Sukses

Melihat Genevieve, Mendobrak Konstruksi Sejarah Seni Rupa Bali

Liputan6.com, Jakarta Institut Prancis di Indonesia (IFI) bekerja sama dengan Galeri Nasional menggelar pameran lukisan dan gambar bertajuk “Genevieve Couteau: The Orient and Beyond”. Digelar mulai 25 Januari hingga 14 Februari 2018 di Galeri Nasional, Jakarta, pameran ini menjadi sarana untuk memperkenalkan karya perupa perempuan modern, Genevieve Couteau, sekaligus memantik lagi diskusi mengenai konstruksi sejarah seni rupa di Asia, khususnya Bali.

Jean Couteau, anak dari Genevieve sekaligus penggagas acara ini menurut informasi yang diterima Liputan6.com, Selasa (23/1/2018), mengatakan, pameran ini menjadi bukti adanya perupa lain di luar seniman-seniman ikonik pada 30-an hingga tahun 50-an yang selama ini dikenal, seperti Walter Spies, Rudolf Bonnet, Le Mayeur, dan Blanco.

“Bahkan Genevieve Couteau telah menghasilkan karya yang tak kalah menarik, dengan pendekatan yang lebih universal dan lebih feminin ketimbang para maestro sebelumnya,” ungkap Jean.

 

1 dari 3 halaman

Sejarah Hidup Genevieve

Menurut catatan Jean, Genevieve Couteau lahir pada tahun 1925 dan dibesarkan di tengah keluarga trader saham yang ulet. Menjelang Perang Dunia II, bersama keluarganya, ia mengungsi ke kota Nantes di mana ia melanjutkan sekolah hingga menikah dengan Joseph Couteau (1916-2004), seorang dokter hewan dari kota Clisson. Pasangan ini kemudian memiliki tiga anak, yaitu Edmée, Jean, dan Pierre.

Lulusan terbaik sekolah tinggi Beaux-Arts Nantes (1951), Geneviève Couteau tampil sebagai pelukis terkemuka di Paris dan dianugerahi piagam bergengsi Prix Lafont Noir et Blanc pada 1952. Ia juga menulis buku “Mémoire du Laos” (Seghers, 1987) yang berisi pengalamannya datang ke Laos atas undangan Pangeran Souphanna Phouma dan buku kumpulan cerpen “Mykonos, Chronique d’une Ile” (Maisonneuve et Larose, 2002).

 

2 dari 3 halaman

Pertemuan dengan Bali

Genevieve kemudian mengunjungi Bali dan bermukim selama beberapa waktu. Tak heran jika beberapa karyanya menampilkan sudut pandang khas seorang perempuan yang ketika berhadapan dengan “sang liyan” justru dengan empati menekankan persamaan jati dirinya. Geneviève Couteau wafat pada 17 Desember 2013 dengan meninggalkan banyak karya dan jejak perburuan estetik.

Artikel Selanjutnya
Galeri Nasional Indonesia Buka Lowongan Kerja, Ini Kriterianya