Sukses

The Little Hijabi, Berawal dari Kesulitan Perempuan Tuli Cari Ilmu Agama Islam

Liputan6.com, Jakarta - Sepintas, tak ada yang aneh dari sosok Galuh Sukmara Soejanto, perempuan tuli yang akrab disapa dengan Bunda Galuh. Perempuan asal Banjarnegara, Jawa Tengah, itu baru menampakkan keistimewaannya saat Liputan6.com hendak mewawancarainya di sela acara Media Gathering dan Buka Puasa Bersama Wardah, beberapa waktu lalu.

Perempuan berhijab itu merupakan pendiri The Little Hijabi, rumah belajar khusus untuk anak-anak tuli yang dibuka di daerah Bekasi pada 2013 lalu. Konsep rumah belajar itu sudah dipikirkan sejak 2001. Ia terinspirasi dengan Universitas Galaudet, kampus ternama di Amerika Serikat yang diisi banyak orang tuli, mulai dari rektor, dosen, hingga para mahasiswa.

Namun, asa membangun The Little Hijabi sebenarnya sudah lama ada. Hal itu berangkat dari kegelisahannya yang selama 30 tahun tidak punya akses untuk belajar agama Islam.

"Aku tidak paham membaca Alquran, bagaimana mendengarkan kajian Islam. Lelah sekali. Padahal, aku mencari siapa yang menciptakan diriku, mengapa aku diciptakan jadi tuli," tutur Bunda Galuh dalam bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh stafnya, Gea.

Ia menegaskan, The Little Hijab bukanlah sekolah Islam, tetapi guru-guru tuli yang dipekerjakannya berusaha mengajarkan membaca Alquran. Selain materi itu, para siswa juga belajar tentang karakter, adab, dan kisah-kisah Islami.

Ada sekitar 30 anak yang belajar di tempat itu, dari usia 8-22 tahun. Mereka bukannya tak pernah mengenyam pendidikan, tetapi pola belajar di SLB konvensional yang dinilai memaksa anak tuli menguasai bahasa orang normal membuat mereka terpaksa mengulang pembelajaran.

"The Little Hijabi di mana anak-anak belajar ini melibatkan orangtua. Peranan orangtua dominan dibanding guru. Anak-anak harus komunikasi dengan orangtua mereka. Orangtua jadinya ikut belajar bahasa isyarat. Itu ada perjanjiannya," tuturnya.

2 dari 3 halaman

Kekosongan Hati

Galuh mengenang saat masih menjadi mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Masuk ke kampus peringkat 2 nasional itu meninggalkan kesan mendalam.

Ia merasa tersiksa. Selama sembilan tahun kuliah, ia dipaksa membaca gerak bibir dosen yang terkadang sulit untuk diikuti. Ia juga tak memiliki akses penerjemah.

"Itu buang-buang waktu sekali. Tuli dipaksa untuk bahasa oral, potensinya menurun. Tapi kalau tuli diberikan akses, pencapaiannya akan sama dengan orang dengar," kata dia.

Ia menyebut pendidikan yang tersedia untuk orang tuli saat ini, tidak paham bagaimana mengajar orang tuli. Yang paling esensial adalah banyak sekali SLB yang memaksa siswanya untuk belajar oral atau para orangtua memberikan alat bantu dengar bagi anak-anak tuli.

"Saya merasa tidak menjadi diri sendiri. Hati saya kosong, hampa (saat berbahasa oral)," katanya.

Tak mau anak-anak tuli mengalami seperti dirinya, ia pun membuat metode pelajaran sendiri di The Little Hijabi dengan merujuk pada pendidikan di luar negeri. Ia berharap usahanya bisa membuat perubahan bagi anak-anak tuli mendatang.

"Sekarang, kebanyakan anak-anak tuli tidak bisa berkomunikasi di rumah, di sekolah, di rumah sakit saat mau berobat, atau di restoran. Banyak sekali salah paham," katanya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Cerita Angkie Yudistia, Stafsus Disabilitas Jokowi di Hari Pertama Bertugas