Arsitektur Tumpang Sari Masjid Jawa: Fungsi, Filosofi dan Simbol Harmoni

Arsitektur tumpang sari masjid Jawa melambangkan tingkat kehidupan spiritual manusia dari duniawi menuju hubungan dengan Tuhan, sekaligus memberikan kestabilan dan ketahanan bangunan terhadap beban gravitasi dan pengaruh lingkungan seperti angin dan gempa

Diterbitkan 24 Oktober 2025, 07:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Arsitektur tumpang sari masjid Jawa, merupakan perpaduan harmonis antara nilai budaya Islam dan tradisi lokal Jawa. Bentuk atap bertingkat yang disebut Tajug, ditopang oleh struktur tumpangsari dan tiang saka guru, tidak hanya berfungsi sebagai penopang fisik bangunan tetapi juga mengandung makna simbolis yang dalam.

Arsitektur masjid ini melambangkan tingkat kehidupan spiritual manusia dari duniawi menuju hubungan dengan Tuhan, sekaligus memberikan kestabilan dan ketahanan bangunan terhadap beban gravitasi dan pengaruh lingkungan seperti angin dan gempa. Secara historis, Indonesia akrab dengan berbagai bencana dengan gempa sebagai salah satu yang paling sering terasa dampaknya.

Banyak masjid di Jawa dan bahkan luar Jawa yang mengadopsi arsitektur tumpang sari. Beberapa masjid legendaris, misalnya Masjid Agung Demak, Masjid Kauman Yogyakarta, hingga Kasepuhan Cirebon juga menggunakan arsitektur tumpangsari. Hal ini menujukkan ada nilai filosofi yang mendalam alih-alih sekadar kekuatan struktur bangunan.

Pengertian Arsitektur Tumpang Sari Masjid Jawa

Arsitektur tumpangsari merupakan salah satu ciri khas penting dalam bangunan tradisional Jawa, khususnya pada struktur rumah joglo dan masjid-masjid bersejarah seperti yang dijelaskan dalam jurnal Studi Komparasi Arsitektur Tumpangsari Joglo Brayut dan Keraton Kasepuhan Cirebon serta Jurnal Keragaman Struktur Bangunan Masjid Islam Jawa.

Tumpangsari pada dasarnya adalah susunan balok kayu bertumpuk bertingkat yang ditempatkan di atas tiang utama (saka guru). Fungsi utama arsitektur ini bukan hanya sebagai penopang atap bertingkat, melainkan juga sebagai elemen yang menopang langit-langit dan memberikan kestabilan struktural pada bangunan dengan teknik sambungan tradisional tanpa paku.

Bentuk bertingkat ini sangat menonjol dan menjadi identitas visual yang kuat, menandai status sosial pemilik serta fungsi bangunan dalam masyarakat Jawa.

Dalam konteks rumah joglo dan bangunan masjid Jawa, tumpangsari memiliki makna yang lebih dari sekadar fungsi struktural. Pada rumah-rumah adat seperti Joglo Brayut maupun bangsal bangsawan di Keraton Kasepuhan Cirebon, tumpangsari menjadi simbol status sosial dan kultural.

Jumlah tingkatan tumpangsari bervariasi sesuai dengan tingkat sosial pemiliknya, misalnya tujuh tingkat pada bangsal keraton dan empat tingkat pada rumah rakyat biasa. Sedangkan pada masjid, seperti Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta, arsitektur tumpangsari dipadukan dengan filosofi kosmologis dan spiritual yang melambangkan tingkatan kehidupan manusia dari duniawi menuju hubungan spiritual dengan Tuhan, sekaligus menjadi kerangka bagi atap tajug bertingkat yang ikonik dalam masjid Jawa.

Selain fungsi struktural dan simbol sosial, tumpangsari juga sarat dengan nilai estetika dan filosofi. 

Fungsi Arsitektur Tumpangsari

Merujuk jurnal Studi Komparasi Arsitektur Tumpangsari Joglo Brayut dan Keraton Kasepuhan Cirebon oleh Dida Laily Chairunnisa, dkk fungsi arsitektur tumpangsari pada arsitektur Jawa tradisional memiliki fungsi utama sebagai struktur penopang atap bertingkat dan langit-langit, memperkuat kestabilan bangunan, serta berperan sebagai simbol status sosial, keindahan artistik, dan nilai-nilai filosofi serta kosmologi lokal. Selain itu, tumpangsari juga berkontribusi pada kenyamanan lingkungan dalam bangunan melalui sirkulasi udara yang baik.

1. Penyangga dan Struktur Atap:

Tumpangsari adalah susunan balok bertingkat yang diletakkan di atas saka guru (tiang utama).Bagian ini menopang bidang langit-langit joglo (pamidhangan) dan bidang atap yang membentuk atap bertingkat.Elar adalah pelebaran keluar dari atas saka guru yang menopang atap, sedangkan tumpangsari menopang langit-langit.

2. Fungsi Arsitektural dan Tektonik:

Tumpangsari merupakan elemen struktural penting yang menjaga kestabilan rangka atap. Memperkuat dan menstabilkan konstruksi tiang utama dengan penggunaan berbagai balok pengikat (seperti pengeret, sunduk, dan ander). Menyediakan kerangka kokoh yang memungkinkan penopang atap berundak tanpa penggunaan paku, cukup dengan sambungan kayu tradisional.

3. Fungsi Simbolik dan Estetika:

Menjadi elemen identitas visual pada arsitektur tradisional Jawa, terutama dalam rumah bangsawan dan bangunan keraton, yang mencerminkan status sosial dan keagungan. Tingkat tumpangsari (jumlah lapisan) mencerminkan kasta atau kedudukan sosial, misalnya 7 tingkat pada bangsal bangsawan dan 4 tingkat pada rumah rakyat biasa. Dibuat dengan ragam hias yang mengandung unsur flora, fauna, dan alam semesta, memberikan makna simbolik keberkahan dan perlindungan dari Tuhan. Ornamen ukiran dan lukisan biasanya menghiasi balok-balok tumpangsari sebagai nilai estetis dan simbol spiritual.

4. Fungsi Ventilasi dan Sirkulasi Udara

Struktur bertingkat tumpangsari memungkinkan sirkulasi udara yang baik di dalam ruang utama, menjaga kesejukan dan kenyamanan.

5. Fungsi Filosofis dan Kosmologis

Melambangkan hubungan antara manusia dengan alam semesta, serta tingkatan spiritual. Merupakan representasi kosmologi Jawa, di mana soko guru dan tumpangsari merujuk pada pusat dan empat penjuru dunia yang dihubungkan secara keseimbangan.

Makna arsitektur tumpangsari

Masih merujuk pada studi Tumpangsari di Cirebon Dida Laily Chairunnisa dan rekan-rekan, makna arsitektur tumpangsari makna arsitektur tumpangsari adalah simbol status sosial dan spiritual, elemen struktural yang kuat, serta media ekspresi estetika yang kental dengan nilai budaya dan kosmologi Jawa. 

1. Simbol Sosial dan Status

Tumpangsari pada rumah joglo merupakan penanda sosial yang mencerminkan kasta atau status pemilik bangunan

2. Fungsi Struktural dan Tektonik

Tumpangsari adalah susunan balok kayu bertingkat yang diletakkan di atas saka guru (tiang utama), berfungsi sebagai penopang bidang langit-langit (pamidhangan) dan atap joglo. Struktur ini memberikan kestabilan pada bangunan tanpa menggunakan paku, cukup dengan teknik sambungan kayu tradisional. Tumpangsari juga berfungsi sebagai elemen stabilisator dan penguat konstruksi bangunan.

3. Nilai Filosofis dan Kosmologis

Jumlah tingkat tumpangsari dan penempatan saka guru mencerminkan konsep kosmologi Jawa, yaitu hubungan manusia dengan alam semesta dan aspek spiritual. Tiang saka guru yang menopang tumpangsari berjumlah empat, melambangkan empat penjuru mata angin dan pusat (pancer), yang dipercaya memiliki makna magis dan keseimbangan dalam kehidupan.

Oleh karenanya, tumpangsari juga memiliki makna simbolik sebagai pusat dan penyangga spiritual dalam bangunan tradisional Jawa.

4. Nilai Estetika dan Ragam Hias

Ragam hias pada tumpangsari terdiri dari motif flora, fauna, dan alam semesta yang memiliki makna simbolik keberkahan dan perlindungan. Pada Bangsal Jinem Pangrawit, ragam hiasnya sangat detail dengan motif khas seperti lung-lungan (motif flora melata), wajikan, dan padma (teratai), yang menunjang keindahan sekaligus makna spiritual dalam bangunan. Sedangkan pada rumah joglo Brayut, ragam hias lebih sederhana dan minim karena fungsi dan status sosial yang berbeda.

5. Fungsi Sosial dan Aktivitas

Tumpangsari juga mencerminkan fungsi bangunan itu sendiri. Bangsal Jinem Pangrawit, sebagai tempat penerimaan tamu penting dan kegiatan resmi bangsawan, memiliki arsitektur tumpangsari yang lebih megah dan rumit. Sedangkan rumah joglo Brayut digunakan untuk tempat tinggal rakyat biasa dengan fungsi yang lebih sederhana dan fungsional.

Bentuk dan Struktur Tumpangsari

Bentuk dan struktur tumpangsari dalam arsitektur rumah joglo, khususnya yang dibahas dalam studi perbandingan antara rumah Joglo Brayut (rakyat biasa) dan Bangsal Jinem Pangrawit Keraton Kasepuhan Cirebon (bangsawan), dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Bentuk Tumpangsari

Tumpangsari adalah susunan balok kayu bertingkat (bertumpuk) yang diletakkan di atas tiang utama (saka guru). Pada Bangsal Jinem Pangrawit, tumpangsari memiliki bentuk megah dan kompleks dengan jumlah tingkatan mencapai tujuh tingkat, lengkap dengan ragam hias ornamen floral yang sangat detail dan dilapisi lembaran emas, mencerminkan status sosial bangsawan.

Pada rumah Joglo Brayut, tumpangsari lebih sederhana dengan hanya empat tingkat dan minim ragam hias, tajam mencerminkan rumah rakyat biasa. Ukirannya sangat minimal dan hanya terdapat di balok tengah untuk pemasangan alat penerangan.

2. Struktur Tumpangsari

Tumpangsari berada di atas saka guru (empat tiang utama) yang berfungsi sebagai penopang. Struktur tumpangsari terdiri dari berbagai elemen kayu yang disusun bertingkat dan terikat dengan teknik sambungan tradisional tanpa paku.

Bagian-bagian penting dalam struktur tumpangsari meliputi:

  • Molo (sirah/suwunan): Balok paling atas sebagai kepala bangunan.
  • Ander (saka-gini): Balok penopang molo, terletak di atas pengeret.
  • Pengeret: Balok penghubung yang melintang menurut lebar rumah.
  • Sunduk: Stabilisator konstruksi tiang untuk menahan goncangan.
  • Kili: Balok pengunci sambungan antara sunduk dan tiang.
  • Pamidhangan: Rongga yang terbentuk oleh susunan balok atau tumpangsari.
  • Elar (sayap): Pelebaran ke luar pada bagian atas saka guru yang menopang atap.
  • Dhadha Peksi dan elemen lain: Balok pengerat dan penahan lain untuk stabilitas tambahan.

3. Komposisi dan Fungsi

Tumpangsari menopang bidang langit-langit (pamidhangan) dan mendukung bidang atap yang berundak-undak. Tiap tingkatan balok bertingkat memberikan bentuk bertumpuk yang elegan dan sekaligus berfungsi sebagai penopang struktur atap bertingkat tanpa penggunaan paku, hanya menggunakan sambungan kayu. Struktur ini memungkinkan sirkulasi udara yang baik di dalam bangunan dan juga meredam getaran bangunan.

 

Material dan Ornamen

Berdasarkan jurnal Jurnal Keragaman Struktur Bangunan Masjid Islam Jawa  (Studi kasus: Bangunan Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta) oleh Endang Setyawati, material utama masjid ini adalah batu kali, batu marmer, dan kayu lokal yang kuat dan tahan lama.

Sedangkan ornamen masjid terdiri dari kaligrafi Islam, motif flora dan fauna, serta motif geometris yang menghiasi kolom, balok, pondasi, dan tumpangsari, memberikan nilai estetika sekaligus makna religius dan budaya yang kuat pada bangunan Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta.

1. Material

Pondasi masjid utama menggunakan batu kali dan batu marmer, memberikan kekuatan dan ketahanan bangunan selama lebih dari 250 tahun. Struktur utama atap bertumpu pada empat saka guru (tiang utama) dan kolom tambahan yang terbuat dari kayu, dipadukan dengan balok pengikat kayu bertingkat untuk mendukung konstruksi atap bertingkat Tajug.

Pada bagian serambi, pondasi menggunakan umpak batu berbentuk trapesium, dan struktur kolom kayu berbentuk persegi dan bulat. Pemilihan material sangat dipengaruhi oleh lokalitas dan kondisi iklim setempat, serta teknologi tradisional yang menggunakan bahan alami lokal seperti kayu dan batu.

Sistem konstruksi menggunakan teknik sambungan kayu tradisional tanpa paku (pasak dan sambungan sendi), sehingga mudah untuk perbaikan dan penggantian material.

2. Ornamen

Ornamen terdapat pada beberapa elemen struktur terutama pada kolom dan balok di bangunan serambi, serta pada detail pondasi dan tumpangsari. Kolom pada bangunan utama polos tanpa ornamen sebagai manifestasi kesederhanaan dan kekhusukan ibadah dalam agama Islam, sedangkan kolom pada serambi dihias dengan kaligrafi, prada, dan motif padma (bunga teratai) yang bersifat geometris.

Balok pengikat tumpangsari pada serambi penuh dengan ragam hias dekoratif seperti motif nanas-nanasan (buah nanas), prada, praba, kaligrafi dalam bentuk geometris, dan ornamen bunga dan daun. Ornamen kaligrafi dan geometris juga ditemukan pada pondasi umpak, baik yang berbentuk bulat maupun trapesium, dengan motif kaligrafi Islam dan ornamen geometrik berupa daun dan bunga.

Struktur atap terutama pada bagian tumpangsari dan balok kantilever dihias penuh dengan dekorasi yang memperindah tampilan, kecuali struktur atap tajug utama yang cenderung sederhana tanpa ornamen. Ornamentasi tidak hanya berfungsi estetis, tetapi juga mengandung simbolisme keagamaan dan budaya Jawa, seperti keberkahan, perlindungan, dan filosofi kosmologis.

Kesimpulan: Material utama masjid ini adalah batu kali, batu marmer, dan kayu lokal yang kuat dan tahan lama, sedangkan ornamen masjid terdiri dari kaligrafi Islam, motif flora dan fauna, serta motif geometris yang menghiasi kolom, balok, pondasi, dan tumpangsari, memberikan nilai estetika sekaligus makna religius dan budaya yang kuat pada bangunan Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta.

Filosofi Arsitektur Tumpangsari

Filosofi arsitektur tumpangsari merupakan gabungan nilai spiritual, filosofi kosmologis, dan kearifan lokal Jawa yang mengekspresikan hubungan manusia dengan alam dan Tuhan melalui bentuk atap bertingkat yang fungsional dan simbolis, mencerminkan kehidupan manusia dari dunia menuju akhirat serta harmoni dengan lingkungan.

1. Simbol Tingkatan Kehidupan dan Hubungan Manusia dengan Tuhan

Tumpangsari yang membentuk struktur atap bertingkat pada Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta (berbentuk atap Tajug bersusun tiga) melambangkan tingkatan kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Allah (Tuhan).

Tingkat terendah menunjukkan manusia yang masih bersifat duniawi dan berinteraksi dengan lingkungannya secara baik.

Tingkat kedua menandakan manusia mulai meninggalkan hal-hal duniawi dan meningkatkan hubungan spiritual dengan Allah secara kualitas dan kuantitas. Tingkat tertinggi melambangkan manusia yang mengarah pada akhirat (akherat) dan semakin meninggalkan dunia.

2. Simbol Kesederhanaan, Kesetaraan, dan Harmoni Alam

Denah atap berbentuk persegi melambangkan kesederhanaan dan derajat manusia yang sama di hadapan Allah. Bentuk persegi ini juga adalah identitas khas rumah Jawa.

Filosofi Jawa yang dikenal sebagai "Hamemayu Hayuning Bawana" (membuat alam menjadi harmonis) tercermin dalam orientasi bangunan agar selaras dengan sumbu kosmis utara-selatan dan sesuai dengan aliran angin.

Hal ini menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, alam (mikrokosmos), dan Tuhan (makrokosmos).

3. Struktur

Tumpangsari sebagai Rangka Ruang yang Kokoh dan Fleksibel Struktur tumpangsari berfungsi tidak hanya sebagai penopang atap bertingkat tetapi juga sebagai struktur rangka ruang yang kaku, menahan beban dan torsi akibat berat atap dan angin.

Sistem sambungan tradisional yang fleksibel memungkinkan bangunan beradaptasi terhadap gempa, sekaligus melambangkan keseimbangan dan ketahanan dalam kehidupan.

4. Makna Kosmologis dan Spiritual Jawa

Empat tiang utama (soko guru) mewakili pusat (pancer) dan empat penjuru mata angin, suatu interpretasi kosmologi Jawa yang merepresentasikan keseimbangan dan keteraturan alam semesta.

Struktur tumpangsari yang bertingkat dan berundak layaknya piramida menunjukkan hierarki spiritual dan fisik, membawa simbolisasi perjalanan manusia dari dunia menuju Tuhan.

Pengaruh terhadap arsitektur masjid di Jawa

Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta, sangat dipengaruhi oleh perpaduan nilai budaya Islam, budaya Jawa lokal, serta unsur-unsur sejarah dan sosial yang khas daerah tersebut. Masjid ini juga menjadi rujukan untuk masyarakat yang kemudian mengadopsi arsitektur dengan versi lebih sederhana.

1. Lokalitas Budaya dan Sosial

Arsitektur masjid Jawa sangat dipengaruhi oleh kultur, sosial budaya, dan religiusitas masyarakat setempat. Misalnya, Masjid Gedhe sebagai simbol peradaban Islam di Jawa mengintegrasikan nilai-nilai budaya Jawa dalam bentuk arsitektur tradisionalnya.

Pengaruh budaya Jawa terutama terlihat pada bentuk atap seperti atap Tajug bertingkat dengan konstruksi tumpangsari dan soko guru yang merupakan ciri khas rumah tradisional Jawa (Joglo), tetapi dimodifikasi untuk fungsi masjid. Elemen budaya lain yang berperan termasuk penggunaan motif ornamen berupa ragam hias lokal dan simbol-simbol keagamaan Islam yang terintegrasi dengan kearifan lokal.

2. Integrasi Unsur Islam dan Jawa

Masjid-masjid di Jawa tidak hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga pusat kegiatan budaya dan sosial masyarakat, seperti halnya Masjid Gedhe yang berkaitan dengan tradisi Sekaten di Keraton Yogyakarta. Desain bangunan menggabungkan prinsip-prinsip Islam, misalnya kesederhanaan dan kekhusukan, terlihat dari kolom utama polos tanpa ornamen sebagai ekspresi nilai Islam.

Sementara itu, struktur dan ornamen pendukung seperti pada serambi dan tumpangsari kaya akan dekorasi kaligrafi dan motif flora-fauna yang bersifat simbolik dan estetis, mencerminkan filosofi Jawa dan Hindu-Buddha yang diwariskan.

3. Pengaruh Tradisi Arsitektur Jawa dan Sistem Konstruksi Loka

l Teknik konstruksi bangunan menggunakan bahan dan teknik lokal seperti kayu, batu kali, dan batu marmer yang tahan lama serta teknik sambungan kayu tradisional tanpa paku yang mendukung fleksibilitas struktur terhadap gempa.

Perancangan struktural seperti penggunaan soko guru sebagai tiang utama dan tumpangsari sebagai kerangka rangka ruang merupakan adaptasi dari rumah adat joglo yang kemudian diadopsi pada masjid untuk menciptakan kestabilan dan estetika. Struktur bertingkat tumpangsari mendukung tampilan atap bertingkat dan memperkuat kestabilan bangunan terhadap beban gravitasi dan angin, sekaligus memberikan nilai simbolis.

4. Pengaruh Filosofi dan Kosmologi

Orientasi dan bentuk bangunan mencerminkan filosofi kosmologis Jawa seperti konsep Hamemayu Hayuning Bawana (harmoni antara manusia dan alam). Misalnya orientasi masjid mengikuti sumbu kosmis utara-selatan yang dihubungkan dengan kepercayaan lokal dan mitigasi pengaruh iklim dan angin.

Bentuk atap bertingkat (Tajug susun tiga) merepresentasikan tingkatan spiritual manusia, dari duniawi ke akhirat, sekaligus memperlihatkan hubungan vertikal antara manusia, alam, dan Tuhan.

Masjid-Masjid di Jawa dengan Arsitektur Tumpangsari

Berikut adalah beberapa masjid di Jawa yang memiliki arsitektur tumpangsari beserta penjelasannya:

1. Masjid Agung Demak

Salah satu masjid tertua di Jawa yang dibangun pada abad ke-15 ini merupakan contoh klasik arsitektur tumpangsari Jawa. Atapnya berbentuk panggung bertingkat tiga dengan struktur tumpangsari yang menopang langit-langit dan atap.

Tumpangsari di masjid ini menampilkan teknik sambungan kayu tradisional tanpa paku dan dihiasi ornamen khas Jawa yang sederhana namun penuh makna spiritual. Masjid Agung Demak menjadi simbol awal penyebaran Islam di Jawa dan mempertahankan nilai arsitektur tradisional Jawa yang kental.

2. Masjid Menara Kudus

Masjid ini menggabungkan gaya arsitektur Islam dengan unsur budaya Hindu-Buddha, terlihat pada menara berbentuk pagoda. Tumpangsari pada Masjid Menara Kudus digunakan sebagai struktur penopang atap utama yang bertingkat dengan teknik kayu tradisional.

Meski bentuk tumpangsari agak disesuaikan dengan keunikan menara pagoda, fungsi dan filosofi tumpangsari tetap dipertahankan sebagai penopang atap dan simbol tingkatan spiritual.

3. Masjid Agung Sang Ci[pta Rasa Cirebon

Masjid ini memiliki atap bertingkat yang didukung oleh struktur tumpangsari dan tiang saka guru. Tumpangsari pada masjid ini disusun rapi dengan ornamen ukiran kayu yang memperkaya nilai estetika sekaligus menegaskan identitas budaya lokal.

Masjid Agung Cirebon menjadi salah satu contoh perpaduan gaya arsitektur Jawa tradisional dengan kebutuhan fungsi masjid sebagai tempat ibadah berjamaah.

4. Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta

Masjid ini memiliki atap tajug bertingkat yang ditopang oleh struktur tumpangsari kayu. Tak hanya berfungsi sebagai penopang, tumpangsari pada Masjid Gedhe Kauman juga mengandung nilai filosofi yang mencerminkan hierarki hidup dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Ornamen kaligrafi dan motif flora pada tumpangsari semakin memperindah interior masjid, menunjukkan perpaduan estetika dan spiritual.

People Also Talk 

1. Apa saja elemen arsitektur lokal Jawa yang diadopsi oleh masjid Jawa?

Berbagai elemen pembentuk masjid yang berkaitan erat dengan apa yang ada pada arsitektur Jawa, yaitu atap tajug yang menjadi penanda tipe masjid Jawa adalah unsur bentuk yang paling dominan, ruang dalem dan pendopo, soko guru, atap tajug tumpang tiga dan atap limasan, serta pajupat dan pancer.

2. Bagaimana arsitektur masjid dalam bahasa Jawa?

Ciri khas arsitektur Islam Jawa meliputi atap bertingkat, gerbang upacara, empat tiang pusat yang menyokong atap piramida yang menjulang tinggi, dan berbagai elemen dekoratif seperti puncak atap dari tanah liat yang rumit .

3. Gaya arsitektur Masjid Agung Jawa Tengah?

Megahnya Masjid Agung Jawa Tengah, Perpaduan 3 Gaya ...Perpaduan Arsitektur Jawa, Arab, Yunani

Dalam artikel Agus Fathuddin Yusuf disebutkan, arsitektur Masjid Agung Jawa Tengah memadukan gaya Jawa, Timur Tengah (Arab Saudi) dan Yunani. Gaya Timur Tengah terlihat dari kubah dan empat minaretnya. Gaya Jawa terlihat dari bentuk tajugan di atap, di bawah kubah utama.

4. Contoh masjid yang menggunakan atap tumpang adalah?

Masjid Agung Demak (Jawa Tengah)

Nilai filosofis pada arsitektur masjid dapat dilihat pada pemilihan atap tumpang yang dibuat mirip dengan punden berundak. Atap ini menunjukan adanya hasil akulturasi Islam dengan budaya lokal.