Ditjen Bimas Islam Kembangkan Hutan Wakaf dan KUA Ramah Lingkungan

Kemenag mengarusutamakan ekoteologi melalui hutan wakaf, green KUA, dan masjid ramah lingkungan sebagai bagian pembinaan umat.

Diterbitkan 23 Januari 2026, 06:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) terus mengarusutamakan ekoteologi dalam berbagai program pembinaan umat selama setahun terakhir, mulai dari pengembangan hutan wakaf hingga pembangunan Kantor Urusan Agama (KUA) berkonsep ramah lingkungan.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Abu Rokhmad menyampaikan praktik baik ekoteologi tersebut dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ditjen Bimas Islam yang digelar di Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Rakernas mengusung tema “Menyiapkan dan Melayani Umat Masa Depan” dengan tagline “Terwujudnya Implementasi Perilaku Ekoteologis di Masyarakat”.

Menurut Abu Rokhmad, ekoteologi tidak boleh berhenti pada tataran wacana, melainkan harus diwujudkan dalam perilaku nyata umat dalam kehidupan sehari-hari.

“Ekoteologi adalah bagian dari nilai keislaman. Iman tidak hanya tercermin dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Ditjen Bimas Islam telah menjalankan sejumlah program berbasis lingkungan. Salah satunya pembangunan 154 KUA dengan konsep green building yang ramah lingkungan. Selain itu, Kemenag juga menginisiasi program wakaf pohon yang melibatkan 1,5 juta calon pengantin.

Tak hanya itu, Ditjen Bimas Islam juga mengembangkan Hutan Wakaf seluas 40 hektare di 11 lokasi, yang disinergikan dengan Institut Pertanian Bogor, MOSAIC, dan Badan Wakaf Indonesia (BWI).

Abu Rokhmad menekankan pentingnya peran masjid sebagai pusat edukasi ekoteologi. Saat ini, terdapat 1.507 masjid pilot yang dikembangkan sebagai masjid ramah lingkungan.

“Masjid bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan umat dan kesadaran ekologis,” katanya.

 

Momentum Konsolidasi Nasional

Gerakan ekoteologi juga digerakkan melalui Majelis Taklim dengan program penanaman satu juta pohon matoa sebagai upaya menumbuhkan kepedulian lingkungan di tingkat komunitas.

Pada aspek penguatan akademik dan narasi keagamaan, Kemenag turut menyelenggarakan International Conference on Islamic Ecotheology for The Future of The Earth yang melibatkan para pakar dan akademisi. Menurut Abu Rokhmad, forum tersebut penting untuk memperkuat landasan ilmiah serta literasi ekoteologi di kalangan umat.

“Pesan lingkungan harus menjadi bagian dari ajaran agama yang mudah dipahami dan diamalkan,” tandasnya.

Rakernas Ditjen Bimas Islam 2026 menjadi momentum konsolidasi nasional untuk memperkuat kolaborasi, efisiensi, serta penguatan nilai-nilai keislaman dalam menyiapkan umat masa depan yang berwawasan lingkungan