Liputan6.com, Jakarta - Apakah Anda pernah memikirkan fenomena menarik di mana Ramadan terjadi dua kali dalam satu tahun? Menariknya, fenomena Ramadan dua kali dalam setahun ini akan berlangsung pada tahun 2030.
Selanjutnya, mengapa Ramadan dua kali terjadi pada tahun 2030? Apa yang menjadi penyebab terjadinya fenomena ini, terutama dari sudut pandang ilmu fisika?
Penjelasan Mengenai Fenomena Kenapa Tahun 2030 Ramadan 2 Kali
Menurut Prof. Husin Alatas, seorang Guru Besar Fisika Teori di IPB University, fenomena waktu dalam fisika adalah sebuah misteri yang belum sepenuhnya terpecahkan.
Advertisement
Namun, bagi manusia, waktu adalah sesuatu yang dapat dirasakan dan terlihat melalui perubahan yang terjadi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk di dalam fenomena alam tertentu. Salah satu contohnya adalah kenapa Ramadan dua kali terjadi pada tahun 2030.
Di samping itu, fenomena Ramadan dua kali pada tahun 2030 disebabkan oleh adanya perbedaan antara sistem penanggalan kalender Hijriah dan kalender Masehi.
Untuk mengukur dan menandai waktu, para ilmuwan menggunakan fenomena periodik yang ada di alam. Saat ini, metode pengukuran waktu yang paling tepat adalah jam kisi optik, yang memanfaatkan transisi frekuensi optik pada atom seperti Ytterbium (Yb), Strontium (Sr), atau Aluminium (Al).
Secara tradisional, pengukuran waktu dilakukan dengan mengamati pergerakan semu matahari. Rotasi Bumi menjadi penentu waktu harian, sedangkan revolusi Bumi mengelilingi matahari digunakan untuk menetapkan waktu tahunan dan pergantian bulan.
"Selain itu, gerak periodik bulan juga telah lama digunakan untuk menentukan waktu tahunan, terutama dalam konteks pergantian bulan pada kalender lunar, seperti kalender Hijriah," ungkap Prof. Husin dalam kutipannya dari situs resmi IPB University Bogor Indonesia pada Jumat, 4 April 2025.
Bagaimana pengukuran waktu dilakukan selama Ramadan dua kali?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2797741/original/011422900_1557138527-20190506-Takjil-Benhil-3.jpg)
Gerakan periodik bulan dapat diukur dengan dua cara, yaitu sideral dan sinodik, yang keduanya sangat berpengaruh dalam menentukan waktu pelaksanaan Ramadan. Perbedaan durasi antara periode sideral dan sinodik bulan berkontribusi pada penetapan waktu dalam kalender lunar. Satu siklus sideral berlangsung sekitar 27,32 hari. Di sisi lain, periode sinodik, yang digunakan sebagai acuan untuk satu revolusi bulan, ditentukan berdasarkan fase-fase bulan dan berlangsung selama 29,53 hari. Perbedaan ini disebabkan oleh fakta bahwa bulan tidak hanya mengorbit Bumi, tetapi juga mengikuti orbit Bumi saat mengelilingi matahari.
Kapan tepatnya bulan baru terjadi? Saat bulan baru, posisi bulan berada dalam satu garis lurus dengan matahari dan Bumi, yang dikenal sebagai konjungsi. Ketika bulan mulai bergerak menjauh dari posisi tersebut, pengamat di Bumi mulai dapat melihat sedikit cahaya matahari yang dipantulkan oleh bulan, yang biasa disebut sebagai hilal. Hilal ini menjadi penanda awal bulan dalam kalender Hijriah, yang sangat penting dalam penentuan waktu ibadah dan kegiatan lainnya dalam masyarakat Muslim.
Advertisement
Mengapa Ramadan terjadi dua kali pada tahun 2030?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4771370/original/091380900_1710334469-20240313-Pasar_Takjil_Benhil-HER_3.jpg)
Perbedaan antara kalender Masehi dan kalender Hijriah mengakibatkan terjadinya fenomena di mana Ramadan berlangsung dua kali dalam tahun 2030. Kalender Masehi memiliki durasi 365,24 hari, sedangkan kalender Hijriah hanya berdurasi 354,36 hari. Salah satu penyebab utama terjadinya dua kali Ramadan di tahun 2030 adalah selisih antara panjang tahun matahari yang digunakan dalam kalender Masehi dan tahun lunar yang diacu dalam kalender Hijriah, yaitu sekitar 10,88 hari. Dengan demikian, bisa diperkirakan bahwa Ramadan pertama akan berlangsung dari tanggal 4 Januari hingga 2 Februari 2030, sedangkan Ramadan kedua diperkirakan terjadi dari tanggal 26 Desember 2030 hingga pekan keempat Januari 2031.
Tahun 2030 menjadi tahun yang unik bagi umat Islam karena mereka akan menjalani puasa Ramadan dua kali dalam satu tahun Masehi. Namun, meskipun Ramadan terjadi dua kali, perayaan Lebaran Idul Fitri tetap hanya akan berlangsung satu kali. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa Idul Fitri dirayakan setelah bulan Ramadan berakhir dalam kalender Hijriah. Oleh karena itu, perayaan Lebaran Idul Fitri pada tahun 2030 hanya akan dilakukan setelah Ramadan yang pertama. Fenomena ini menunjukkan betapa menariknya interaksi antara dua sistem penanggalan yang berbeda dalam menentukan waktu ibadah umat Islam.
Faktor Lain Mengapa Puasa Dua Kali pada Tahun 2030
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4770150/original/051663000_1710247846-20240312-Berbuka_Puasa_di_Istiqlal-HER_2.jpg)
Al Jarwan, seorang diplomat dari Emirat, menjelaskan bahwa fenomena Ramadan yang terjadi dua kali pada tahun 2030 disebabkan oleh kebutuhan waktu sekitar 33 tahun agar kalender Hijriah dapat kembali selaras dengan kalender Masehi. Fenomena serupa sebelumnya telah terjadi pada tahun 1997 dan akan terulang lagi pada tahun 2063, seperti yang dilaporkan oleh RRI.
Thomas Djamaluddin, seorang Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika di BRIN, menambahkan bahwa fenomena ini akan terus berlanjut hingga tahun 2033. Menariknya, pada tahun 2033, umat Muslim juga akan merayakan Lebaran Idul Fitri dua kali dalam satu tahun Masehi, mirip dengan yang terjadi pada tahun 2000. Dengan memahami perbedaan antara kalender Hijriah dan Masehi, umat Muslim dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik menghadapi fenomena yang jarang ini. Pengetahuan tentang perbedaan sistem penanggalan ini juga dapat memperluas wawasan mengenai pengaruhnya terhadap praktik keagamaan.
Advertisement
Analisis dan Pengamatan untuk Menentukan Ramadan Dua Kali.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5146155/original/034956200_1740763206-20250228-Taraweh_Pertama-HER_1.jpg)
Awal bulan Ramadan dalam kalender Hijriah dapat ditentukan melalui dua metode, yaitu perhitungan analitik-matematis (hisab) dan observasi langsung (rukyat). Kedua cara ini menjadi dasar bagi sains modern, yang mengintegrasikan prediksi dengan observasi untuk menetapkan tanggal-tanggal penting, termasuk awal Ramadan.
Dengan demikian, fenomena terjadinya Ramadan dua kali pada tahun 2030 merupakan hasil dari perhitungan dan pengamatan yang teliti. Memahami perbedaan panjang antara tahun matahari dan tahun lunar, serta gerakan periodik bulan yang menjadi acuan kalender Hijriah, membantu kita menjelaskan mengapa Ramadan terjadi dua kali pada tahun 2030.
Fenomena ini adalah hasil dari perhitungan astronomi yang menggabungkan ilmu fisika dan astronomi, serta bergantung pada metode prediksi dan observasi yang tepat. Oleh karena itu, saat Ramadan dua kali terjadi pada tahun 2030, kita akan menyaksikan sebuah fenomena yang langka dan menarik untuk diperhatikan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308116/original/010825900_1785129339-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-27T121435.797.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321375/original/053314000_1786440887-cek_fakta_-_cpns_menpan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312818/original/023895500_1785560927-WhatsApp_Image_2026-08-01_at_12.01.08.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5134529/original/089698800_1739622825-20250215-Prabowo-AFP_6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5146158/original/032666700_1740763207-20250228-Taraweh_Pertama-HER_4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1607368/original/074451200_1496028031-LIP6_LOGO2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3428249/original/078718400_1618374148-053339400_1559536727-iStock-1134972492.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1619105/original/061499300_1496997418-ramadan-main.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3977835/original/066021800_1648524608-pexels-ahmed-aqtai-2233416_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1619105/original/061499300_1496997418-ramadan-main.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3977835/original/066021800_1648524608-pexels-ahmed-aqtai-2233416_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3381462/original/019627800_1613720800-wooden-spoon-fork-as-clock-hands-white-plate_49149-1007.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5534796/original/005967200_1773893358-unnamed__8_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/804918/original/013227900_1422934136-Ilustrasi-Pajak-150203-2-andri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5531528/original/007916600_1773619112-unnamed__10_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5427523/original/002823900_1764393481-1000100028.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5314592/original/032084300_1755096405-shiona-das-16eeXVh8od8-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3243886/original/008227900_1600662631-20200921-Pertalite-Harga-Premium-7.jpg)