Liputan6.com, Jakarta - Kabar duka datang dari dunia seni dan musik Indonesia. Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026 pukul 04.16 WIB di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, dalam usia 73 tahun. Putra bungsu Presiden Soekarno tersebut dikenal sebagai seniman, budayawan, koreografer, sekaligus sosok yang meninggalkan jejak panjang dalam perkembangan musik dan seni pertunjukan Indonesia.
Kepergian Guruh Soekarnoputra membuat publik kembali mengingat karya-karya yang pernah lahir dari kreativitasnya. Salah satu yang begitu melekat dalam ingatan pencinta musik Indonesia adalah kolaborasinya dengan Chrisye, penyanyi legendaris yang juga telah berpulang lebih dahulu. Pertemuan dua nama besar tersebut menghasilkan sejumlah karya yang hingga kini masih memiliki tempat tersendiri di hati pendengar.
Mengenang duet Guruh dan Chrisye bukan hanya soal mendengarkan kembali lagu-lagu lama, tetapi juga menelusuri bagian penting dari perjalanan musik Indonesia. Aransemen yang khas, lirik yang kuat, serta karakter vokal Chrisye berpadu dengan gagasan musikal Guruh dan menghasilkan karya yang mampu bertahan melampaui zamannya. Melansir dari berbagai sumber, Sabtu (26/9/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
1. Kala Cinta Menggoda
“Kala Cinta Menggoda” menjadi salah satu karya Guruh Soekarnoputra yang paling mudah dikenali ketika membicarakan perjalanan musik Chrisye. Lagu ini dirilis pada 1997 dan dinyanyikan oleh Chrisye, dengan Guruh sebagai penciptanya. Karya tersebut memperlihatkan bagaimana Guruh mampu memasukkan unsur tradisional ke dalam musik pop modern. Salah satu cirinya adalah perpaduan warna pop dengan nuansa gamelan serta sentuhan langgam Jawa yang membuat lagu terdengar berbeda dari musik pop pada umumnya. KapanLagi juga mencatat “Kala Cinta Menggoda” sebagai salah satu lagu yang kemudian terus dikenang dalam perjalanan musik Chrisye.
Dari sisi cerita, lagu ini menggambarkan gejolak seseorang yang jatuh cinta kepada orang yang sebenarnya sudah memiliki pasangan. Perasaan tersebut menempatkan tokohnya dalam keadaan serba salah karena ia menyadari adanya batas yang tidak mudah dilanggar, tetapi pada saat yang sama tidak mampu begitu saja menghilangkan rasa cinta. Tema seperti ini membuat lagu terasa dekat dengan pengalaman emosional banyak orang. Kekuatan “Kala Cinta Menggoda” juga tidak hanya terletak pada tema percintaannya, tetapi pada cara Chrisye membawakannya dengan karakter vokal yang tenang sehingga sisi romantis sekaligus konflik batin dalam lagu tetap terasa.
Menariknya, daya tahan lagu ini tidak berhenti pada era 1990-an. “Kala Cinta Menggoda” terus mendapatkan perhatian dan pernah dinyanyikan kembali oleh musisi lain, termasuk Ariel NOAH dan sejumlah penyanyi dalam berbagai pertunjukan. KapanLagi juga mencatat bagaimana lagu karya Guruh tersebut dibawakan Tulus dan Raisa dalam sebuah konser, menunjukkan bahwa karya itu tetap dapat diterima oleh generasi setelah Chrisye.
Advertisement
2. Kala Sang Surya Tenggelam
“Kala Sang Surya Tenggelam” merupakan salah satu lagu Guruh yang kemudian sangat lekat dengan suara Chrisye. Lagu tersebut masuk dalam album Sabda Alam yang dirilis pada 1978. Dalam perjalanan karyanya, lagu ini menjadi contoh bagaimana Guruh dan Chrisye mampu mempertemukan lirik bernuansa puitis dengan karakter musik yang kuat. KapanLagi mencatat lagu ini sebagai salah satu karya yang dibawakan Chrisye dan kemudian kembali mendapat perhatian ketika dibawakan dalam berbagai pertunjukan penghormatan terhadap sang penyanyi.
Nuansa lagu ini sangat berbeda dari “Kala Cinta Menggoda” yang lebih terasa sebagai pop modern dengan sentuhan etnik. “Kala Sang Surya Tenggelam” justru menghadirkan suasana sendu sejak judulnya. Gambaran matahari yang tenggelam, kabut, malam dan kerinduan membuat lagu memiliki atmosfer melankolis yang kuat. Tema tersebut membuatnya mudah dihubungkan dengan kisah cinta yang tidak berjalan mulus, sehingga ketika Chrisye menyanyikannya, karakter vokalnya yang lembut semakin mempertebal kesan emosional lagu.
Jejak lagu ini juga tetap terasa sampai generasi yang lebih muda. Pada 2023, Nadin Amizah membawakan kembali “Kala Sang Surya Tenggelam” untuk soundtrack serial Gadis Kretek. KapanLagi mencatat bahwa Nadin merasa mendapat kehormatan karena dipercaya menyanyikan kembali salah satu lagu terkenal Chrisye tersebut. Lagu itu bahkan digunakan berulang dalam serial tersebut, sehingga karya Guruh yang diperkenalkan Chrisye pada akhir 1970-an kembali menjangkau pendengar baru.
3. Zamrud Khatulistiwa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/690981/original/Guruh%20Soekarnoputra.jpg)
“Zamrud Khatulistiwa” memperlihatkan sisi lain kolaborasi Guruh dan Chrisye karena tema yang diangkat bukan semata-mata tentang percintaan. Lagu ini berbicara tentang Indonesia, keindahan alam, kehidupan yang tenteram, serta rasa syukur terhadap tanah air. Dalam katalog Spotify, “Zamrud Khatulistiwa” tercantum sebagai lagu Chrisye dalam album Songs of Guruh Sukarno Putra Vol. 1, yang dirilis pada 2025. Katalog tersebut juga menempatkannya berdekatan dengan sejumlah karya Guruh lain yang dibawakan Chrisye, termasuk “Kala Cinta Menggoda”, “Kala Sang Surya Tenggelam”, dan “Galih & Ratna”.
Karakter lagu ini terasa lebih cerah dan penuh penghargaan terhadap negeri dibandingkan beberapa karya Guruh lainnya. Gambaran tentang alam Indonesia, suasana damai, serta rasa syukur menjadi bagian penting dari pesan lagu. Karena itu, “Zamrud Khatulistiwa” dapat dipandang sebagai salah satu karya yang memperlihatkan kemampuan Guruh dalam membuat lagu bertema kebangsaan tanpa kehilangan sentuhan pop yang mudah diterima. Chrisye kemudian memberikan warna vokal yang khas sehingga pesan tersebut terdengar hangat dan tidak terasa seperti lagu seremonial semata.
Menariknya, lagu ini juga menunjukkan bahwa warisan musik Guruh tidak hanya bertahan melalui karya-karya romantis. Dalam katalog penulis lagu Spotify, “Zamrud Khatulistiwa” tercatat sebagai salah satu karya Guruh yang dibawakan Chrisye dan hingga kini masih masuk dalam daftar lagu yang banyak diasosiasikan dengan keduanya. Dengan demikian, ketika mengenang hubungan kreatif Guruh dan Chrisye, lagu ini menjadi bagian penting karena memperlihatkan sisi nasionalisme dan kecintaan terhadap Indonesia yang juga hadir dalam karya Guruh.
Advertisement
4. Galih & Ratna
“Galih & Ratna” memiliki tempat khusus dalam sejarah musik sekaligus perfilman Indonesia. Lagu ini diciptakan dan ditulis liriknya oleh Guruh Soekarnoputra dan pertama kali muncul dalam film Gita Cinta dari SMA yang dirilis pada 1979. Setahun kemudian, Chrisye membawakan lagu tersebut dalam album Puspa Indah yang dirilis pada 1980. Versi Chrisye inilah yang kemudian semakin memperkuat hubungan lagu tersebut dengan kisah Galih dan Ratna yang begitu lekat dengan budaya populer Indonesia.
Album Puspa Indah sendiri merupakan salah satu proyek penting dalam perjalanan kreatif Chrisye dan Guruh. Katalog album mencatat bahwa karya tersebut dibuat dalam kolaborasi dengan Guruh Soekarnoputra dan Yockie Suryo Prayogo. “Galih & Ratna” menjadi salah satu lagu di dalamnya, bersama “Puspa Indah”, “Gita Cinta”, “Kenang-Kenangan” dan sejumlah karya lainnya. Spotify juga mencatat “Galih & Ratna” sebagai bagian dari album Puspa Indah Chrisye yang dirilis pada 1980.
Kekuatan lagu ini berada pada kemampuannya menangkap romantisme masa remaja. Galih dan Ratna bukan sekadar nama dalam judul, tetapi telah menjadi simbol kisah cinta anak SMA bagi banyak penonton film Indonesia pada zamannya. KapanLagi dalam ulasan pertunjukan musikal Bukan Cinta Galih/Ratna juga kembali menempatkan “Galih dan Ratna”, “Puspa Indah”, dan “Gita Cinta” sebagai karya Guruh yang membawa nuansa nostalgia masa sekolah. Tak heran jika lagu ini tetap terasa akrab bagi pendengar yang ingin kembali mengingat era musik dan film Indonesia klasik.
5. Puspa Indah
![[Bintang] Chrisye](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/fCvUI5a6JHjImZ9FHw8GA2-PDb0=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1556658/original/087171200_1491313688-chrisye_1.jpg)
“Puspa Indah” menjadi salah satu lagu penting dari proyek album dan film yang mempertemukan kreativitas Chrisye dengan Guruh Soekarnoputra. Album Puspa Indah dirilis pada 1980 dan menjadi bagian dari musik yang berkaitan dengan film Puspa Indah Taman Hati. Dalam proyek tersebut, Guruh memberikan kontribusi besar sebagai pencipta lagu, sementara Chrisye menjadi vokalis utama. Katalog album mencatat sejumlah lagu karya Guruh di dalamnya, termasuk “Puspa Indah”, “Galih & Ratna”, “Gita Cinta”, “Lagu Putih”, dan “Sirna”.
Dari judul hingga nuansa lagunya, “Puspa Indah” membawa suasana romantis yang lembut. Lagu ini menggambarkan bunga sebagai metafora keindahan cinta dan sosok yang menghiasi kehidupan seseorang. Pendekatan semacam itu menjadi bagian dari warna khas karya Guruh pada masa tersebut, ketika kisah cinta anak muda banyak diterjemahkan melalui lirik yang puitis. Suara Chrisye yang khas kemudian membuat komposisi tersebut terasa lebih hangat, sehingga “Puspa Indah” tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari soundtrack, tetapi juga dapat berdiri sebagai lagu yang dinikmati secara mandiri.
Hubungan lagu ini dengan film membuat daya nostalgianya semakin kuat. Puspa Indah Taman Hati merupakan kelanjutan dari kisah Galih dan Ratna, sehingga musik di dalamnya turut membangun identitas cerita. Bahkan dalam pertunjukan musikal Bukan Cinta Galih/Ratna pada 2026, KapanLagi mencatat “Puspa Indah” kembali dinyanyikan bersama “Gita Cinta” dan mendapatkan respons emosional dari penonton. Hal tersebut memperlihatkan bagaimana karya Guruh dan Chrisye masih mampu menghidupkan kembali suasana romantis era lama ketika diperdengarkan kepada penonton masa kini.
Advertisement
6. Sendiri
“Sendiri” memperlihatkan sisi Guruh Soekarnoputra yang lebih personal dan melankolis. Lagu ini diciptakan Guruh pada 1984 dan sebelumnya dipopulerkan oleh Chrisye. Informasi mengenai karya tersebut juga dikonfirmasi ketika Giring Ganesha membawakan kembali “Sendiri” sebagai debut solonya pada 2020. Dalam keterangan yang diberitakan ANTARA, lagu tersebut disebut sebagai ciptaan Guruh tahun 1984 dan sebelumnya telah dipopulerkan Chrisye.
Berbeda dengan lagu seperti “Zamrud Khatulistiwa” yang memiliki semangat kebangsaan atau “Galih & Ratna” yang membawa romantisme remaja, “Sendiri” bergerak dalam suasana kesepian. Gambaran seseorang yang berjalan sendirian di tengah malam, termenung dan diliputi kegelisahan membuat lagu ini memiliki atmosfer yang intim. KapanLagi juga mencatat “Sendiri” sebagai salah satu lagu Chrisye dalam daftar karya dan repertoarnya. Karakter seperti inilah yang membuat lagu tersebut terasa cocok didengarkan ketika seseorang sedang berada dalam suasana hati yang tenang dan reflektif.
Kekuatan “Sendiri” juga terlihat dari kemampuannya bertahan melampaui masa ketika pertama kali populer. Ketika Giring membawakan lagu tersebut kembali puluhan tahun setelah versi Chrisye dikenal publik, ia menyebut kesempatan menyanyikan karya Guruh sebagai sesuatu yang istimewa. Selain itu, lagu “Sendiri” juga dibawakan dalam konser 7 Ruang - Chrisye untuk Kemanusiaan, ketika Candra Darusman dan Andien menghadirkan lagu tersebut dalam aransemen bernuansa jazz. Jejak tersebut menunjukkan bahwa karya Guruh yang dinyanyikan Chrisye masih memiliki ruang untuk ditafsirkan kembali oleh musisi dari generasi berbeda.
7. Smaradhana
![[Bintang] Guruh Soekarnoputra](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/3Q12rcRdLoAu217jBBrPioTYDvU=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1397986/original/050655400_1478520660-Guruh_s_-_FFI_-_6-11-16.jpeg)
“Smaradhana” merupakan salah satu karya Guruh yang memiliki karakter sangat khas. Lagu tersebut merupakan ciptaan Guruh dan dinyanyikan Chrisye. Karya ini juga mempunyai perjalanan yang menarik karena “Smaradhana” telah hadir dalam konteks musik Guruh Gipsy, sebelum kemudian dibawakan Chrisye dalam album Sabda Alam. Catatan mengenai diskografi Chrisye menyebut “Smaradhana” sebagai karya Guruh yang masuk dalam album tersebut bersama “Kala Sang Surya Tenggelam” dan “Anak Jalanan”.
Salah satu hal yang membuat lagu ini menonjol adalah penggunaan kosakata yang bernuansa Sanskerta dan Jawa. KapanLagi menyediakan teks lagu “Smaradhana” yang memperlihatkan pilihan kata seperti Ratih, prana, Andika, sukma dan asmara. Pilihan diksi semacam itu menjadi bagian dari identitas musikal Guruh yang kerap mempertemukan unsur seni tradisional dengan musik populer. Bagi pendengar masa kini, pendekatan tersebut mungkin terasa berbeda, tetapi justru menjadi salah satu alasan karya Guruh memiliki karakter yang mudah dikenali.
“Smaradhana” juga tetap hadir dalam berbagai pertunjukan yang mengenang karya-karya Chrisye. KapanLagi mencatat lagu ini menjadi salah satu repertoar dalam konser Classic Chrisye – A Night to Remember yang dipersiapkan dengan pendekatan musik simfoni oleh Addie MS. Lagu tersebut juga dibawakan dalam konser 7 Ruang - Chrisye untuk Kemanusiaan bersama sejumlah karya Chrisye lainnya. Dengan perjalanan lintas generasi tersebut, “Smaradhana” menjadi salah satu contoh bagaimana karya Guruh dan suara Chrisye terus menjadi bagian dari ingatan musik Indonesia.
Pada tahun 2007, Rolling Stone Indonesia menobatkan Guruh Gipsy sebagai album Indonesia terbaik kedua sepanjang masa. Lagu "Smaradhana" sendiri mencerminkan eksperimen musikal Guruh yang berani, dengan lirik puitis dan aransemen kompleks, menunjukkan kekayaan budaya Indonesia. Vokal Chrisye yang khas memberikan dimensi emosional yang mendalam pada lagu ini, menjadikannya salah satu karya paling inovatif pada masanya.
Advertisement
Pertanyaan & Jawaban Seputar Mengenang Duet Guruh dan Chrisye
1. Guruh Soekarnoputra meninggal dunia kapan?
Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026. Putra bungsu Presiden Soekarno tersebut dikenal sebagai seniman dan budayawan yang memiliki kontribusi besar dalam perkembangan musik dan seni pertunjukan Indonesia.
2. Apa hubungan Guruh Soekarnoputra dengan Chrisye?
Guruh Soekarnoputra dan Chrisye memiliki hubungan kreatif yang kuat dalam perjalanan musik Indonesia. Guruh menciptakan sejumlah lagu yang kemudian dibawakan dan dipopulerkan oleh Chrisye, sehingga karya keduanya menjadi bagian penting dari sejarah musik pop Indonesia.
3. Apa saja lagu Guruh Soekarnoputra yang dinyanyikan Chrisye?
Beberapa karya Guruh yang dibawakan Chrisye antara lain “Kala Cinta Menggoda”, “Kala Sang Surya Tenggelam”, “Zamrud Khatulistiwa”, “Galih & Ratna”, “Puspa Indah”, “Sendiri”, dan “Smaradhana”. Lagu-lagu tersebut memiliki karakter berbeda, mulai dari kisah cinta, kesepian, hingga kecintaan terhadap Indonesia.
4. Lagu “Galih & Ratna” diciptakan oleh siapa?
“Galih & Ratna” merupakan lagu ciptaan Guruh Soekarnoputra yang berkaitan erat dengan film Gita Cinta dari SMA. Lagu tersebut kemudian dibawakan Chrisye dan masuk dalam album Puspa Indah yang dirilis pada 1980.
5. Mengapa lagu Guruh dan Chrisye masih dikenang sampai sekarang?
Karya Guruh dan Chrisye memiliki karakter musikal yang kuat karena memadukan musik populer dengan unsur budaya Indonesia serta lirik yang puitis. Selain itu, lagu-lagu tersebut terus diperkenalkan kembali melalui pertunjukan, soundtrack, dan aransemen musisi dari generasi berikutnya sehingga tetap dikenal oleh pendengar baru.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358245/original/052346800_1790327542-HOAX__24_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358342/original/058812500_1790333709-cek_fakta_-_bantuan_bibit_ayam_facebook.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316388/original/075760100_1785924799-cek_fakta_-_cpns_kementerian_imigrasi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317863/original/052285500_1786075641-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-07T110613.668.jpg)
![[Bintang] Guruh Soekarnoputra](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/o5DrRVMfqOvsYFZCkgxQI8jzh70=/1280x720/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1102488/original/091668900_1452052731-guruh_sukarno_putra.jpg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1412524/original/075970600_1479738794-Guruh_Soekarnoputra.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358552/original/011175900_1790390000-Guruh_Soekarnoputra_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1397986/original/050655400_1478520660-Guruh_s_-_FFI_-_6-11-16.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358551/original/099038500_1790389705-WhatsApp_Image_2026-09-26_at_09.23.46.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1412524/original/075970600_1479738794-Guruh_Soekarnoputra.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2780805/original/001264000_1555468435-20190417-Guruh-Soekarnoputra-Mencoblos-di-TPS-Sandi-TALLO-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358548/original/069389300_1790387839-IMG_4850.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4477638/original/034438200_1687440455-IMG_8559.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/690981/original/Guruh%20Soekarnoputra.jpg)