Sukses

Mewaspadai Risiko Tinggi Dibalik Beragam Kemudahan

Liputan6.com, Jakarta - Layanan keuangan berbasis aplikasi atau lebih dikenal dengan sebutan financial technology (fintech) makin marak di Tanah Air. Cara untuk mengaksesnya pun kian mudah sehingga banyak masyarakat yang menggunakannya.

Hal itu membuat Fintech tidak bisa diatur terlalu ketat, harus sesuai azas light touch regulation, namun sekaligus juga tak bisa dilepaskan begitu saja. Harus ada safe harbourpolicy untuk mengatur tanggung jawab penyedia layanan.

Hal itu disampaikan oleh Triyono Gani selaku Direktur Eksekutif Inovasi Keuangan Digital Otortas Jasa Keuangan pada sesi kedua ajang Connect 2019, pada 31 Oktober 2019 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan. Di acara talkshow garapan Traya dan KitaTama ini, Triyono mengungkapkan bahwa pertumbuhan di Indonesia luar biasa pesat, padahal pada 2017 sektor ini masih gelap gulita.

"Perkembangan yang luar biasa tersebut akibat tingkat adopsi dan akseptabilitas masyarakat yang tinggi," ucap Triyono. "Namun masyarakat juga harus diingatkan bahwa di samping kemudahan dan kegratisan yang selama ini disodorkan ada risiko tinggi yang menanti. OJK ingin agar industri ini aman dan tertata dengan baik. Regulator tidak akan tinggal diam," tambah Triyono.

Kepada masyarakat Triyono menghimbau untuk selalu memilih fintech yang terdaftar di OJK atau Bank Indonesia (BI) untuk meminimalisasi risiko yang mungkin timbul di kemudian hari. Dengan terdaftar di OJK atau BI maka pelanggan akan mendapat perlindungan jika terjadi permasalahan.

Menurut Triyono, beberapa potensi risk di balik maraknya layanan fintech, yaitu system failure, misinformation, error transaction, data security, penerapan Know Your Concumer(KYC) principles, suku bunga yang mencekik, exoneration clause, dan cara penanganan komplain dari pelanggan.

Sementara kepada para startup dan penyedia layanan fintech, OJK telah selalu mengingatkan bahwa layanan mereka berada dalam ranah finansial yang highly regulated, oleh karena itu mereka tidak bisa sembarangan dalam menjamin keamanan pelanggan.

Di lain pihak, pada forum yang sama, Yattha Saputra (Chief Financial Officer Dana) menegaskan bahwa sejak awal obsesi Dana adalah menjamin security.

Oleh sebab itu ada program Dana Protection, yaitu jaminan uang kembali 100 persen jika ada kesalahan yang mengakibatkan kehilangan uang yang tersimpan atau ditransaksikan di Dana. Selain via layanan telepon, disediakan pula fitur khusus di aplikasi untuk melaporkan komplain pelanggan dan akan segera di-followup.

"Ada juga keanggotaan Dana Premium yang akan memastikan bahwa pengguna adalah si empunya sendiri sesuai yang tercantum di identitas sehingga praktis akan lebih aman karena ada proses KYC," jelas Yattha.

"Jangan lupa juga bahwa di Dana ada juga kebijakan untuk tidak men-share data ke pihak mana pun," sambungnya. KYC atau Prinsip Mengenal Nasabah merupakan prinsip yang sangat penting bagi penyelenggaraan layanan finansial.

Sugiharto selaku Vice President of Risk & Operation Doku menyampaikan bahwa KYC juga merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan keamanan layanan di Doku. Hal itu sekaligus memberikan kemudahan kepada pelanggan baru dalam melakukan registrasi dan mengelola keanggotaan.