Cara Sholat Saat Berada di Dalam Kapal Laut Serta Panduan Menentukan Arah Kiblat

Ketahui cara sholat saat berada di dalam kapal laut, termasuk panduan lengkap menentukan arah kiblat.

Diterbitkan 06 November 2025, 16:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Menghadap kiblat merupakan syarat sah salat yang wajib dipenuhi oleh setiap muslim. Namun, ketika sedang bepergian, banyak orang merasa bingung tentang cara sholat saat berada di dalam kapal karena kondisi kendaraan yang terus bergerak dan berputar arah.

Cara sholat saat berada di dalam kapal memiliki fleksibilitas berdasarkan dalil-dalil yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW dan pendapat para ulama. Melansir dari buku Fikih karya Kholidatuz Zuhriyah dan Machunah Ani Zulfah, pada zaman dulu sebelum ada pesawat terbang, kapal laut, bis, dan kereta api, orang-orang bepergian dengan binatang seperti unta dan keledai.

Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan salat dalam perjalanan telah dibahas sejak masa awal Islam dengan berbagai kondisi transportasi. Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Kamis (6/11/2025).

Cara Sholat Saat Berada di Dalam Kapal Laut

Pelaksanaan salat di atas kapal laut memiliki ketentuan khusus yang berbeda dengan salat di daratan. Kondisi kapal yang terus bergerak dan berubah arah membuat umat Islam perlu memahami tata cara yang tepat agar ibadah tetap sah.

Menurut penjelasan dalam kitab Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq karya Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi, arah kiblat saat salat di kapal laut boleh menghadap ke mana saja sesuai arah laju kapal bergerak. Hal ini memberikan kemudahan bagi musafir yang sedang dalam perjalanan.

Ketentuan salat di atas kapal dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Menghadap Arah Laju Kendaraan

Ketika seseorang tidak yakin ke mana harus menghadap arah kiblat, maka dibolehkan untuk menghadap sesuai arah laju kendaraan. Hal ini berdasarkan hadits dari Anas bin Malik RA yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW apabila salat sunah di atas kendaraannya, beliau menghadap ke kiblat lalu takbir untuk salat, kemudian membiarkan kendaraannya dan salat mengikuti arah mana saja kendaraan itu menuju (HR Ahmad dan Abu Dawud).

2. Gerakan Rukuk dan Sujud

Ketika salat di atas kendaraan, untuk gerakan rukuk cukup diisyaratkan dengan menunduk. Sementara untuk gerakan sujud, cukup menunduk lebih rendah dari gerakan rukuk. Hal ini memudahkan pelaksanaan salat dalam kondisi terbatas di atas kapal.

3. Salat Sambil Duduk

Seorang muslim dapat melakukan salat di kursi atau tempat duduk apabila keadaan tidak memungkinkan untuk berdiri. Hal ini pernah dicontohkan Rasulullah SAW ketika salat di atas punggung unta, sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Amir bin Rabi'ah.

4. Khusus untuk Salat Sunah

Dari hadits riwayat Amir bin Rabi'ah, disebutkan bahwa Rasulullah SAW bertasbih dan berisyarat dengan kepalanya ke arah mana saja kendaraannya menghadap, namun beliau tidak berbuat demikian dalam salat fardhu (HR Ahmad, Bukhari, dan Muslim). Ini menunjukkan ada perbedaan ketentuan antara salat sunah dan fardhu.

5. Pendapat Ulama Syafi'i

Di dalam kitab Al-Majmuu' 'alaa Syarh al-Muhadzdzab diterangkan bahwa bagi kalangan Syafi'i, salat di atas kapal laut diharuskan untuk dilaksanakan secara berdiri menghadap kiblat. Jika tidak mampu, maka salat tersebut hanya untuk menghormati waktu dan diwajibkan mengulangi salatnya setelah sampai di daratan.

6. Menjaga Keamanan dan Rombongan

Bila waktu salat wajib telah tiba sementara sedang berjalan dan ada kekhawatiran akan terpisah dari rombongan atau kekhawatiran akan keselamatan diri dan harta, maka tidak diperbolehkan meninggalkan salat. Salatlah di atas kendaraan sekedar menghormati waktu, namun diwajibkan mengulangi salatnya karena hal tersebut termasuk uzur yang langka.

Panduan Menentukan Arah Kiblat Saat di Kapal Laut

 

Menentukan arah kiblat saat berada di kapal laut menjadi tantangan tersendiri karena kondisi laut yang luas dan tidak adanya penanda arah yang jelas. Kiblat umat Islam menghadap ke arah Ka'bah yang ada di Makkah, namun di tengah laut hal ini memerlukan cara khusus.

Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan arah kiblat saat berada di kapal laut. Metode-metode ini telah digunakan sejak zaman dahulu dan terus berkembang dengan bantuan teknologi modern yang memudahkan pelaksanaan ibadah.

1. Bertanya pada Orang yang Mengetahui

Bagi mereka yang tidak tahu atau kehilangan arah kiblat baik karena mendung maupun gelap, diwajibkan untuk mencari petunjuk dengan bertanya pada orang yang mengetahuinya. Di kapal modern, biasanya awak kapal atau nakhoda memiliki pengetahuan tentang arah mata angin yang dapat membantu menentukan kiblat.

2. Menggunakan Kompas

Kompas adalah alat tradisional yang sangat membantu dalam menentukan arah kiblat. Dengan mengetahui posisi geografis kapal dan arah Ka'bah dari posisi tersebut, penumpang dapat menggunakan kompas untuk menentukan kiblat dengan lebih akurat.

3. Memanfaatkan Aplikasi Penunjuk Kiblat

Di era digital, aplikasi smartphone dapat membantu menentukan arah kiblat dengan akurat menggunakan GPS dan sensor magnetik. Berbagai aplikasi penunjuk kiblat tersedia secara gratis dan dapat digunakan meskipun berada di tengah laut.

4. Mengamati Posisi Matahari dan Bintang

Metode tradisional menggunakan pengamatan posisi matahari di siang hari dan bintang di malam hari juga dapat membantu. Pengetahuan astronomi sederhana dapat memberikan petunjuk arah mata angin yang kemudian digunakan untuk menentukan kiblat.

5. Berijtihad Menentukan Arah

Jika tidak dapat mendapatkan petunjuk dengan cara apapun, maka diperkenankan untuk berijtihad (bersungguh-sungguh) menebak di mana arah kiblat dan kemudian salat menghadap ke arah sesuai ijtihadnya. Dalam kondisi seperti ini, salat dianggap sah dan tidak ada kewajiban untuk mengulang.

Dalil Tentang Salat di Atas Kendaraan

Dalil-dalil tentang salat di atas kendaraan telah dijelaskan dalam beberapa hadits shahih yang diriwayatkan oleh para perawi terpercaya. Hadits-hadits ini menjadi landasan hukum bagi pelaksanaan salat dalam kondisi bepergian menggunakan berbagai jenis kendaraan termasuk kapal laut.

Dari Anas bin Malik RA, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW apabila hendak salat sunah di atas kendaraannya, beliau menghadap ke kiblat terlebih dahulu lalu takbir untuk memulai salat. Setelah itu, beliau membiarkan kendaraannya bergerak dan melanjutkan salat mengikuti arah mana saja kendaraan tersebut menuju. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad yang shahih.

Dalil lain yang menguatkan adalah hadits dari Amir bin Rabiah RA yang menyatakan bahwa ia pernah melihat Rasulullah SAW salat di atas kendaraannya, menghadap ke arah mana saja kendaraan itu mengarah. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dua imam hadits yang paling tinggi derajatnya, sehingga keshahihan hadits ini tidak diragukan lagi.

Melansir dari kitab Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah, hadits-hadits tersebut memberikan kemudahan bagi umat Islam yang sedang dalam perjalanan. Namun perlu dicatat bahwa dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak melakukan hal tersebut dalam salat fardhu, yang menunjukkan adanya perbedaan ketentuan antara salat wajib dan sunah.

Hadits-hadits ini juga menjelaskan bahwa ketika salat di atas kendaraan, gerakan rukuk dan sujud cukup dilakukan dengan isyarat kepala. Untuk rukuk, cukup menundukkan kepala, sedangkan untuk sujud, menundukkan kepala lebih rendah dari rukuk. Hal ini memudahkan pelaksanaan salat dalam kondisi yang terbatas di atas kendaraan yang bergerak.

FAQ

  1. Apakah sholat wajib di kapal laut? Ya, sholat tetap wajib dilaksanakan meskipun sedang berada di dalam kapal laut.
  2. Bagaimana cara menentukan arah kiblat di kapal? Gunakan kompas, aplikasi penunjuk kiblat, bertanya kepada awak kapal, atau berijtihad jika tidak ada petunjuk.
  3. Bolehkah sholat sambil duduk di kapal? Ya, jika kondisi tidak memungkinkan untuk berdiri, sholat boleh dilakukan sambil duduk.
  4. Bagaimana gerakan rukuk dan sujud di kapal? Gerakan rukuk dan sujud dapat diganti dengan isyarat menundukkan kepala atau badan.
  5. Apakah sholat fardhu di kapal harus diulang? Menurut Mazhab Syafi'i, dalam kondisi tertentu sholat fardhu mungkin perlu diulang, namun ada pandangan lain yang menyatakan tidak perlu jika sudah berupaya maksimal.
  6. Apa yang harus dilakukan jika salah kiblat di tengah sholat? Segera ubah arah ke kiblat yang benar tanpa menghentikan sholat.
  7. Adakah kemudahan lain dalam ibadah di perjalanan? Ya, seperti jamak (menggabungkan sholat) dan qashar (meringkas rakaat sholat).