Sukses

Masjid Jami’ah Al-Muslimin Berdiri di Jantung Negara Komunis Vietnam

Liputan6.com, Jakarta Berpuasa di negara asing terkadang membawa perasaan sentimental sendiri. Itulah yang kami rasakan sejak pertama menginjakkan kaki di negara Vietnam hanya beberapa hari menjelang ramadan tiba.

Perasaan sentimental tersebut membawa kami menelusuri ibukota Vietnam Ho Chi Minh City untuk mencari masjid. Menurut catatan, terdapat beberapa masjid di Ho Chi Minh City, Vietnam. Salah satunya adalah The Central Mosque yang terletak di Jalan Dong Du.

Mengikuti peta, dari penginapan kami di kawasan Pham Ngu Lao kami mengarahkan langkah kaki ke Jalan Dong Du yang masih berada di pusat kota Ho Chi Minh City.

Menemukan masjid di negara yang beraliran komunis tersebut tidak semudah menemukan objek wisata lainnya. Beberapa kali kami bertanya pada warga lokal dan polisi lalu lintas di kawasan Jalan Dong Du, tapi tidak ada yang mengetahui keberadaan masjid tersebut. Kami memutuskan berputar-putar sendiri hingga akhirnya menemukan masjid tersebut berada persis di samping Sheraton Hotel, Vietnam yang tinggi menjulang.

 

2 dari 3 halaman

The Central Mosque

The Central Mosque atau yang lebih dikenal dengan Masjid Jami’ah Al-Muslimin berdiri menyempil di antara bangunan tinggi menjulang di pusat kota. Masjid ini dibangun sekitar tahun 1935 oleh pedagang dari India yang menjalankan bisnis di wilayah itu. Masjid tua tersebut merupakan masjid terbesar dan tertua di Ho Chi Minh City. Menemukan masjid di negara yang beraliran komunis ini membuat kami merasa terharu.

Masjid Jami’ah Al-Muslimin dibangun dengan gaya arsitektur khas India dengan empat menara kecil dan ramping yang berdiri di tiap sudutnya. Bangunannya dilengkapi dengan serambi yang lumayan luas dan mampu menampung sekitar 300 jamaah. Terdapat halaman di depan masjid yang dinaungi oleh pepohonan. Tepat di sebelah masjid, terdapat sekolah islam (madrasah) yang diperuntukkan bagi putra-putri umat muslim yang belajar mengaji atau belajar tentang agama Islam.

Uniknya, cara mengambil wudhu di masjid ini tidak sama seperti di Indonesia yang langsung dari keran. Tempat wudhu berbentuk kolam segiempat yang cukup besar dan disediakan gayung di pinggir-pinggirnya. Untuk mengambil wudhu, jamaah langsung mencelupkan tangan mereka ke kolam tersebut dan membasuh tangan dengan menggunakan gayung yang sudah disediakan.

 

3 dari 3 halaman

Sholat berjamaah di negara asing

Kami tiba di masjid tersebut menjelang Ashar. Kami memutuskan untuk ikut sholat berjamaah dengan makmum sekitar 30 orang yang berasal dari banyak negara melihat raut mukanya. Merasakan sholat berjamaah di negara asing membuat hati serasa sejuk dan damai. Apalagi di masjid tersebut kami dipertemukan dengan beberapa orang Indonesia yang sedang bekerja di sana. Kami juga bertemu dan mengobrol dengan warga lokal yang tertarik menganut agama Islam dan ingin mempelajari seluk beluk Islam.

Seusai sholat jamaah, kami memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan berkeliling ibukota dan mencari makanan halal sebagai menu berbuka puasa. Sayang kami tidak bisa mengikuti sholat tarawih di masjid tersebut karena alasan waktu yang tidak cukup. Menurut papan informasi yang terdapat di serambi masjid, sholat tarawih akan dilaksanakan pada pukul 8 malam kemudian besoknya pada pukul 7.45 waktu setempat.

Masjid Jami’ah Al-Muslimin berhasil mengobati kerinduan kami akan suasana Ramadan yang semarak di Indonesia. Bisa merasakan sholat berjamaah dan bertemu saudara-saudara seiman di negara asing membuat kami merasa senang dan bersyukur.

Ana Fauziyah

 

Artikel Selanjutnya
Ingin Adukan soal THR, Kemenaker Minta Pekerja Penuhi Hal Ini
Artikel Selanjutnya
7 Trik Jitu agar Tubuh Tetap Prima dan Ideal Selama Berpuasa di Bulan Ramadan