Sukses

J-Hope BTS Pakai Setelan Jas Bermotif Mirip Batik di Debut Runway Louis Vuitton

Liputan6.com, Jakarta - Runway debut BTS di spin-off fashion film koleksi busana pria Fall/Winter 2021 Louis Vuitton berada di tengah lampu sorot atensi publik. Vogue menyebut keseluruhan pergelaran busana yang menampilkan rancangan direktur artistik LV, Virgil Abloh, itu sebagai "game changer."

Narasi "model harus bersyukur karena BTS memilih musik" kembali digaungkan para penghuni jagat maya. Namun, bagi warga Indonesia, tampilan J-Hope BTS jadi satu yang bikin salah fokus. Pasalnya, main dancer BTS ini mengenakan setelan jas yang aksennya sempat disebut mirip motif batik kawung.

Menonjolkan visual yang membuatnya disamakan dengan karakter kartun populer, Jack Frost, pemilik nama asli Jung Hoseok ini tampil menawan mengenakan setelan jas berwarna perpaduan abu, cokelat, dan biru tua. Padanan itu tampak kontras dengan sepatu merah yang dipakai Hobi, sapaan akrabnya.

Motif khas LV, yang sempat disebut mirip motif batik, muncul di kemeja, dasi, jaket, dan memenuhi setiap bagian celana panjang yang dipakai pelantun Outro: Ego tersebut. Tapi, itu sebenarnya bukanlah pemandangan baru.

Aksen serupa sudah sempat muncul pada crafty collection LV berupa tas tangan. Desainer kondang Indonesia, Musa Widyatmodjo, sempat berkomentar terkait koleksi tersebut dalam diskusi daring pada Agustus 2020, mengatakan, "Pihak Louis Vuitton sendiri tak memberi penyaatan bahwa itu batik atau terinsprasi dari batik."

Bila dilihat secara teliti, Musa menambahkan, itu bukanlah batik. "Mirip, betul. Tapi, itu bukan batik," tegasnya. Musa mengatakan, masyarakat Indonesia harusnya bangga bila ada pihak yang membuat produk menyerupai batik.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 4 halaman

Crafty Collection Louis Vuitton

Musa mengatakan, "fenomena kemiripan" ini harus dipandang dari sisi positif. "Siapa lagi mampu menginternasionalkan motif batik ke dunia? Izin atau tanpa izin, harusnya bangga. Jadikan kesempatan ini untuk membuat branding di mata dunia," tuturnya.

Setelah berhasil menarik perhatian, kata Musa, orang biasanya akan mencari akar desain tersebut, dan dalam kasus ini, jadi mengarah ke Indonesia. "Karena dalam perjuangannya, kita tak boleh cuma bisa baper, mau nangis, dan complain," ucapnya.

Musa beranggapan, dengan banyaknya adopsi motif mirip batik, berbagai pihak harusnya memanfaatkan momen dengan membuat kreasi motif batik baru yang bisa diterima masyarakat dunia. "Makanya saya bilang setop pengulangan motif masa lalu. Pasar jadi lesu. Para pembatik harus fokus melakukan dobrakan," ujarnya.

3 dari 4 halaman

Tidak Hanya Louis Vuitton

Motif dinilai mirip batik juga muncul dalam koleksi busana rumah mode Dior. Musa berkata, perancang di balik busana Dior, Maria Grazia Chiuri, memang ditunjuk untuk menghadirkan kreasi baru di koleksi lini mode mewah asal Prancis tersebut.

Yang harus digarisbawahi, sambung Musa, Dior tidak pernah menyebut koleksi yang dirilis pada Mei 2019 itu sebagai batik, melainkan wax print Afrika. "Harus dipahami bahwa istilah batik memang dari Indonesia, namun proses menggambar motif di atas kain putih pakai malam itu ada di mana-mana. China, Mesir, India, Jepang, banyak yang pakai teknik ini," Musa menjelaskan.

Kendati, antropologi yang bekerja sama dengan Dior menjelaskan, wax print Afrika memang dibawa industrialis Belanda di masa kolonial berkuasa di Indonesia. Pihaknya disebut menciptakan motif yang menurut orang Indonesia aneh, lalu dibawa ke Afrika.

"Itu (motif di koleksi Dior) bukan batik. Kita harus memisahkan antara motif dan teknik batik, itu berbeda. Sekali lagi, teknik menggambar dengan lilin di atas kain putih tak hanya dipraktikkan di Indonesia," ucapnya.

4 dari 4 halaman

Infografis Kesalahan Ketika Gunakan Masker Cegah COVID-19