Liputan6.com, Jakarta - Kabar wafatnya Guruh Soekarnoputra pada 26 September 2026 membuat sejumlah karya seniman tersebut kembali dikenang. Salah satunya adalah “Melati Suci”, lagu yang memiliki tempat khusus dalam perjalanan hidup dan karya Guruh karena dibuat sebagai persembahan untuk ibundanya, Fatmawati.
Bagi banyak orang, lagu ini mungkin dikenal lewat melodi yang lembut dan suasananya yang khidmat. Namun, kisah lagu Melati Suci ternyata jauh lebih personal. Lagu tersebut lahir pada 1980 ketika Guruh tengah mempersiapkan sebuah karya untuk sang ibu, tetapi keadaan kemudian membuat Fatmawati tidak sempat menyaksikan persembahan itu secara langsung.
Melati Suci, Karya yang Tak Sempat Disaksikan Fatmawati
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1615445/original/036036400_1496727952-IMG_0527.jpg)
Di balik lahirnya “Melati Suci” ada hubungan yang sangat personal antara Guruh dan ibunya. Pada Mei 1980, Guruh sedang mengerjakan lagu tersebut sekaligus merancang karya tari yang dipersiapkan secara khusus untuk Fatmawati. Saat proses itu berlangsung, Fatmawati sedang berada di Makkah untuk menunaikan ibadah umrah.
Guruh kemudian mendapat telepon dari ibunya yang berada di Makkah. Dalam percakapan tersebut, ia menceritakan bahwa dirinya sedang membuat lagu dan tarian sebagai persembahan untuk Fatmawati. Kabar mengenai karya itu membuat sang ibu merasa senang. Kisah tersebut kemudian menjadi bagian penting dari latar belakang lagu yang beberapa dekade setelahnya tetap dikenal masyarakat.
Namun, bagian paling menyentuh dari kisah lagu Melati Suci justru terjadi sebelum lagu itu dipentaskan. Fatmawati meninggal dunia pada 14 Mei 1980 ketika dalam perjalanan pulang dari ibadah umrah dan berada di Kuala Lumpur. Dengan demikian, rencana untuk menyaksikan karya yang sedang dipersiapkan Guruh tidak pernah terwujud.
Kenyataan tersebut membuat “Melati Suci” memiliki konteks emosional yang berbeda. Lagu yang awalnya disiapkan sebagai hadiah untuk seorang ibu kemudian berubah menjadi semacam penghormatan kepada sosok yang telah lebih dulu pergi.
Fatmawati bahkan sempat membeli kostum ketika transit di Kuala Lumpur untuk kebutuhan pagelaran tari yang sedang dirancang. Detail tersebut membuat cerita tentang lagu ini terasa semakin personal karena persiapan pertunjukan sebenarnya sudah mulai melibatkan sang ibu, meski akhirnya ia tidak pernah melihat hasil akhirnya.
Advertisement
Dipentaskan dalam Swara Mahardika
Kepergian Fatmawati tidak membuat Guruh menghentikan proyek kesenian tersebut. Beberapa bulan setelah sang ibu meninggal, “Melati Suci” tetap dipentaskan dalam pergelaran Swara Mahardika, Untukmu Indonesiaku pada 1980. Lagu tersebut dibawakan oleh Tika Bisono dan dikenal sebagai salah satu karya yang memiliki nuansa lembut serta penuh penghayatan.
Keterlibatan Guruh dengan Swara Mahardika memang menjadi bagian penting dari kiprahnya sebagai seniman. Ia tidak hanya menciptakan lagu, tetapi juga menggabungkannya dengan unsur tari dan pertunjukan panggung. Karena itu, “Melati Suci” sejak awal bukan sekadar lagu yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari konsep pertunjukan yang lebih luas.
Dalam perkembangannya, karya tersebut juga dibawakan kembali oleh penyanyi lain. Pada pergelaran Swara Mahardika Cinta Indonesia pada 1984, “Melati Suci” dibawakan oleh Vina Panduwinata. Hal ini menunjukkan bahwa lagu tersebut terus mendapatkan ruang untuk diperkenalkan kembali kepada penonton dari generasi berbeda.
Apa Makna Lagu Melati Suci?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3291513/original/097884500_1604923642-piano-1655558_1280.jpg)
Memahami makna “Melati Suci” tidak cukup hanya dengan melihat judulnya. Lagu tersebut menggunakan gambaran bunga melati sebagai simbol yang berkaitan dengan keindahan, kesucian, keluhuran budi, dan penghormatan.
Konteks penciptaannya membuat makna itu semakin kuat. Guruh tidak menciptakan lagu tersebut untuk sekadar menggambarkan bunga, tetapi menghubungkan simbol melati dengan sosok ibu dan penghormatan kepada perempuan yang dianggap memiliki jasa besar bagi keluarga sekaligus bangsa.
Lagu tersebut juga membawa cakupan makna yang lebih luas. Simbol ibu dalam “Melati Suci” dapat dibaca berdampingan dengan gambaran Ibu Pertiwi dan penghormatan terhadap pahlawan bangsa. Karena itu, lagu ini memiliki dua lapisan yang saling berhubungan: rasa cinta seorang anak kepada ibunya dan penghormatan yang lebih luas kepada sosok yang dipandang berjasa bagi Indonesia.
Advertisement
Lagu Melati Suci Kembali Dikenal lewat Penampilan Putri Ariani
Puluhan tahun setelah pertama kali dipentaskan, “Melati Suci” kembali menarik perhatian publik ketika Putri Ariani membawakannya dalam perayaan HUT ke-78 Republik Indonesia di Istana Merdeka pada 17 Agustus 2023. Dalam penampilan tersebut, Putri bernyanyi sambil memainkan piano dan diiringi orkestra Gita Bahana Nusantara.
Pemilihan lagu itu menjadi salah satu momen yang memperkenalkan kembali karya Guruh kepada penonton yang lebih muda. Lagu yang lahir pada 1980 tersebut kembali terdengar dalam sebuah acara kenegaraan, puluhan tahun setelah pertama kali hadir melalui pertunjukan Swara Mahardika.
Penampilan tersebut juga memperlihatkan bagaimana sebuah karya lama dapat menemukan konteks baru tanpa kehilangan cerita awalnya. Bagi pendengar yang baru mengenal “Melati Suci” dari penampilan Putri Ariani, latar belakang lagu tentang Guruh dan Fatmawati membuat lagu tersebut memiliki dimensi yang berbeda.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kisah Lagu Melati Suci
1. Siapa pencipta lagu Melati Suci?
“Melati Suci” diciptakan oleh Guruh Soekarnoputra dan dibuat sebagai persembahan untuk ibunya, Fatmawati.
2. Untuk siapa lagu Melati Suci dibuat?
Lagu tersebut dibuat khusus untuk Fatmawati, ibunda Guruh Soekarnoputra.
3. Kapan lagu Melati Suci diciptakan?
Lagu ini dikerjakan Guruh pada 1980 dan kemudian dipentaskan dalam pertunjukan Swara Mahardika pada tahun yang sama.
4. Siapa yang pertama kali membawakan Melati Suci?
“Melati Suci” dikenal melalui Tika Bisono dalam pergelaran Swara Mahardika, sebelum kemudian dibawakan kembali oleh penyanyi lain.
5. Kapan Putri Ariani menyanyikan Melati Suci?
Putri Ariani membawakan “Melati Suci” pada perayaan HUT ke-78 RI di Istana Merdeka pada 17 Agustus 2023.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358245/original/052346800_1790327542-HOAX__24_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358342/original/058812500_1790333709-cek_fakta_-_bantuan_bibit_ayam_facebook.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316388/original/075760100_1785924799-cek_fakta_-_cpns_kementerian_imigrasi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1412524/original/075970600_1479738794-Guruh_Soekarnoputra.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1412524/original/075970600_1479738794-Guruh_Soekarnoputra.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358697/original/025239500_1790404307-IMG_4985.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358685/original/053148200_1790403376-WhatsApp_Image_2026-09-26_at_13.14.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358658/original/016131700_1790401977-IMG_4947.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358657/original/085158200_1790401437-IMG_4950.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358632/original/097138500_1790398791-IMG_4944.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1397986/original/050655400_1478520660-Guruh_s_-_FFI_-_6-11-16.jpeg)