Sukses

Mengabadikan Generasi Terakhir Perajin Tusuk Konde dengan Teknik Patri Tiup Lewat Video Dokumenter

Liputan6.com, Jakarta - Tusuk konde termasuk salah satu hiasan sanggul yang kerap digunakan perempuan Jawa dalam berbagai acara. Salah satu jenis tusuk konde tradisional adalah tusuk konde patri tiup.

Tusuk konde patri tiup merupakan kerajinan tangan berbentuk hiasan sanggul khas Kotagede, Yogyakarta. Sesuai namanya, tusuk konde ini dibuat dengan tangan alias handmade dengan metode patri dan kemudian ditiup.

Sayangnya, tusuk konde ini sudah mulai jarang ditemui dan digerus zaman dengan akesori atau peralatan yang lebih modern. Pembuatnya pun nyaris sudah tidak ada lagi dan hanya menyisakan generasi terakhir perajin tusuk konde tersebut.

Untuk itu, sejumlah usaha dilakukan untuk melestarikannya. Hal itu dilakukan Nusantara Documentary, yang bekerja sama dengan Royal Enfield dalam pembuatan video dokumenter pengrajin tusuk konde patri tiup. 

Video bertajuk ‘Mendokumentasikan Generasi Terakhir Pengrajin Tusuk Konde dengan Teknik Patri Tiup’ itu menandai komitmen dan keterlibatan langsung Royal Enfield dalam melestarikan budaya, termasuk di Indonesia.

Upaya itu juga jadi bagian dari inisiatif global Royal Enfield #LeaveEveryPlaceBetter yang telah menjadi katalisator diantara komunitas Royal Enfield di berbagai belahan dunia untuk berkendara dengan lebih bertanggung jawab.   

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 

2 dari 4 halaman

Misi Sosial

Vimal Sumbly selaku Business Head for APAC Markets, Royal Enfield mengatakan, Royal Enfield fokus menyemangati komunitas berkendara yang bertumbuh semakin banyak untuk berkendara secara bertanggung jawab. Dengan tujuan meninggalkan setiap tempat dalam keadaan lebih baik.

"Kami berkomitmen untuk melindungi dan melestarikan aset alam dan lingkungan hidup setempat selama kegiatan riding komunitas kami," ucap Vimal dalam webinar pada Selasa, 14 Desember 2021. "Kami mendorong komunitas dan pengendara lainnya untuk ‘mengalami secara sadar’ dengan memberikan manfaat sosio-ekonomi ke masyarakat setempat di tujuan perjalanan yang lingkungan hidupnya rentan," lanjutnya.

Vimal menambahkan, video dokumenter itu merupakan penegasan ulang dari pihaknya mengenai pelestarian warisan budaya dan otentisitas, sambil terus mempromosikan misi sosial.

 

3 dari 4 halaman

Warisan Budaya

Bonfilio Yosafat sebagai pendiri Nusantara Documentary mengatakan, kepdulian dan fokus dirinya terhadap pelestarian warisan budaya telah mempertemukannya dengan Royal Enfield, sebuah brand yang telah melestarikan warisannya selama lebih dari 120 tahun.

Mengetahui kisah Patri Tiup dan Pak Bardian, ia kemudian mengajak Royal Enfield untuk membantu melestarikan warisan budaya ini dengan video dokumenter.  "Saya bersyukur Royal Enfield bersedia untuk berkolaborasi dengan Nusantara Documentary. Dalam pembuatan karya ini, saya mengendarai Royal Enfield Classic 500 ke Kotagede, daerah yang yang punya sejarah luar biasa," terang Yosafat.

"Ini sebuah perjalanan yang luar biasa yang bermula dari Seturan, Depok Sleman Yogyakarta ke Jembatan Janti, saya berkendara melewati jalanan besar dan kecil, menikmati pemandangan budaya yang indah sepanjang jalan, serta membiarkan diri saya menyatu dengan jalanan," pungkasnya.

4 dari 4 halaman

Warisan Budaya Indonesia yang Sudah Diakui UNESCO