Sukses

Mengenal EMDR, Psikoterapi yang Dilakukan Pangeran Harry

Liputan6.com, Jakarta - Pangeran Harry tengah mencoba psikoterapi EMDR, terapi trauma yang relatif baru dalam serial barunya "The Me You Can't See". EMDR atau Eye Movement Desensitization and Reprocessing merupakan terapi yang melibatkan serangkaian gerakan mata sebagai bagian dari proses panjang untuk menerima pengalaman traumatis.

Pangeran Harry mengalami trauma akibat kejadian pada masa kecilnya saat kematian ibunya. Lantaran ia berjuang sendirian dalam mengatasi traumanya, suami Meghan Markle ini harus mengalami masa-masa buruk tersebut dalam waktu lama.

Dilansir dari Independent, Selasa, 25 Mei 2021, EMDR Institute menyebut bahwa psikoterapi ini memungkinkan seseorang untuk sembuh dari gejala dan tekanan emosional yang diakibatkan oleh pengalaman hidup yang mengganggu.

Metode ini juga memberikan waktu penyembuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan bentuk psikoterapi tradisional lain, untuk masalah-masalah seperti harga diri yang buruk, perasaan tidak berdaya dan masalah lain yang menyebabkan seseorang memerlukan pertolongan.

Secara singkat bentuk dari EMDR ini adalah menguatkan sistem positif dalam diri penderita untuk menangani trauma, sehingga secara mental dan emosional mereka jadi lebih kuat dalam menghadapi trauma yang sudah lalu. Menurut para pendukung EMDR, setiap individu memiliki sekitar 9--10 ingatan yang membekas dalam memori, serta bisa menjadi sumber kekacauan seseorang.

Selain untuk mengatasi trauma di masa lalu, EMDR juga berfungsi untuk mengatasi depresi dan cemas berlebih, menangani serangan panik, gangguan makan, serta ketergantungan pada substansi tertentu. Efektivitas dari terapi metode ini akan berlaku hingga jangka panjang meski sesi terapi telah usai, pasien yang mendapatkan terapi ini akan lebih sadar atas pikirannya sendiri.

2 dari 4 halaman

Tahapan dalam Psikoterapi EMDR

Psikoterapi EMDR memerlukan beberapa tahap untuk dilalui para pasiennya. Tahapan-tahapan tersebut meliputi:

Tahap 1

Psikiater mulai memahami kebutuhan pasiennya dan mengembangkan rencana serta ingatan yang perlu menjadi fokus perawatan. Lamanya fase pertama ini berkaitan dengan seberapa dalam trauma tersebut.

Kasus trauma di masa dewasa dapat diselesaikan dalam lima jam atau lebih. Namun, bagi beberapa orang yang menyaksikan banyak peristiwa yang membuat mereka merasa stres dan tertekan, seperti tentara mungkin memerlukan sesi tambahan.

Tahap 2

Psikiater akan mencari hal di dalam diri pasien yang bisa dijadikan sebagai sumber untuk menangani bentuk trauma. Terkadang dalam tahap ini, psikiater juga memberikan informasi, saran, dan masukan agar pasien memiliki gambaran positif mengenai dirinya, kekuatan emosional, serta nilai-nilai positif yang ada dalam diri pasien.

Tahap 3--6

Tahap ini adalah tahapan dari terapi EMDR yang sesungguhnya. Pasien akan diajak untuk kembali mengingat sumber yang menyebabkan ia mengalami trauma. Bersamaan dengan ini, psikiater akan menginput melalui pergerakan mata, suara, ketukan nada, serta beberapa hal lain. Hal ini dilakukan untuk mengubah image tentang trauma menjadi suatu image yang lebih positif.

Tahap 7

Pada tahap ini pasien akan diminta untuk mengisi jurnal atau membuat buku harian yang berisi kesehariannya selama beberapa minggu setelah terapi selesai dilakukan. Hal ini bermaksud untuk mengetahui apakah ada gejala lain, pemicu baru, atau keluhan yang dirasakan pasien.

Tahap 8

Tahap terakhir dari sesi terapi EMDR, di mana pasien dan psikiater secara bersama-sama melihat hasil dari proses EMDR. Pada tahap ini akan dinilai apakah EMDR berhasil atau ada metode lain yang diperlukan untuk membantu pasien secara lebih lanjut. (Dinda Rizky Amalia Siregar)

3 dari 4 halaman

Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: