Sukses

6 Fakta Menarik tentang Lhokseumawe Aceh, Lokasi Kerajaan Islam Pertama di Asia Tenggara Berdiri

Liputan6.com, Jakarta - Lhokseumawe merupakan sebuah kota di Provinsi Aceh, letaknya di pesisir timur Sumatra. Berada di antara Banda Aceh dan Medan menjadikannya sebagai jalur vital distribusi dan perdagangan di Aceh.

Kota Lhokseumawe baru terbentuk pada 2021. Daerah ini memiliki luas wilayah 181,06 km² yang dibagi dalam empat kecamatan yaitu Kecamatan Blang Mangat, Kecamatan Muara Dua, Kecamatan Muara Satu, dan Kecamatan Banda Sakti. Jumlah penduduk kota pada 2019 mencapai 207 ribu jiwa.

Nama Lhokseumawe berasal dari kata Lhok dan Seumawe. Dalam Bahasa Aceh, Lhok berarti dalam, teluk, palung laut, dan Seumawe bermakna air yang berputar-putar atau pusat mata air pada laut sepanjang lepas pantai Banda Sakti dan sekitarnya. Keterangan lain juga menyebutkan nama Lhokseumawe berasal dari nama Teungku Lhokseumawe yang dimakamkan di Kampung Uteun Bayi, yakni kampung tertua di Kecamatan Banda Sakti.

Selain itu, Lhokseumawe juga masih memiliki hal menarik lainnya. Berikut enam fakta menarik tentang Lhokseumawe yang telah dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber.

1. Lokasi Kerajaan Islam Pertama di Nusantara

Pada 1267, kerajaan Islam pertama di Nusantara didirikan. Kerajaan Samudra Pasai didirikan oleh Meurah Silu. Kerajaan Samudera Pasai merupakan gabungan dari Kerajaan Pase dan Peurlak. Meurah Silu berganti nama Malik al-Saleh dan menjadi Raja Pasai pertama. Ia berkuasa lebih kurang 29 tahun. 

Bukti-bukti arkeologis keberadaan kerajaan ini adalah makam raja-raja Pasai di Kampung Geudong, Aceh Utara. Kompleks makam ini terletak di dekat reruntuhan bangunan pusat kerajaan Samudera di Desa Beuringin, Kecamatan Samudera, sekitar 17 kilometer sebelah timur Lhokseumawe.

Kerajaan Samudra Pasai ini memiliki pengaruh besar dalam penyebaran agama Islam di Indonesia, hingga akhirnya kerajaan ini dianeksasi oleh Kesultanan Aceh pada abad ke 16. Lhokseumawe terus memainkan peran penting saat menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh. Peran penting Kota Lhokseumawe dalam sejarah Aceh bisa terlihat dari banyaknya situs bersejarah di seantero kota ini.

2. Dijuluki Kota Petro Dollar

Lhokseumawe dikenal sebagai kota penghasil gas di Provinsi Aceh. Pertambangan gas di Lhokseumawe bermula pada 1968, saat Pertamina menggandeng Mobil Oil untuk mengobservasi sumber minyak. Pada 24 Oktober 1971, kontrak bagi hasil tersebut berhasil menemukan ladang gas alam di Arun.

Ladang gas Arun menyimpan cadangan gas yang sangat besar, bahkan saat itu diestimasi sebagai cadangan gas alam terbesar di dunia. Ladang gas Arun ditaksir menyimpan cadangan gas mencapai 17,1 triliun kaki kubik.

Penemuan ladang gas Arun mendapat perhatian dari pemerintah sehingga pada 19 September 1978, Presiden Soeharto kemudian meresmikan PT Arun Natural Gas Liquefaction Co. Kinerja ekspor PT Arun sangat tinggi dan sukses merajai ekspor gas alam terbesar di dunia pada periode 90-an. Karena cadangan gas dan aktivitas kinerja ekspor itu, Lhokseumawe lalu dijuluki sebagai kota Petro Dollar.

 

 

2 dari 5 halaman

3. Pusat Industri Terbesar di Aceh

Kota Lhokseumawe juga mempunyai berbagai pabrik industri lainnya selain gas. Perusahaan pupuk nasional PT. PIM (Pupuk Iskandar Muda) juga berdiri di kota ini. Perusahaan pupuk internasional PT. AAF (Aceh Asean Fertilizer) pun ada di sini. Begitu pula dengan perusahaan kertas nasional PT. KKA (Kertas Kraft Aceh) yang dikelola langsung oleh BUMN. Kehadiran industri-industri besar di kota ini tentu saja menaikkan pendapatan kota ini.

Hal itu membuat tingkat permintaan penginapan di Kota Lhokseumawe juga terbilang tinggi. Karyawan, baik negeri dan swasta, yang bekerja di Kota Lhokseumawe sering mencari penginapan ketika dalam masa penugasan, mengingat karyawan-karyawan tersebut berasal dari luar Kota Lhokseumawe.

4. Tradisi Meugang

Seperti kebanyakan daerah di Indonesia, Lhokseumawe juga punya tradisi hari raya. Tradisi itu bernama Meugang atau Makmeugang, yakni tradisi menyembelih hewan kurban berupa kambing atau sapi. Daging kurban itu kemudian dimasak dan dinikmati bersama keluarga, kerabat, dan yatim piatu yang dilakukan masyarakat Aceh.

Tradisi ini dilaksanakan setahun tiga kali, yaitu pada Ramadan, IdulAdha, dan IdulFitri. Sapi dan kambing yang disembelih bisa berjumlah ratusan. Selain kambing dan sapi, masyarakat juga menyembelih ayam dan bebek. 

Tradisi Meugang di desa biasanya berlangsung satu hari sebelum bulan Ramadan atau hari raya, sedangkan di kota berlangsung dua hari sebelum Ramadan atau hari raya. Biasanya masyarakat memasak daging di rumah, kemudian membawanya ke masjid untuk makan bersama yang lain.

3 dari 5 halaman

5. Ikon Lhokseumawe

 

Masjid Islamic Center adalah masjid agung yang menjadi ikon Lhokseumawe. Lokasinya di jantung kota, tepatnya di Jl Balai Kota, Simpang Empat, Banda Sakti, Lhokseumawe, Aceh. Tempat itu sangat mudah dijangkau masyarakat.

Dibangun sejak 2001, masjid ini berdiri di area seluas 16.475 meter persegi. Arsitekturnya mengadopsi kemegahan masjid-masjid di Timur Tengah.

Masjid ini memiliki beragam fasilitas yaitu serbaguna, perpustakaan, madrasah diniyah, museum, wisma tamu, taman kanak-kanak dan taman pengajian Al-Quran (TPA), laboratorium serta rumah imam besar. Ikon Lhokseumawe ini jugamenjadi destinasi favorit para pelancong.

6. Kopi Pancung

Masyarakat Lhokseumawe memiliki kebiasaan unik saat menikmati kopi, yakni minum kopi berukuran setengah gelas, atau dalam kebudayaan Aceh disebut Kopi Pancung. Disebut kopi pancung, sebab isi dari kopi tersebut yang tidak penuh seperti dipancung atau dipotong. Meskipun begitu, bubuk kopi dan olahannya sama persis seperti membuat kopi dalam satu cangkir penuh.

Kopi yang dihasilkan pun sangatlah kental dan kuat. Biji kopi dari Aceh yang telah terkenal kualitasnya membuat para wisatawan tertarik untuk membeli sejumlah kopi khas Lhokseumawe, untuk dijadikan buah tangan. (Jihan Karina Lasena)

4 dari 5 halaman

Awas Lonjakan Covid-19 Libur Lebaran

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: