Mansaf Kharouf, Makanan Otentik Yordania yang Cocok untuk Jadi Pilihan Menu Buka Puasa

Seperti apa Mansaf Kharouf dan dibuat dari bahan dasar apa?

Diterbitkan 12 Februari 2026, 07:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menu berbuka puasa identik dengan hidangan kaya rempah dan beraroma kuat. Salah satu sajian yang mencuri perhatian dalam pengalaman mencicipi menu Ramadan tahun ini adalah Mansaf Kharouf, hidangan tradisional Yordania berbahan dasar daging domba yang dimasak perlahan dengan bumbu khas Timur Tengah.

Hidangan ini diperkenalkan oleh Chef Dennis Hermawan, Chef de Cuisine Dining Room dari Park Hyatt Jakarta dalam rangkaian menu Ramadan yang ia kurasi. Menurut Dennis, pemilihan segmen Mediterranean dan Arabic bukan tanpa alasan.

“Ramadan identik dengan makanan Timur Tengah. Tapi kami juga sadar tidak semua orang Indonesia menyukai makanan Middle Eastern,” ujarnya.

Karena itu, selain sajian khas Timur Tengah, tersedia pula menu Nusantara dan Western untuk menjangkau lebih banyak selera. Namun, untuk menu unggulan, Mansaf Kharouf menjadi sorotan utama.

Proses Panjang di Balik Sepiring Mansaf

Mansaf merupakan hidangan nasional Yordania yang biasanya disajikan dalam perayaan besar atau momen penting. Inti dari hidangan ini adalah daging domba yang dimasak perlahan hingga sangat empuk, disajikan bersama nasi berbumbu dan saus berbahan dasar jameed.

Proses memasaknya tidak singkat. Daging domba terlebih dahulu dimarinasi, kemudian dimasak dengan teknik braise selama enam hingga delapan jam. Setelah didinginkan, daging dimasak kembali keesokan harinya menggunakan jameed.

Jameed adalah produk fermentasi susu yang mirip dengan Greek yogurt, tetapi memiliki rasa lebih asam dan tajam. Saus inilah yang menjadi karakter utama Mansaf. Daging yang telah dimasak ulang bersama jameed menghasilkan tekstur sangat lembut, hampir hancur, dengan cita rasa gurih-asam yang khas.

“Proses ini juga membantu mengurangi aroma kuat khas domba, walaupun memang tetap cukup kuat dan mungkin terasa segmented bagi sebagian orang Indonesia,” kata Dennis.

Nasi pendampingnya pun tidak dimasak biasa. Air rebusan domba digunakan sebagai dasar agar rasa lebih dalam dan kaya. Warna nasi menjadi kecokelatan, dengan campuran rempah seperti kapulaga, jintan bubuk, kayu manis, dan bunga lawang yang mempertegas karakter Timur Tengah.

 

Keaslian Rasa

Dennis mengaku berupaya mempertahankan keaslian rasa dalam setiap hidangan. Ia pernah bekerja di Timur Tengah selama kurang lebih tujuh tahun, termasuk di Oman. Pengalaman tersebut membentuk pemahamannya terhadap profil rasa masakan kawasan tersebut.

“Kami berusaha menampilkan menu seautentik mungkin. Kadang ada restoran yang menyesuaikan rasa terlalu jauh dengan lidah Indonesia. Di sini, kami mencoba tetap mempertahankan cita rasa aslinya. Suka atau tidak, itu kembali ke preferensi masing-masing,” ujarnya.

Pendekatan serupa juga diterapkan pada hidangan penutup seperti umm ali dan kunafa. Jika resep asli menggunakan rose water, maka bahan tersebut tetap digunakan, meskipun aromanya cukup kuat bagi sebagian orang.

“Kami ingin menghadirkan pengalaman rasa yang sebenarnya,” tambahnya.

Alternatif Menu Buka Puasa

Sebagai menu berbuka, Mansaf Kharouf menawarkan sensasi berbeda dibandingkan hidangan Ramadan yang umum ditemui. Perpaduan daging empuk, saus jameed yang creamy-asam, serta nasi berbumbu rempah memberikan pengalaman kuliner yang kaya dan mengenyangkan.

Di tengah banyaknya pilihan menu berbuka, sajian autentik seperti Mansaf bisa menjadi alternatif bagi mereka yang ingin mencoba cita rasa Timur Tengah yang lebih otentik—bukan sekadar versi yang telah disesuaikan.

Bagi Dennis, pesan yang ingin ia sampaikan sederhana: menghadirkan rasa asli.

“Kami ingin tamu benar-benar merasakan cita rasa autentik. Soal suka atau tidak, itu kembali ke selera masing-masing. Tapi setidaknya mereka tahu seperti apa rasa aslinya,” ujarnya.