Sukses

Lindungi Alam untuk Bangkitkan Ekonomi dan Buka Lapangan Pekerjaan

Liputan6.com, Jakarta - Asia Tenggara, seperti banyak wilayah lain di Bumi, mencatat pertumbuhan penduduk cukup pesat dari tahun ke tahun. Fenomena ini sayangnya menekan keragaman sumber daya alam yang melimpah di kawasan tersebut.

Merujuk pada studi bertajuk "The Nexus of Biodiversity Conservation and Sustainable Socioeconomic Development in Southeast Asia," Asia Tenggara seharusnya tidak mengikuti jalur pembangunan yang membahayakan alam. Alih-alih, perlindungan alam harus didorong landasan keberhasilan strategi ekonomi.

"Kita sudah berada di periode penting selama berada di planet ini. Kekayaan alam di Asia Tenggara sudah tidak bisa lagi dieksploitasi secara berlebihan. Kerusakan akan datang dengan konsekuensi bencana alam," Dr. Helen Nair, Academy of Sciences Malaysia, mengatakan saat jumpa pers virtual, Rabu, 15 Juni 2022.

Menurut laporan pihaknya, Asia Tenggara punya kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang dapat menarik dana sebesar 2,19 triliun dolar US (sekitar Rp32,2 kuadriliun) ke ekonomi kawasan ini. Bahkan, jumlah tersebut dapat berkembang lebih besar lagi jika negara-negara Asia Tenggara memprioritaskan konservasi dan restorasi, studi tersebut mencatat.

"Asia Tenggara harus diakui sebagai harta karun yang kaya dengan keanekaragaman hayati dan tidak ada bandingannya di Bumi. Para pemimpin di kawasan ini dapat menggunakan keanekaragaman hayati sebagai keunggulan ekonomi," sebut Prof. Emil Salim, mantan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia, sekaligus Komite Pengarah Global Campaign for Nature.

Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi dan perlindungan alam di Asia Tenggara saling terkait. Konservasi semestinya bisa jadi dasar bagi aktivitas ekonomi di kawasan yang menghasilkan kekayaan, lapangan pekerjaan, dan keamanan pangan.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Kesempatan Emas

Dilaporkan bahwa membangkitkan ekonomi dan membuka lapangan hanyalah pencapaian awal dari keberhasilan menjaga sumber daya alam. Professor Pervaiz Ahmed dari Sunway University Malaysiauntu, menyebut bahwa sudah banyak upaya yang dilakukan untuk menjaga kekayaan alam Asia Tenggara.

Ini termasuk proyek di Laos dan Vietnam yang berupaya melindungi 200 ribu hektare hutan di sepanjang deretan Pegunungan Annam. "Mereka melindungi alam dari aktivitas ilegal, mendorong pengelolaan sumber daya hutan berkelanjutan, dan melestarikan spesies unik, serta keanekaragaman hayati," ia menuturkan.

Ahmed menyambung, "Proyek ini juga bertujuan untuk mengurangi emisi karbondioksida sebesar 1,8 juta ton dalam waktu lima tahun." Ia juga meyakini semua bisa dilakukan asal ada keinginan dan komitmen untuk menjaga alam. Terlebih, langkah ini bisa jadi kesempatan emas untuk mencari tahu apa yang harus dilakukan di kemudian hari dalam upaya melestarikan alam.

"Ini adalah kelangsungan planet dan manusia. Kita perlu mengubah pola pikir dalam permintaan dan penyediaan. Kita juga harus mendorong perubahan ini dengan kemajuan teknologi, dan harus bersatu agar semuanya bisa berjalan dengan baik," ucapnya.

 

3 dari 4 halaman

Perlu Diatasi Sekarang

Komite Pengarah Global Campaign for Nature, Dr. Zakri Hamid, mengatakan seiring bertambahnya waktu, keanekaragaman hayati terancam hilang, selain banyak spesies yang punah setiap harinya. Karena itu, masalah mendesak ini perlu diatasi sekarang juga.

"Satu juta spesies flora dan fauna terancam punah. Ini sangat serius. Serangkaian studi ilmiah berikut ini juga menunjukkan paling tidak kita harus melindungi minimal 30 persen (bioata) di darat dan samudra planet ini pada 2030, yang dikenal sebagai 30x30," ia mengutarakan.

Dalam penelitian, dijelaskan perlunya mendukung target global 30x30, serta investasi lebih lanjut dalam perluasan dan peningkatan area perlindungan. Pelestarian di kawasan Asia Tenggara pun bisa jadi sebuah strategi pembangunan, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi sosial yang efektif.

Demi mencapai tujuan ini, studi tersebut mengusulkan agar semua negara anggota ASEAN mendukung target global 30x30 di dalam negosiasi CBD dan mengimplementasikannya di tingkat nasional. Ini untuk mendesak pendekatan yang lebih menyeluruh pada pembangunan ekonomi berbasis alam.

Dana yang dibutuhkan untuk kelangsungannya diusulkan melalui berbagai insentif ekonomi dan keuangan bagi pelestarian keanekaragaman hayati, termasuk ASEAN Biodiversity Conservation Sovereign Fund. Mendukung pendekatan ini, pemerintah negara-negara ASEAN perlu menciptakan kemitraan baru yang efektif di seluruh sektor, serta memanfaatkan data ilmiah dan teknologi terbaik sepenuhnya.

 

4 dari 4 halaman

Proyek di Indonesia, Filipina, dan Malaysia

Indonesia menjadi lokasi proyek Rimba Raya Biodiversity Reserve yang merupakan contoh keberhasilan dari solusi iklim berbasis alam. Ini merupakan proyek REDD+terbesar di dunia, yang berhasil menghambat deforestasi 65 ribu hektare hutan yang awalnya akan diubah jadi perkebunan sawit. Sebagai proyek kredit karbon terkemuka di dunia, pendapatan yang dihasilkan telah berkontribusi bagi keamanan pangan, peluang pendapatan, perawatan kesehatan, dan pendidikan bagi masyarakat setempat.

Sementara itu, selain sebagai rumah bagi elang Filipina yang terancam punah, Mount Kitanglad Range Natural Park (MKRNP) juga merupakan tanah leluhur tiga suku adat di sana. Mereka adalah suku Higaonon, Talaandig, dan Bukidnon.

Kelompok adat ini berperan aktif dalam Dewan Pengelolaan Kawasan Lindung lokasi tersebut. Mereka berhasil mengurangi aktivitas ilegal dan pelanggaran, serta memperluas ekowisata di taman nasional ini.

Kemudian, sebuah prakarsa di Tun Mustapha Park (TMP) di Malaysia, taman laut seluas 898.763 hektare, mencoba melestarikan keanekaragaman hayati, melindungi spesies langka,mengembangkan perikanan lokal, serta mengurangi kemiskinan bagi penduduk pesisir berjumlah 85 ribu orang.

Sebagai sebuah kolaborasi di antara masyarakat setempat, badan pemerintah, mitra internasional, dan organisasi swadaya masyarakat, taman laut ini menaungi 250 spesies terumbu karang, 400 spesies ikan, serta berbagai spesies yang terancam punah, seperti ikan duyung, berang-berang, paus bungkuk, dan penyu. (Natalia Adinda)