Mengenal Ikan Nun dalam Kisah Nabi Yunus ‘Alaihis Salam, Apakah Masih Ada?

Kisah Nabi Yunus ditelan ikan Nun menjadi pengingat akan kekuasaan Allah, pentingnya kesabaran, tobat, dan pengharapan kepada-Nya.

Diterbitkan 10 Juli 2025, 12:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Dalam sejarah kenabian, terdapat kisah menakjubkan yang menjadi pelajaran bagi umat manusia: seorang nabi yang ditelan oleh ikan besar dan tetap hidup di dalam perutnya. Kisah ini bukan dongeng, tetapi tercatat dalam kitab suci Al-Qur’an. Nabi yang dimaksud adalah Nabi Yunus ‘alaihis salam, dan ikan yang menelannya dikenal sebagai ikan nun.

Kisah ini tak hanya menjadi pengingat akan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi juga tentang pentingnya kesabaran, tobat, dan pengharapan kepada-Nya. Bahkan dalam kegelapan perut ikan, dasar laut, dan malam yang kelam, cahaya rahmat Allah tetap menyinari hamba-Nya yang kembali bertaubat.

Liputan6.com akan mengupas lebih dalam mengenai apa itu ikan nun, kisah Nabi Yunus yang meninggalkan kaumnya, serta menjawab pertanyaan penting, apakah ikan nun masih ada hingga hari ini? Kamis (10/7/2025).

Apa Itu Ikan Nun?

Dalam Al-Qur’an, ikan nun disebut dalam beberapa ayat yang berkaitan dengan kisah Nabi Yunus. Nama “nun” sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti ikan besar, sebagaimana dijelaskan oleh Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar Jilid 6. Dalam konteks ini, nun bukan nama spesifik suatu spesies, melainkan sebutan untuk ikan raksasa yang menelan Nabi Yunus atas izin Allah.

Allah berfirman:

"Dan ingatlah kisah Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, 'Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.'" (QS. Al-Anbiya: 87)

Kata “Zun Nun” secara harfiah berarti “pemilik ikan” atau “yang mempunyai kaitan dengan ikan besar”.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ikan nun merupakan ikan yang sangat besar, dan banyak ulama menafsirkannya sebagai paus, meskipun ukurannya diyakini jauh lebih besar dari paus modern.

Kisah Nabi Yunus Meninggalkan Kaumnya

Nabi Yunus ‘alaihis salam diutus kepada penduduk Ninawa, sebuah wilayah di sekitar kota Mosul, Irak. Seperti dijelaskan dalam Tafsir al-Azhar dan Tafsir Ibnu Katsir, beliau berdakwah kepada kaumnya selama 33 tahun, namun hanya dua orang yang beriman.

Frustrasi dengan sikap keras kepala mereka, Nabi Yunus memperingatkan akan datangnya azab, namun tetap saja mereka tidak beriman. Akhirnya beliau pergi meninggalkan mereka tanpa izin dari Allah. Ini merupakan kesalahan seorang nabi, karena tugas dakwah belum selesai dan belum ada perintah untuk berpindah.

"Ingatlah ketika dia (Yunus) lari ke kapal yang penuh muatan, kemudian dia ikut diundi, maka dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian." (QS. As-Saffat: 140–141)

Kapal tersebut menghadapi badai besar, dan para penumpang memutuskan mengurangi beban kapal dengan cara mengundi siapa yang harus dibuang ke laut. Tiga kali undian dilakukan, dan setiap kali nama Nabi Yunus yang keluar. Tanpa ragu, Nabi Yunus melompat ke laut, menunjukkan ketundukannya kepada kehendak Allah.

Ketika beliau jatuh ke laut, seekor ikan besar yang sudah disiapkan Allah langsung menelannya.

"Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela." (QS. As-Saffat: 142)

Nabi Yunus berada dalam tiga kegelapan: perut ikan, dasar laut, dan malam hari. Di dalam perut ikan itulah beliau bertasbih, menyesali kesalahannya, dan memanjatkan doa yang abadi:

"Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Al-Anbiya: 87)

Doa ini dikenal sebagai Dzikir Yunus, yang diyakini menjadi doa mustajab untuk meminta ampun dan pertolongan dalam kesulitan.

Setelah Nabi Yunus bertaubat, Allah memerintahkan ikan nun untuk memuntahkannya ke daratan:

"Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit." (QS. As-Saffat: 145)

Allah menumbuhkan pohon labu (yaqthin) untuk meneduhinya dan memulihkan kesehatannya. Setelah pulih, Nabi Yunus kembali ke kaumnya dan mendapati mereka telah beriman. Inilah satu-satunya kisah kaum yang bertobat setelah datangnya ancaman azab, dan tobat mereka diterima.

Apakah Ikan Nun Masih Ada Sekarang?

Pertanyaan yang sering muncul adalah, apakah ikan nun masih hidup hingga kini?

Dalam Al-Qur’an, Allah menyatakan:

"Niscaya dia akan tetap tinggal di perutnya sampai hari kebangkitan." (QS. As-Saffat: 144)

Ayat ini memunculkan dugaan bahwa ikan nun mungkin masih hidup. Namun Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar Jilid 7 memberikan penafsiran yang lebih halus: ayat ini merupakan penggambaran kondisi Nabi Yunus jika beliau tidak bertasbih, bukan pernyataan bahwa ikan nun hidup sampai kiamat.

Karena itu, mayoritas ulama sepakat bahwa ikan nun tidak hidup sampai hari kiamat, dan tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan keberadaannya sekarang. Ikan nun adalah makhluk spesial yang diutus untuk menjalankan tugas Allah, menelan Nabi Yunus, menjaga tubuhnya, dan kemudian memuntahkannya dengan selamat ke daratan tandus.

 

FAQ Seputar Nabi Yunus dan Ikan Nun

1. Siapa Nabi Yunus ‘Alaihis Salam dan dari keturunan siapa beliau?

Nabi Yunus adalah keturunan Nabi Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim dari Bani Israil. Ia diutus kepada kaum Ninawa di wilayah Mosul, Irak.

2. Apa itu ikan nun menurut tafsir para ulama?

Ikan nun adalah sebutan bagi ikan besar yang menelan Nabi Yunus. Dalam tafsir Hamka dan buku “Mukjizat Isra Mi'raj” disebut bahwa ikan ini kemungkinan adalah ikan paus raksasa, tetapi ukurannya jauh lebih besar dari paus biasa.

3. Berapa lama Nabi Yunus berada di dalam perut ikan nun?

Tidak disebutkan secara pasti dalam Al-Qur’an. Namun, beberapa riwayat menyebutkan selama 40 hari, dalam keadaan bertasbih dan bertobat.

4. Apakah ikan nun masih hidup sampai hari ini?

Menurut Tafsir al-Azhar Jilid 7, ayat tentang tinggal di perut ikan sampai hari kiamat adalah bentuk kiasan. Ikan nun tidak hidup hingga kini dan merupakan makhluk khusus untuk tugas tertentu.

5. Apa pelajaran yang bisa diambil dari kisah Nabi Yunus?

Pelajaran utamanya adalah tentang kesabaran dalam dakwah, tobat yang tulus, serta kuasa Allah dalam menyelamatkan hamba-Nya yang kembali kepada-Nya dengan keimanan.