Sukses

Deretan Menu Makan Malam dari Warung Wakaka, Tampilan Kekinian Rasa Tetap Rumahan

Liputan6.com, Jakarta - Dikenal sebagai salah satu tempat nongkrong anak muda, Warung Wakaka menghadirkan deretan menu makan berat untuk makan malam dengan tampilan kekinian. Meski begitu, cita rasanya tetap melokal alias masih selaras dengan lidah orang Indonesia.

Sate taichan menjadi menu pertama yang saya cicipi. Berbeda dari biasanya, porsi yang tersedia mulai dari selusin alias 12 tusuk.

"Kamu bisa pilih berbagai macam ukuran sate taichan dimulai dari 1 lusin, 2 lusin, 1/2 kuintal, 2 kuintal atau bahkan kamu bisa pilih sate kulit taichan," kata Verawaty, Head of Marcomm Wakaka Group, kepada Liputan6.com, beberapa waktu lalu.

Masing-masing tusuk berisi empat potong daging ayam seukuran sebuku jari. Satai yang terkenal dengan bumbu kecap tanpa saus kacang itu dikemas dalam kertas nasi cokelat yang dilapisi lagi plastik di bagian luar. Ya, Warung Wakaka menyediakan layanan pesan antar menyiasati masa pandemi ini.

Harum daging ayam bakar langsung menguar. Potongan dagingnya terlihat mengkilat, tanda ada bumbu tambahan untuk menambah cita rasa satai.

Gurih seketika terasa di lidah, dominan asin. Potongan dagingnya juga empuk membuat Anda tak perlu ragu menyodorkannya kepada anggota keluarga yang sudah sepuh. Tambahkan sambal dan perasan jeruk limo, rasa satai bakal makin kaya. Tapi, saya memilih untuk menyantap sate taichan dalam rasa orisinal, hanya lebih pedas saja.

Tak lengkap makan sate taichan tanpa nasi. Wakaka memiliki nasi uduk yang sudah menarik perhatian saya sejak membuka daftar menu. Meski disebut nasi uduk, tampilannya mirip tumpeng mini. Hanya saja, warnanya biru.

"Itu organik dari bunga telang," kata Vera lagi.

Satu paket nasi uduk rakyat dilengkapi berbagai macam lauk, yakni bihun goreng, telur balado, bakwan jagung, sambal goreng kentang, dan orek tempe. Porsinya masing-masing sekitar dua sendok makan, cukup besar bila dikumpulkan jadi satu. Tambah satai taichan, makin kenyang.

Kalau perut Anda tak sanggup menampung sendirian, berbagilah. Satu porsi nasi uduk ini bisa dimakan untuk makan malam untuk dua hingga tiga orang. Sambal goreng ati ayam menjadi favorit saya. Kentangnya dipotong dadu dan digoreng tak terlalu kering, sementara atinya tetap terasa moist meski garing di permukaan.

"Terinspirasi dari mengolah dan memanfaatkan bahan organik menjadi makanan yang bisa dikonsumsi masyarakat," sambung Vera saat ditanyakan soal ide pencetus menu tersebut.

2 dari 3 halaman

Menu Ringan

Bila Anda mencari menu yang lebih ringan, Warung Wakaka memiliki sederet camilan. Martabak telur smoked beef dengan topping mozarella bisa menjadi pilihan. 

Lapisan martabaknya cukup tebal dengan daun bawang dan daging iris yang melimpah. Setidaknya, setiap kali menggigit, Anda bisa menemukan kedua isian itu. Karena berisi smoked beef, setiap gigitan akan terasa lebih kenyal dibandingkan martabak daging cincang konvensional.

Satu porsi martabak berisi sekitar 12 potong berukuran sedang. Tersedia acar dan cuka sebagai pendamping. Martabak ini lebih nikmat dikonsumsi hangat-hangat, sensasi mozarella melelehnya bikin nagih, walau ujung-ujungnya dua potong saja sudah cukup.

Ingin yang manis? Vera merekomendasikan roti jasuke alias jagung, susu, dan keju. Roti kampung tebal dua lapis itu memiliki isian yang melimpah, terutama keju cheddar parutnya. Meski disantap agak lama sejak disajikan, roti tetap empuk dan lembut saat digigit.

Nah, pelengkap pamungkasnya adalah kopi kampung yang tersedia dalam ukuran 1 liter seharga Rp80 ribu per botol. Kopi kampung merupakan kopi susu yang dicampur gula aren cair. Tak ada ampas sama sekali. Kadar manisnya juga tak bikin eneg. Kabarnya, varian kopi kampung adalah yang terlaris dari lima varian yang tersedia.  

"Kopi literan warung wakaka yang memiliki lima varian,  Red Velvet latte, Taro Latte, kopi kampung, Green tea latte, dan Belgian chocolate," ujar Vera.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: