Saatnya Akumulasi Saham Syariah di Ramadan 2026, Simak Rekomendasinya

Analis menilai saham syariah tetap prospektif di tengah volatilitas pasar awal 2026. Momentum kenaikan konsumsi Ramadan menjadi katalis positif.

Diterbitkan 20 Februari 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Meski indeks saham syariah seperti Jakarta Islamic Index (JII) dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) menunjukkan pergerakan variatif sejak awal tahun 2026, prospek investasi di sektor ini dinilai tetap menggiurkan selama bulan suci Ramadan.

"Selama bulan suci Ramadan, prospek saham syariah tetap menarik meskipun pergerakan indeks seperti JII dan ISSI masih terlihat bervariasi sejak awal tahun," kata analis pasar modal Hendra Wardana kepada Liputan6.com, Jumat (20/2/2026).

Tekanan yang terjadi lebih banyak dipengaruhi sentimen global, arus dana asing yang fluktuatif, serta rotasi sektor, bukan semata karena pelemahan fundamental emiten syariah.

Secara struktur, saham syariah justru relatif lebih defensif karena berbasis pada perusahaan dengan rasio utang terjaga dan bisnis riil yang kuat.

"Dalam konteks ramadhan, peningkatan konsumsi domestik berpotensi menjadi penopang kinerja emiten berbasis consumer goods, pangan, dan ritel," ujarnya.

Lebih lanjut, Hendra menjelaskan, perbedaan kinerja antar indeks syariah, seperti menguatnya IDX Sharia Growth dan IDX MES BUMN17 dibandingkan JII dan ISSI, lebih disebabkan oleh komposisi saham di dalamnya.

IDX Sharia Growth diisi saham dengan profil pertumbuhan laba lebih agresif sehingga lebih responsif ketika pasar memburu growth story. Sementara IDX MES BUMN17 berisi saham BUMN syariah dengan fundamental kuat dan stabilitas pendapatan, sehingga menjadi pilihan investor saat mencari keamanan relatif.

"Jadi, perbedaan performa ini mencerminkan karakter masing-masing indeks," ujarnya.

 

Ramadhan Waktu yang Tepat Investasi di saham Syariah?

Menurutnya, momentum musiman Ramadan dan Idulfitri secara historis sering menjadi katalis positif, terutama bagi sektor konsumsi, pangan, peternakan, ritel, hingga perbankan syariah.

Ia menilai peningkatan belanja menjelang Lebaran mendorong penjualan emiten makanan dan minuman serta kebutuhan pokok. Distribusi THR dan peningkatan mobilitas masyarakat menciptakan efek multiplier terhadap ekonomi domestik.

"Dalam kondisi indeks syariah yang masih tertekan, momentum ini bisa memicu technical rebound sekaligus peluang akumulasi, karena valuasi sebagian saham sudah relatif menarik," ujarnya.

 

Sektor Saham yang Menarik selama Ramadhan

Di tengah kondisi pasar saat ini, sektor yang paling menarik dalam kelompok saham syariah adalah consumer staples, agribisnis-pangan, energi berbasis batu bara dengan arus kas kuat, serta perbankan syariah.

Maka dengan mempertimbangkan valuasi dan prospek kinerja, beberapa saham syariah layak dicermati. Adaro Energy Indonesia Tbk atau ADRO direkomendasikan trading buy dengan target 2.500 karena fundamental dan cash flow masih solid serta valuasi relatif murah.

Disisi lain Indofood Sukses Makmur Tbk atau INDF layak buy dengan target 7.000 memanfaatkan momentum konsumsi Ramadan dan karakter defensifnya.

Dari sektor protein, Japfa Comfeed Indonesia Tbk atau JPFA menarik secara spekulatif dengan target 2.830 seiring potensi kenaikan permintaan unggas.

"Sementara di sektor perbankan syariah, Bank Syariah Indonesia Tbk atau BRIS juga spekulatif buy dengan target 2.600 didukung pertumbuhan pembiayaan dan peningkatan literasi keuangan syariah," pungkasnya.