10 Amalan Sederhana saat Haji yang Bisa Dilakukan setelah Subuh, Wasilah Derajat Mabrur

Amalan sederhana saat haji yang bisa dilakukan setelah subuh, di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi bisa jadi menjadi wasilah raihan derajat mabrur

Diterbitkan 14 Mei 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pagi hari di Tanah Suci memiliki atmosfer spiritual yang spesial dan tak tertandingi. Untuk itu, jemaah perlu mengetahui amalan sederhana saat haji yang bisa dilakukan setelah subuh, terutama yang berjamaah di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi.

Sebagaimana yang dikemukakan para ulama berdasar dalil shahih, qaktu antara subuh hingga terbitnya matahari sejatinya adalah momen terbaik untuk diisi dengan berbagai ibadah ringan namun berbobot pahala besar. Mengisi waktu setelah Subuh dengan amalan-amalan sederhana seperti beriktikaf menanti waktu Syuruq, berdzikir, membaca Al-Quran, hingga melaksanakan Tawaf sunnah, akan memastikan jemaah tidak kehilangan satu detik pun momentum spiritual di Tanah Suci.

Manajemen waktu adalah kunci sukses dalam meraih derajat haji mabrur. Kedisiplinan menghidupkan waktu fajar ini kelak akan melahirkan kebiasaan positif yang terus terbawa sekembalinya jemaah ke Tanah Air.

Berikut ini adalah berbagai amalan sederhana saat haji yang bisa dilakukan setelah subuh, merujuk panduan manasik haji dan umrah, serta tuntunan dzikir dan doa saat berhaji dan umrah.

1. Berdiam Diri di Masjid hingga Waktu Syuruq (Shalat Isyraq)

Amalan paling utama pasca-Subuh adalah menahan diri untuk tidak langsung beranjak dari tempat shalat. Duduk beriktikaf sambil menunggu matahari terbit adalah amalan sederhana yang menjanjikan pahala setara ibadah haji dan umrah.

Dalam Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah Kemenag, jemaah sangat dianjurkan untuk berdiam diri (iktikaf) di masjid setelah Subuh. Setelah matahari terbit dan naik setinggi tombak (waktu Syuruq/Isyraq, sekitar 15-20 menit setelah terbit matahari), jemaah disunnahkan mendirikan shalat sunnah Isyraq dua rakaat.

Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, kemudian dia duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu ia shalat dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna." (HR. Tirmidzi).

2. Melantunkan Dzikir Pagi dan Wirid Ma'tsurat

Transisi waktu dari gelap menuju terang adalah momen krusial untuk membentengi jiwa dari segala keburukan dan memohon kelancaran ibadah sepanjang hari tersebut.

Berdasarkan Ebook Doa dan Dzikir Manasik Haji terbitan Kemenag, waktu setelah Subuh merupakan waktu yang disyariatkan untuk membaca rangkaian dzikir pagi. Ulama mazhab mengajarkan bahwa dzikir pagi berfungsi sebagai hishn (benteng) spiritual jemaah saat menghadapi padatnya aktivitas fisik selama di Tanah Suci.

Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang." (QS. Al-Ahzab: 41-42).

 

3. Tadarus Al-Quran dengan Target Khatam di Haramain

Waktu pagi memberikan kesegaran pikiran dan ketenangan suasana. Ini adalah momentum terbaik untuk mengejar target penyelesaian bacaan Al-Quran.

Dalam Buku Manasik Haji dan Umroh Rasulullah: Fikih Berdasar Sirah dan Makna Spiritualnya, Imam Ghazali Said menekankan pentingnya manajemen waktu (time management). Mengisi waktu luang bakda Subuh dengan tilawah Al-Quran adalah langkah taktis.

Imam Al-Ghazali dalam kitab tasawufnya, Ihya 'Ulumuddin, mengingatkan bahwa membaca Al-Quran di Tanah Haram memiliki nilai pelipatgandaan pahala yang fantastis (100.000 kali di Makkah dan 1.000 kali di Madinah).

"Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan semisal..." (HR. Tirmidzi).

4. Tafakkur Sirah dan Merenungi Kebesaran Ka'bah

Ibadah tidak selalu harus berupa gerakan fisik atau ucapan lisan. Diam sambil memikirkan kebesaran Allah (Tafakkur) adalah amalan hati tingkat tinggi.

Setelah berdzikir, jemaah disunnahkan sekadar duduk memandangi Ka'bah (jika berada di Masjidil Haram) sembari memutar kembali memori sejarah (sirah) perjuangan Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Rasulullah SAW.

Memandang Ka'bah dengan penuh penghayatan dan kerinduan terhitung sebagai ibadah tersendiri yang mendatangkan ketenangan saraf dan jiwa.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi..." (QS. Ali Imran: 190-191).

 

5. Melaksanakan Tawaf Sunnah (Khusus di Masjidil Haram)

Bagi jemaah yang memiliki stamina ekstra, pagi hari adalah waktu yang cukup nyaman untuk bergerak sebelum sengatan panas matahari Arab Saudi mencapai puncaknya.

Tawaf sunnah kapan saja diperbolehkah tanpa terikat waktu. Melaksanakan Tawaf tujuh putaran di pagi hari setelah fajar menyingsing dinilai lebih kondusif secara cuaca. Jemaah dapat melakukan ini dengan pakaian biasa (bukan ihram) dan tidak perlu dilanjutkan dengan Sa'i.

"Barangsiapa melakukan tawaf di Baitullah sebanyak tujuh kali putaran dan shalat dua rakaat, maka pahalanya seperti memerdekakan seorang budak." (HR. Ibnu Majah).

6. Turut Serta Melaksanakan Shalat Jenazah

Salah satu keistimewaan luar biasa di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi adalah pelaksanaan shalat jenazah yang hampir selalu ada setiap selesai shalat fardhu, termasuk setelah Subuh.

Jemaah diedukasi untuk tidak buru-buru keluar saf setelah salam shalat fardhu, melainkan menunggu sejenak untuk ikut menshalatkan jenazah. Imam Al-Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin mengingatkan bahwa mengingat kematian (dzikrul maut) adalah pelembut hati terbaik, dan menshalatkan jenazah muslim di Tanah Haram adalah penghormatan tertinggi sesama mukmin.

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang menshalatkan jenazah, maka baginya pahala satu qirath, dan barangsiapa yang mengantarkannya hingga dimakamkan, maka baginya pahala dua qirath." Ditanyakan, "Apa itu dua qirath?" Beliau menjawab, "Seperti dua gunung yang besar." (HR. Bukhari dan Muslim).

 

7. Bersedekah Pagi (Sedekah Subuh)

Mengeluarkan sebagian harta di awal hari, sesaat setelah fajar menyingsing, memiliki keutamaan khusus karena disaksikan dan didoakan langsung oleh para malaikat.

Kesalehan sosial selama berhaji, sedekah Subuh tidak melulu harus berupa uang dalam jumlah besar. Berbagi roti, kurma, atau sekadar menuangkan air Zamzam ke gelas jemaah lain di pelataran masjid setelah shalat Subuh sudah terhitung sebagai sedekah.

"Tidak ada satu subuh pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat. Salah satu di antara keduanya berdoa: 'Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak', sedangkan yang satu lagi berdoa: 'Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan (hartanya)'." (HR. Bukhari dan Muslim).

8. Bergabung dalam Majelis Ilmu (Halaqah) di Masjid

Setelah waktu Syuruq (matahari terbit), di berbagai sudut Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram kerap digelar kajian ilmu atau halaqah tahsin Al-Quran.

Dalam Buku Manasik Haji dan Umroh Rasulullah, Imam Ghazali Said menyoroti pentingnya tafaqquh fiddin (memperdalam agama). Duduk sejenak mendengarkan nasihat ulama atau memperbaiki bacaan Al-Quran bersama para masyayikh di sana adalah investasi keilmuan yang tak ternilai.

"Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dilingkupi rahmat, akan dikelilingi para malaikat, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya." (HR. Muslim).

 

9. Meminum Air Zamzam sebagai Sarapan Pagi

Mengawali aktivitas hari dengan tegukan air Zamzam di pagi hari adalah sunnah yang menyehatkan sekaligus bernilai ibadah.

Jemaah dianjurkan selalu membaca doa ketika meminum air Zamzam. Meminumnya di pagi hari sebelum sarapan makanan berat diyakini dapat membersihkan organ pencernaan dan memberikan energi ekstra untuk menjalani aktivitas fisik yang berat.

Dalil: "Air Zamzam itu sesuai dengan apa yang diniatkan oleh peminumnya." (HR. Ibnu Majah). Jemaah disunnahkan berdoa memohon ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, dan kesembuhan dari segala penyakit.

10. Berkhidmah (Melayani) Jemaah Lansia atau Teman Sekamar

Sesampainya di hotel atau tenda dari masjid, amalan tidak lantas terputus. Melayani sesama jemaah adalah puncak dari akhlak haji mabrur.

Jemaah yang memiliki inisiatif sosial tinggi dapat membantu membawakan barang, mengambilkan jatah katering sarapan pagi untuk jemaah lanjut usia, atau merapikan kamar bersama adalah bentuk khidmah yang pahalanya bisa menyamai amalan sunnah di masjid.

Rasulullah SAW bersabda: "Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya." (HR. Muslim).

Pertanyaan Umum tentang Topik

Amalan apa yang bisa dilakukan setelah sholat subuh?

5 Amalan Setelah Sholat Subuh yang DianjurkanMembaca Al-Quran dan Dzikir Pagi. Setelah menunaikan sholat subuh, Sobat Wakaf dianjurkan untuk menyempatkan waktu membaca Al Quran walau hanya beberapa ayat. ...Sedekah Subuh. ...Menuntut Ilmu dan Membaca Buku. ...Berdoa dan Merencanakan Hari. ...Menahan Diri untuk Tidak Tidur Kembali.

Amalan apa saja yang pahalanya sama seperti haji?

7 Amalan Berpahala Seperti HajiShalat Berjamaah di Masjid. ...Duduk di Masjid Setelah Shalat Subuh hingga Matahari Terbit. ...Niat yang Tulus untuk Berhaji. ...Berbakti kepada Orang Tua. ...Menunaikan Umrah di Bulan Ramadan. ...Membantu Orang dalam Kesulitan. ...Berdzikir Sepanjang Hari.

Amalan sunnah yang dapat dikerjakan saat ibadah haji?

Sunah Haji yang DianjurkanIfrad: Mendahulukan Haji daripada Umrah. Ifrad adalah niat ibadah haji terlebih dahulu sebelum melaksanakan umrah, dengan memisahkan keduanya secara jelas. ...Talbiyah. ...Thawaf Qudum. ...Mabit di Muzdalifah. ...Salat Sunah Thawaf. ...Mabit di Mina. ...Thawaf Wada'

Pahala badal haji untuk siapa?

Agama Islam memberikan kemudahan bagi orang-orang yang sakit dan telah meninggal dunia untuk dapat menunaikan ibadah haji dengan badal haji. Dalam pengertiannya, badal haji adalah pelaksanaan ibadah haji untuk orang yang meninggal dalam keadaan belum haji.