Sukses

PM Malaysia Dikritik karena Pakai Kemeja Seharga Rp23 Juta di Acara Karnaval Rakyat

Liputan6.com, Jakarta - Perdana Menteri Malaysia, Ismail Sabri Yaakob baru-baru ini mendapat sorotan saat menghadiri Karnaval Jom Heboh di Putrajaya. Dalam unggahan di akun Facebook resminya, Ismail menyapa dan berfoto dengan warga yang hadir. Ia bahkan bercengkerama dengan anak-anak dan bermain bersama kucing.

Ia juga bertemu dengan para penjual di pinggir jalan, dan mengabadikan momen tersebut. Seperti biasanya, Ismail ditemani oleh beberapa pejabat setempat dan pengawal yang setia bersamanya sejak menjabat sebagai PM Malaysia.

Sejak awal, ia langsung memulai perbincangan yang hangat dengan warga.  Namun, yang menarik perhatian warganet bukanlah acara atau keramahan yang ditunjukan sang perdana menteri. Publik, khususnya warganet Malaysia, justru salah fokus dengan kemeja putih lengan pendek dengan tulisan bewarna merah yang dikenakan Ismail Sabri.

Kalau dilihat sekilas, PM Ismail Sabri mengenakan outfit yang terbilang sederhana, hanya dengan kemeja dan celana kain warna hitam. Kemeja yang dipakai PM Malaysia tersebut kemudian diketahui keluaran dari brand fashion ternama, Burberry.

Dilansir dari laman resmi Burberry, kemeja merah tersebut dibanderol dengan harga 6,900 ringgit Malaysia atau sekitar Rp23 juta. Harganya termasuk mahal karena kemeja ini disebut terbuat dari bahan utama kain sutra.

Usai foto tersebut tersebar, Ismail Sabri Yaakob menuai kritikan masyarakat. Hal tersebut dikarenakan ia mengenakan kemeja yang harganya hampir tiga kali lipat pendapatan kebanyakan orang Malaysia.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 
2 dari 4 halaman

Tidak Peduli

Dikutip dari World of Buzz, 26 Juni 2022, beberapa komentar menyindir pakaian mahal dan bermerek yang dikenakan PM Malaysia itu tak sebanding dengan biaya hidup di negara itu semakin tinggi. Beberapa warganet juga menuduh para menteri sepertinya tidak peduli atau memberikan bantuan nyata kepada orang-orang yang menderita dan pemerintah harus mewujudkan konsep Keluarga Malaysia dengan berdiri di tempat rakyat.

Meski begitu, ada juga komentar yang memuji sang perdana menteri, berharap dia akan melanjutkan usahanya untuk menyejahterakan negara. Tak hanya di negaranya, PM Ismail juga sempat jadi pembicaraan di Indonesia. Hal itu bermula pada Mei lalu saat Malaysia menggelar Simposium Internasional Bahasa Melayu.

Ismail Sabri menyebut acara tersebut merupakan platform terbaik untuk mengidentifikasi segala masalah dalam mengangkat Bahasa Melayu menjadi salah satu bahasa resmi ASEAN. Dikutip dari laman The Star, Senin (23/5/2022), PM Malaysia mengklarifikasi soal usulan tersebut dalam jumpa pers seusai meresmikan pembukaan simposium.

3 dari 4 halaman

Bahasa Melayu

Ia menyatakan pihaknya bukan bermaksud menjadi Bahasa Malaysia sebagai bahasa ASEAN, tetapi semata Bahasa Melayu yang juga digunakan oleh beberapa negara di ASEAN. "Kita menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa utama. Itu bervariasi, kita punya Bahasa Melayu Indonesia, Bahasa Melayu Brunei, Bahasa Melayu Singapura, Bahasa Melayu Thailand," ia menyebutkan.

"Beberapa orang tidak memahami. Mereka pikir kita ingin mengangkat Bahasa Malaysia sebagai bahasa ASEAN. Beberapa teman kita dari negara tetangga mengkritik kami karena mungkin mereka salah paham," ucapnya. Ia kembali menekankan bahwa yang ingin diangkat adalah Bahasa Melayu dengan segala variasinya.

Simposium Bahasa Melayu itu digelar tiga hari. Penyelenggaranya adalah Dewan Bahasa dan Pustaka yang menggelar kegiatan atas usulan Perdana Menteri Malaysia. Tema utama yang diangkat adalah penggunaan bahasa Melayu sebagai salah satu bahasa resmi ASEAN.

Sebelumnya, Ismail Sabri membahas usulan ini di Majelis Tinggi. Ia mengatakan selain di Malaysia, bahasa Melayu sudah digunakan di beberapa negara ASEAN, seperti Indonesia, Brunei, Singapura, Thailand selatan, Filipina selatan, dan sebagian Kamboja.

4 dari 4 halaman

Bahasa Indonesia

"Di seluruh ASEAN ada orang yang bisa berbahasa Melayu. Karena itu, tidak ada alasan kami tidak dapat menjadikan bahasa Melayu sebagai salah satu bahasa resmi ASEAN," katanya. Ia juga mengatakan akan membahas masalah ini dengan "rekan-rekan ASEAN-nya."

"Saya akan berdiskusi dengan para pemimpin negara ASEAN lain, terutama di negara-negara yang sudah menggunakan bahasa Melayu," ia mengatakan.

Sementara, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim sudah menolak usulan PM Malaysia untuk menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa kedua di ASEAN.

"Saya sebagai Mendikbud Ristek tentu menolak usulan tersebut. Namun, karena ada keinginan negara sahabat kita mengajukan Bahasa Melayu sebagai bahasa resmi ASEAN, tentu keinginan tersebut perlu dikaji dan dibahas lebih lanjut di tataran regional," kata Nadiem, mengutip situs web Kemendikbud Ristek, Selasa, 5 April 2022.

Menurut Nadiem, Bahasa Indonesia justru lebih layak untuk dikedepankan dengan mempertimbangkan keunggulan historis, hukum, dan linguistik. Di tingkat internasional, Nadiem menyambung, Bahasa Indonesia telah jadi bahasa terbesar di Asia Tenggara, dengan persebaran mencakup 47 negara di seluruh dunia.