Akademisi UNJ: Indonesia Perlu Lebih Aktif Bela Palestina

Helvy Tiana Rosa, seorang sastrawan dan akademisi di UNJ menyuarakan pandangannya terhadap kebebasan Palestina.

Diterbitkan 24 Juli 2026, 22:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penulis dan akademisi dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Helvy Tiana Rosa menilai perhatian publik terhadap tragedi kemanusiaan di Gaza mulai memudar seiring berjalannya waktu. Menurutnya, paparan informasi mengenai pembantaian warga sipil yang terus berlangsung justru membuat sebagian masyarakat perlahan menganggap kondisi tersebut sebagai sesuatu yang biasa.

Pernyataan itu disampaikan Helvy saat peluncuran dan bedah buku terbarunya, Gaza: Suatu Malam di Jakarta, di Jakarta, Jumat (24/7/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti pentingnya peran Indonesia dalam terus menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina.

“Saya kira ini pertama kali di dunia dalam tiga tahun terakhir pembantaian atau genosida itu terpampang nyata di televisi dan di media sosial secara terbuka. Akhirnya orang-orang yang awalnya kaget dan terkejut, lama-lama menjadi terbiasa,” kata Helvy.

Menurut Helvy, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi semua pihak untuk terus mengingatkan masyarakat mengenai situasi yang terjadi di Palestina agar tragedi kemanusiaan itu tidak dilupakan.

Selain peran individu, Helvy menilai Indonesia sebagai negara juga perlu mengambil langkah yang lebih aktif dalam mengadvokasi kemerdekaan Palestina di tingkat internasional.

“Kita sejak dulu dikenal sebagai bangsa yang menjalankan politik luar negeri bebas aktif dan berperan dalam perdamaian dunia. Sekarang peran itu menurut saya sudah tidak terlalu terlihat,” ujarnya.

Ia menilai Indonesia memiliki modal yang cukup besar untuk memberikan kontribusi lebih luas bagi perjuangan rakyat Palestina.

“Menurut saya, dengan sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia, kekayaan alam, serta modal dasar yang kita punya, Indonesia bisa berperan lebih jauh untuk membantu menegakkan kemerdekaan Palestina,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Helvy juga menyoroti penggunaan istilah dalam pemberitaan mengenai situasi di Gaza. Menurut dia, pilihan kata yang digunakan media maupun berbagai pihak akan memengaruhi cara publik memahami peristiwa yang terjadi.

Ia menilai penggunaan istilah “konflik” kerap menimbulkan kesan bahwa kedua pihak memiliki posisi dan kekuatan yang setara. Padahal, menurutnya, istilah yang lebih tepat untuk menggambarkan situasi tersebut adalah “genosida” dan “pembantaian.”

“Memang pakar itu harus memakai istilah yang tepat. Istilah yang tepat itu adalah genosida, pembantaian,” ujarnya.

Helvy juga menegaskan bahwa sastra memiliki peran penting dalam menyampaikan realitas kemanusiaan yang tidak selalu dapat tergambarkan melalui pemberitaan.

“Bukan hanya mengajak orang untuk berempati, bukan hanya menginspirasi, tetapi melalui sastra, hal-hal yang tidak bisa diinfokan oleh berita itu bisa diinfokan,” katanya.

Ia berharap semakin banyak masyarakat yang berani menyuarakan kondisi di Palestina melalui berbagai medium, termasuk karya sastra, sebagai bentuk kepedulian terhadap tragedi kemanusiaan yang masih berlangsung.