Buka Puasa Bersama Bisa Berujung Penyakit Gen Z Jika Dilakukan dengan Cara Ini

Buka puasa bersama bisa picu “penyakit Gen Z” jika makan berlebihan. Menkes Budi Gunadi Sadikin ingatkan bahaya GERD saat bukber.

Diterbitkan 09 Maret 2026, 19:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Buka puasa bersama atau bukber menjadi salah satu tradisi yang paling dinantikan selama bulan Ramadan. Selain menikmati berbagai hidangan lezat, momen ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi dengan keluarga, teman, maupun rekan kerja.

Namun, di balik keseruannya, ada kebiasaan yang sering dilakukan saat bukber yang ternyata kurang baik bagi kesehatan. Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan momen berbuka sebagai ajang 'balas dendam' setelah seharian berpuasa.

Menurutnya, kebiasaan langsung menyantap banyak makanan dalam waktu singkat saat azan Magrib berkumandang dapat memberikan beban besar bagi lambung.

"Bukber bagus, sih, buat silaturahmi. Tapi bisa jadi tidak sehat, loh, kalau kita bukber begitu bedug berbunyi langsung makan ini semua sekaligus dalam waktu yang sangat singkat," kata Budi Gunadi Sadikin.

Dia menambahkan bahwa kebiasaan tersebut dapat membuat sistem pencernaan bekerja terlalu berat secara mendadak setelah seharian tidak menerima asupan makanan.

"Itu enggak sehat banget, loh," ujarnya.

Bisa Memicu 'Penyakit Gen Z'

Budi menjelaskan bahwa setelah berpuasa seharian, kondisi lambung dalam keadaan kosong. Jika langsung diisi dengan banyak makanan sekaligus, lambung bisa mengalami 'kaget' karena harus mencerna makanan dalam jumlah besar secara tiba-tiba.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan produksi asam lambung yang pada akhirnya dapat memicu gangguan pencernaan, salah satunya Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).

"Nah, kalau kita makan sebanyak ini dengan waktu singkat, itu akan menyebabkan penyakit Gen Z sekarang, namanya GERD," kata Budi.

GERD sendiri merupakan kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan dan menimbulkan sensasi panas di dada, nyeri ulu hati, hingga rasa tidak nyaman di tenggorokan.

Menurut Budi, kebiasaan makan berlebihan saat berbuka bukan satu-satunya masalah. Menu bukber yang sering disajikan juga biasanya tinggi gula dan karbohidrat.

Mulai dari minuman manis, gorengan, hingga makanan berat berlemak menjadi hidangan yang sulit ditolak saat berbuka puasa.

Kombinasi makanan tersebut bisa membuat perut terasa penuh atau begah. Dampaknya, tubuh menjadi lebih berat dan mudah mengantuk.

"Perut jadi begah dan badan jadi berat. Ini nanti akan membuat kita ngantuk. Jadi, pada saat kita salat Tarawih, sudah pasti nggak dengerin ustaz-nya ngomong apa," kata Budi.

 

Berbuka Puasa Secara Bertahap

Oleh sebab itu, Menkes Budi mengajak masyarakat untuk kembali meluruskan niat berpuasa, yakni menahan hawa nafsu, termasuk dalam hal makan saat berbuka.

Dia menekankan pentingnya menjaga pola makan yang sehat selama Ramadan agar ibadah tetap lancar dan tubuh tetap bugar.

"Sayangi lambung kalian. Kalau kita makannya benar dan teratur, Insyaallah ibadah kita juga lancar dan badan tetap sehat sampai hari raya nanti," ujarnya.

Menkes juga menyarankan agar masyarakat berbuka secara bertahap. Misalnya dimulai dengan minum air putih dan makanan ringan seperti kurma, lalu dilanjutkan dengan makanan utama setelah salat Magrib.

Dengan pola makan yang lebih teratur, masyarakat tetap bisa menikmati momen buka puasa bersama tanpa harus mengorbankan kesehatan. Bukber pun tetap seru, silaturahmi terjaga, dan tubuh tetap fit menjalani ibadah selama Ramadan.