Sukses

Muncul Petisi Tolak Proyek Antologi Puisi Esai Denny JA

Liputan6.com, Jakarta Nama Denny JA kembali ramai dibicarakan jagat sastra tanah air. Setelah heboh dengan terbitnya buku “33 Tohoh Sastra Paling Berpengaruh” yang mencantumkan namanya, Denny JA kembali bikin gaduh dengan proyek penulisan buku puisi esai nasional yang melibatkan banyak penyair muda.

Matdon, Rois’Am Majelis Sastra Bandung kepada Liputan6.com, Minggu (22/1/2018) mengatakan, para penyair dan pegiat seni sastra di tanah air menganggap, ada banyak nama yang bersedia ikut proyek tersebut karena tergiur tawaran uang. Ini yang membuat para komunitas sastra di tanah air perlu melakukan sebuah penyadaran bahwa apa yang dilakukan Denny JA dapay merusak susastra Indonesia.

"Denny memang pesan puisi esai ke banyak penyair, saya juga ditawari. Satu puisi Rp5 juta, kepada 170 orang agar dia akui sebagai tokoh. Memang tak ada larangan untuk berkarya, tapi soal keinginan Denny disebut sebagai tokoh sastra dan klaimnya bahwa puisi esai adalah yang pertama, itu yang merusak, padahal puisi esai sudah ada sejak lama,” ungkap Matdon.

Penolakan para penyair terhadap Denny JA kemudian berbuah petisi. Dalam petisi yang dikeluarkan Penyair Muda Indonesia tertanggal 17 Januari 2018 tersebut diungkap, setidaknya ada tiga alasan mengapa proyek Antologi Puisi Esai yang digagas Denny JA yang melibatkan 170 orang dari kalangan penyair, jurnalis, penulis, dan peneliti di 34 provinsi di Indonesia perlu ditolak. Pertama, klaim puisi esai sebagai genre baru dalam sastra Indonesia adalah sebuah kekeliruan. Dalam sejarah kesusastraan dunia, Alexander Pope, penyair Inggris Abad XVIII, telah menuliskan bentuk semacam ini dalam buku berjudul "An Essay on Man". Pope menuliskan esai filosofis dengan bentuk puisi, menggunakan kuplet dengan pentameter iambik. Terdiri dari empat epistel (bab) yang membicarakan pelbagai topik tentang kemanusiaan.

Fakta ini meruntuhkan klaim DJA dalam kata pengantar proyek buku puisi esainya yang pertama, "Atas Nama Cinta" yang dikutipkan sebagai berikut:

"Kebutuhan ekspresi kisah ini membuat saya memakai sebuah medium yang tak lazim. Saya menamakannya “Puisi Esai”. Ia bukan esai dalam format biasa, seperti kolom, editorial atau paper ilmiah. Namun, ia bukan juga puisi panjang atau prosa liris. Medium lama terasa kurang memadai untuk menyampaikan yang dimaksud." (Denny JA, 2012:11)

Kecacatan klaim tersebut rupanya tidak menghentikan Denny JA untuk kembali mendorong paksa konsep puisi esai yang bermasalah tersebut ke dalam lingkungan pembicaraan sastra dan sastrawan Indonesia melalui Program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional yang digagasnya.

 

 

1 dari 3 halaman

Klaim Atas Puisi Esai

Kedua, Denny JA bersikeras menyebut bentuk yang digagasnya sebagai puisi esai, padahal karakteristik yang dipakai adalah karakteristik puisi naratif, dengan plot, tokoh, dan ceritanya. Catatan kaki yang disyaratkan sebagai ciri ke-esai-an puisi esai juga bukan ciri utama atau keharusan esai. Esai kerap tak memiliki catatan kaki. Mendukung program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional DJA sama artinya dengan mendukung kekeliruan definisi dan konsep tersebut, yang pada gilirannya merupakan tindak perusakan sastra sebagai kajian keilmuan.

Ketiga, rekam jejak penggagasnya yang bermasalah. Program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional ini bukanlah proyek pertama yang pernah dibuat DJA. Sebelumnya, DJA mensponsori proyek penulisan sebuah buku berjudul “Membawa Puisi Ke Tengah Gelanggang” yang sarat glorifikasi akan peran DJA sendiri dalam kesusastraan Indonesia. Buku yang penggarapannya ia serahkan kepada Narudin Pituin, seorang finalis Duta Bahasa yang kerap mendaku sebagai kritikus meski kompetensi dan kredibilitasnya dalam lapangan kritik sastra sendiri masih dipertanyakan banyak pihak. Buku tersebut dibagi-bagikan gratis kepada sejumlah sastrawan, yang kemudian berujung pada pengembalian buku yang dimaksud oleh sebagian penerimanya sebagai bentuk protes.

 

2 dari 3 halaman

Ribuan Orang Menolak Denny JA

Sebelumnya lagi, DJA terlibat dalam penyusunan buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” yang penuh kontroversi. Buku yang secara bias telah menyejajarkan DJA sendiri dengan nama-nama penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia, seperti Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, HB Jassin, dan lain-lain.

Dapat dikatakan DJA telah berkali-kali melakukan upaya perusakan sistematis terhadap sastra Indonesia dan pelecehan terhadap kerja-kerja kesusastraan.

Pantauan Liputan6.com, sampai saat ini secara nasional petisi tersebut telah ditandatangani lebih dari 1.500 orang.