-15_123742bbbb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299928/original/085453400_1784279402-cek_fakta_dana_hibah_prabowo_-_purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6454660/original/051756600_1779318782-1001276959.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4699699/original/089454900_1703684437-uk-2066475_1280.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5550686/original/070108200_1775706650-Barcelona_vs_Atletico_Madrid-06.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300874/original/043662800_1784416104-000_C2JW4HK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264054/original/059677500_1782070488-Spain_s_Mikel_Oyarzabal_celebrates_with_teammate_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288075/original/063090000_1783298243-nor2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5432724/original/083241100_1764821781-AP25337713644646.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264052/original/051981800_1782069590-Spain_s_Lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257094/original/041007200_1781205796-000_B6T99LB.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299317/original/088764800_1784212809-argentina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294340/original/000872600_1783830200-000_B9XN79R.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5484506/original/024457200_1769435277-arsene.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300878/original/067363300_1784417747-000_C2JX6TP.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298206/original/007801400_1784152342-063_2286278842.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5470778/original/081330400_1768225359-000_36TP7KJ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2219732/original/061945500_1526728191-20180519-Topi-Royal-Wedding-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5403160/original/015389700_1762318938-candill.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5071754/original/092096800_1735540756-1735029545532_resep-kulit-risol.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5494145/original/073325100_1770279612-pexels-roman-odintsov-5060299.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515558/original/022790700_1772180408-vivi_cake_shop.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5514625/original/054225800_1772097703-WhatsApp_Image_2026-02-26_at_15.34.54.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/thumbnails/5515713/original/051343500_1772186402-kl-kalcer-4-panci-bahagia-616e60.jpg)