Sukses

Tren Pilihan Akomodasi Wisata Tahun 2022

Liputan6.com, Jakarta - Berbagai pengalaman luar ruang diprediksi masih akan mendominasi tren pariwisata tahun 2022. Tidak hanya aktivitas, ekspansi gagasannya juga akan mencakup pilihan akomodasi selama menjelajah sebuah destinasi.

Ketua Pelatihan Sumber Daya Manusia di Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Alexander Nayoan menceritakan fenomena bagaimana hotel tengah laut di berbagai pulau, termasuk Kalimantan, justru penuh tahun ini. "Being outdoor masih dirasa lebih aman," katanya dalam webinar "Bobobox Market Outlook: Outdoor Travel Experience," Selasa (30/11/2021).

Di akomodasi-akomodasi macam ini, kemungkinan jaga jarak lebih mungkin dilakukan secara maksimal daripada penginapan yang berlokasi di kota berpenduduk padat. Karena itu, Alex menyarankan harus lebih banyak pihak yang mengembangkan pengalaman wisata luar ruang.

"Guest house, homestay kecil yang dulunya sulit mencari tamu, sekarang justru menimba berkah. Bisa dilihat ketika akhir pekan antara Bogor dan Jakarta saja, penginapan (berkonsep) outdoor biasanya habis," tuturnya.

Jenis akomodasi ini, Alex menyambung, akan lebih berdaya tarik jika berlokasi dekat dengan tujuan ekowisata atau atraksi wisata alam, seperti air terjun maupun hutan. "Petik buah juga jadi salah satu yang menarik," imbuh Alex.

Tidak hanya mengandalkan destinasi-destinasi populer, Alex menyebut, keberadaan akomodasi luar ruang yang menarik bahkan bisa menciptakan tujuan wisata baru. Pasalnya, pelaku perjalanan seperti milenial cenderung menginginkan pengalaman baru dan mereka berani mencoba "berjalan di luar jalur wisata konvensional."

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Pengalaman Autentik

Dalam mengantisipasi tren ini, Indra Gunawan, CEO Bobobox, mengatakan pihaknya membuka kesempatan kolaborasi untuk menambah kelengkapan pengalaman akomodasi luar ruang. Dalam membuka akomodasi, dalam hal ini Bobocabin, ia menyebut "terjun melalui sentimen konsumen."

"Kami fokus menyediakan akomodasi yang menyesuaikan perubahan kebiasaan pelanggan. Dengan menginap di lokasi berbeda, pelanggan diharapkan bisa merasakan pengalaman lokal seautentik mungkin. Caranya? Bekerja sama dengan pelaku bisnis lokal," paparnya.

Kolaborasi dinilainya sebagai kata kunci untuk membentuk self-sustain market, selain didukung regulasi yang tepat. "Saya selama sebulan berjalan mengitari Jawa dan Sumatra, dan kagum ternyata sangat banyak yang bisa dimanfaatkan, banyak yang bisa digarap (untuk memaksimalkan potensi wisata di sebuah wilayah)," imbuh Indra.

3 dari 4 halaman

Wisman Hanya sebagai Booster

Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Henky Manurung menyebut, bergerak kembalinya sektor pariwisata harus berdasarkan faktor kehati-hatian. Implementasinya termasuk menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan disiplin.

Pandemi, menurutnya, jadi kesempatan terbaik untuk memaksimalkan kunjungan wistawaran nusantara (wisnus) dan mencari cara bagaimana tren perjalanan domestik tetap berjalan secara berkelanjutan, bahkan pascapandemi. "Jadi, akhirnya wisnus adalah heroes, dan wisman (wisatawan mancanegara) hanya sebagai booster," tuturnya.

PHRI disebut telah menyebarluaskan penggunaan aplikasi PeduliLindungi dan mempromosikan Clean, Health, Safety dan Environment (CHSE). Terkait bayang-bayang ancaman COVID-19 varian Omicron, pihaknya mengaku belum bisa bicara banyak.

Namun, berkaca pada wabah sebelumnya, Alex menyebut, jika penyebaran varian Omicron berpengaruh pada pergerakan pariwisata, sifatnya hanya sementara. "Karena sudah tahu, kita bisa bersiap-siap dengan lebih baik," katanya.

 

4 dari 4 halaman

Infografis Strategi Cegah Lonjakan Kasus dan Gelombang 3 COVID-19 Saat Libur Nataru