Sukses

Keren, Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto Masuk Nominasi Warisan Dunia UNESCO 2019

 

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia memasukkan satu wakil dalam daftar nominasi Warisan Dunia UNESCO 2019. Tambang batubara Ombilin di Sawahlunto, Sumatera Barat, yang berada di kawasan Bukit Barisan, namanya.

Penentuan pemenang nominasi warisan dunia masih akan dibahas pada pertemuan World Heritage Commitee (WHC) UNESCO ke-43 di Baku, Azerbaijan, pada 30 Juni-10 Juli 2019. Dilansir dari laman resmi Kementerian Luar Negeri, setidaknya ada tiga nilai menakjubkan dari penominasian Tambang Batubara Ombilin di Sawahlunto sebagai Warisan Dunia.

Pertama, Dirjen Kerjasama Multilateral Kemlu Febrian Ruddyard menyebutkan, Tambang Ombilin menunjukkan perkembangan teknologi perintis abad ke-19 yang menggabungkan antara ilmu teknik pertambangan bangsa Eropa dengan kearifan lingkungan lokal, praktik tradisional, dan nilai-nilai budaya dalam kegiatan penambangan batubara yang dimiliki oleh masyarakat Sumatera Barat.

Kedua, hubungan industri tambang batubara, sistem perkeretaapian, dan pelabuhan berperan penting bagi pembangunan ekonomi dan sosial di Sumatera dan di dunia. Perpaduan antara pendekatan unik metode fusion dan hubungan sistemik ini bahkan diadopsi oleh tambang batu bara di Afrika Selatan pada pendudukan Belanda di sana.

Ketiga, nominasi Ombilin menggambarkan dinamisnya interaksi sosial dan budaya antara dunia Timur dan Barat, yang berhasil mengubah daerah tambang terpencil menjadi perkotaan dinamis dan terintegrasi, yang terdiri dari masyarakat multi-etnis dan multi-agama.

Dilansir dari laman whc.unesco.org, Sawahlunto merupakan kota tambang batubara tertua di Asia Tenggara. Kawasan itu dikelilingi sejumlah bukit, seperti Bukit Pola, Bukit Pari, dan Bukit Mato.

Pemerintah kolonial Belanda lah yang pertama kali menemukan dan mengeksploitasi cadangan batubara di tempat itu pada akhir abad 19. Sejak itu, kawasan pedesaan berkembang dan menjadi situs pertambangan.

 

2 dari 3 halaman

Sejarah Tambang Ombilin

Pemerintah Belanda sebenarnya pertama kali mengekskavasi cadangan batubara di Pengaron, Kalimantan, pada abad 18, dengan menerapkan teknologi mesin uap. Namun, kualitas batubara yang diharapkan tidak sesuai ekspektasi.

Pada 1858, pemerintah Belanda kemudian menemukan cadangan batubara di sawahlunton mencapai 200 juta ton. Cadangan mentah itu bisa digunakan untuk mendukung beragam aktivitas, seperti industri, kereta api dan sistem jalur kereta, hingga pengapalan.

Eksploitasi batubara dan bahan tambang lainnya itu membuat Sawahlunto terpapar ke dunia luar. Pasalnya, pemerintah pendudukan membangun sejumlah jalur kereta untuk mengangkut bahan tambang yang dihasilkan dari Sawahlunto ke pantai barat Sumatera.

Industri semakin berkembang ketika pada 1883, pemerintah Belanda membangun Pelabuhan Emmahaven atau yang kini dikelar sebagai Teluk Bayur dan menjadi pelabuhan pengapalan batubara untuk ekspor, dilanjutkan dengan konstruksi jalur kereta api dari Pulau Air Padang ke Muaro Kalaban hingga sampai ke Sawahlunto pada 1887-1892.

Hal itu mengubah Sawahlunto dari kawasan pedesaan menjadi lahan indusri. Pemerintah kolonial mempekerjakan ahli pertambangan dari daerah jajahan untuk mengelola tambang. Sementara itu, tenaga kerja didapat dari para tahanan, Orang Rantai, dan buruh rendahan dari berbagai daerah, termasuk orang-orang Cina yang didapat dari pasar tenaga kerja Singapura.

Selama dua abad, tambang itu beroperasi dengan beragam lapisan orang, budaya, tradisi yang terlibat. Beberapa di antaranya bahkan masih eksis hingga sekarang.

Mendekati 2000, Bukit Asam sebagai perusahaan yang mengelola tambang itu memutuskan menutup lokasi tersebut. Kini, pemerintah kota setempat berjuang menjadikan Sawahlunto sebagai Kota Wisata Tambang yang Berbudaya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Sensasi Menginap di Pusat Kota Ditemani Mural Wajah Jakarta
Artikel Selanjutnya
6 Trik Menghemat Bujet Saat Melepas Penat dengan Berwisata