Sukses

Pria Terakhir Suku Penghuni Hutan Amazon Brasil Meninggal karena COVID-19

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi COVID-19 menyebabkan tak sedikit orang mengalami kehilangan mendalam. Yang belum lama tercatat adalah duka atas kepergian Aruka, pria terakhir dari suku Juma, kelompok adat penghuni Hutan Amazon, Brasil.

Melansir laman BBC, Kamis, 25 Februari 2021, Aruka berpulang setelah berjuang melawan infeksi virus corona baru. Kepergiannya pekan lalu jadi pukulan tersendiri bagi suku yang jumlahnya berkurang dari sekitar 15 ribu pada awal abad ke-20 jadi hanya enam orang di era 1990-an tersebut.

Aruka adalah pria terakhir dalam kelompok itu. Tapi, seperti yang dilaporkan Juliana Gragnani dari BBC News Brazil, cucunya telah mengambil langkah tak biasa untuk memastikan warisan sang kakek tetap dipertahankan.

Umur persis Aruka tidak diketahui, tapi ia diperkirakan berusia antara 86--90 tahun. Semasa hidupnya, Aruka telah menyaksikan berkurangnya suku Juma secara konstan, di mana dulunya beribu-ribu orang pernah memancing, berburu, dan tinggal di wilayah selatan negara bagian Amazonas.

Menyusul serangkaian pembantaian yang dilakukan para pencuri karet dan penyebaran penyakit mematikan, jumlah anggota suku Juma menyusut hingga keluarga Aruka jadi satu-satunya yang tersisa.

"Ia selalu berbicara dengan sedih tentang bagaimana di masa lalu ada banyak (warga suku) Juma, dan bagaimana sekarang ia adalah orang terakhir yang tersisa," kenang Gabriel Uchida, seorang fotografer yang telah mendokumentasikan kehidupan suku Juma.

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 5 halaman

Melawan Tradisi demi Warisan Leluhur

Aruka tercatat memiliki tiga anak perempuan, tapi dengan "kehancuran" suku Juma saat dewasa, mereka menikahi pria dari kelompok adat Uru-eu-wau-wau. Menurut sistem patrilineal suku ini, artinya cucu dan cicit Aruka dianggap sebagai bagian dari suku ayah, bukan ibu mereka.

Walau dengan melanggar tradisi, beberapa cucu Aruka memutuskan mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Uru-eu-wau-wau, sekaligus Juma. "Kami akan melanjutkan tradisi masyarakat kami," Bitate Uru-eu-wau-wau mengatakan. "Ia (Aruka) bersama kita, tinggal bersama kita, dan mewakili rakyat kita melalui cucu dan cicitnya di masa mendatang."

Sepupu Bitate yang berusia 18 tahun, Kuaimbu, menggemakan sentimen serupa. "Kami tidak ingin perjuangan rakyat kami dilupakan. Kami bangga dengan perjuangan kakek dan ibu kami, dan kami ingin melanjutkannya," tuturnya.

Kuaimbu telah memasukkan nama belakang mendiang kakeknya ke dalam namanya sendiri dan menyebut dirinya Kuaimbu Juma Uru-eu-wau-wau. Perubahan itu rencananya akan segera diresmikan sehingga tercatat dalam kartu identitas. "Saya adalah cucu Juma, orang Juma. Saya berhak memiliki Juma pada nama saya," jelasnya.

Aktivis hak adat, Ivaneide Bandeira, mengatakan bahwa memasukkan "Juma" ke dalam nama belakang adalah langkah yang belum pernah dilihat di kelompok adat patrilineal lain. "Ini adalah pesan bahwa mereka ada di sini untuk tinggal," jelas Bandeira dari Asosiasi Perlindungan Lingkungan-Etno Kaninde.

Bitate mengatakan bahwa sang mendiang kakek telah mewariskan sebagian pengetahuannya sebelum meninggal. Dua tahun lalu, Aruka memenuhi mimpinya yang telah lama diidamkan, yakni membangun rumah panjang leluhur. "Ia mengajari saya tentang arsitekturnya, cara membangunnya, dan sekarang saya tahu cara membangun rumah panjang Juma," kata Bitate.

3 dari 5 halaman

Kisah Kematian Suku di Amazon

Bandeira mengatakan bahwa kisah suku Juma juga terjadi pada banyak kelompok adat Amazon. Cerita semacam ini kemudian dikenal sebagai "kisah kematian." Sejak 1940-an, suku Juma jadi sasaran orang-orang yang mengejar kekayaan tanah mereka, menurut Prof Luciana França dari Universitas Federal Para Barat.

Pembantaian terakhir orang Juma yang didokumentasikan adalah pada 1964, ketika penyadap karet dari komunitas terdekat membunuh puluhan pria Juma, kata antropolog tersebut.

Bagi Bandeira, sungguh mengejutkan bahwa pria terakhir yang selamat dari pembantaian dan penyakit yang menewaskan ribuan rakyatnya meninggal karena COVID-19.

Ia menyalahkan pemerintah negara bagian Brasil atas "ketidakmampuan memberi perlindungan" untuk mencegah virus mencapai desa Aruka. Ia mengatakan bahwa siapa pun yang memasuki desa harus menjalani tes dan karantina untuk mencegah penyebaran virus.

Cucu Aruka, Bitate, pun menggemakan kritiknya. "Kami jauh dari kota dan hanya ada sedikit perjalanan. Penyakit itu seharusnya tidak pernah sampai ke kami. Pemerintah tidak peduli. Itu karena kurangnya tanggung jawab pihak mereka," katanya.

Kematian Aruka disebut bukanlah kasus tunggal. Menurut Sekretaris Khusus Kesehatan Adat (Sesai), dari total 896,9 ribu penduduk asli di Brasil, 572 meninggal karena COVID-19.

 

4 dari 5 halaman

Waspadai 3 Gejala Khusus COVID-19 pada Lansia

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: