Hidup Itu Harus Ceria, Tiru Nabi Muhammad SAW dengan Cara Ini

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang mengira bahwa kesedihan adalah tanda ketakwaan. Mereka membayangkan bahwa hidup yang serius dan penuh beban merupakan bagian dari penghambaan. Padahal, pandangan seperti ini tidak sepenuhnya benar.

Diterbitkan 07 Juli 2025, 11:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tidak sedikit orang menjalani hidup dengan wajah murung dan hati yang berat oleh kesedihan. Padahal, hidup ceria dan penuh senyum adalah cerminan akhlak seorang mukmin sejati. Keceriaan bukan berarti mengabaikan masalah, namun bagaimana seseorang mampu berdamai dengan musibah yang pernah menimpa.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang mengira bahwa kesedihan adalah tanda ketakwaan. Mereka membayangkan bahwa hidup yang serius dan penuh beban merupakan bagian dari penghambaan. Padahal, pandangan seperti ini tidak sepenuhnya benar.

Islam mengajarkan keseimbangan antara keimanan dan kebahagiaan. Justru seorang Muslim diperintahkan untuk menghadirkan wajah yang ramah, senyum yang tulus, dan semangat hidup yang tinggi dalam kesehariannya. Inilah nilai yang tercermin dalam pribadi Nabi Muhammad SAW.

Pendakwah kelahiran Blitar Jawa Timur KH Yahya Zainul Ma’arif atau yang akrab disapa Buya Yahya menegaskan pentingnya hidup dengan keceriaan. Dalam salah satu ceramahnya, ia mengajak umat Islam untuk meneladani gaya hidup Nabi Muhammad SAW yang penuh senyum dan kehangatan.

 

Simak Video Pilihan Ini:

Nabi Muhammad SAW Pernah Sedih, tapi Sebentar

Dikutip Ahad (06/07/2025) dari tayangan video di kanal YouTube @albahjah-tv, Buya Yahya menyampaikan bahwa gaya hidup Nabi adalah “basam”, yakni wajah yang senantiasa tampak ceria dan tersenyum, bukan wajah muram yang membuat orang di sekitarnya ikut sedih.

Menurut Buya Yahya, Nabi Muhammad SAW memang pernah menangis saat putranya, Sayyidina Ibrahim wafat. Namun tangisan itu hanya sesaat. Setelah itu, wajah beliau kembali mencerminkan sosok yang ceria dan optimis dalam menyebarkan dakwah.

Keceriaan dalam Islam bukan sesuatu yang dangkal. Justru senyum dan semangat hidup adalah bentuk keteguhan iman. Seorang mukmin yang sejati adalah mereka yang mampu menyimpan kesedihan dan menampakkan kebaikan kepada orang lain.

Buya Yahya menekankan bahwa semua manusia pasti punya kesedihan. Setiap orang pernah mengalami musibah, kehilangan, atau cobaan. Namun kesedihan tidak boleh menjadi sifat tetap yang membentuk kepribadian seseorang.

Kesedihan yang dipelihara justru akan merusak kecerdasan, menurunkan semangat, dan membuat seseorang tenggelam dalam prasangka buruk. Hal ini berbahaya tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi lingkungan sekitarnya.

Nabi Muhammad SAW tidak menjadikan duka sebagai ciri khas pribadinya. Ia menyadari bahwa kesedihan adalah bagian dari perjalanan hidup, tapi harus dikelola agar tidak menjadi hambatan dalam menjalani tugas kenabian.

Islam Mengajarkan Keceriaan

Buya Yahya mengingatkan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang ceria. Wajah yang penuh senyum bisa menyebarkan energi positif dan menyemangati orang lain. Bahkan dalam hadis, Nabi menyebut bahwa senyum kepada saudara adalah bentuk sedekah.

Kehidupan yang dipenuhi senyum akan menghadirkan hubungan sosial yang harmonis. Seseorang yang ceria cenderung lebih mudah diterima, dipercaya, dan dicintai. Ia membawa pengaruh baik kepada keluarga, sahabat, dan masyarakat.

Islam bukan agama yang mengajarkan kesuraman. Justru, nilai-nilai kegembiraan sangat ditekankan agar umat Islam menjadi pribadi yang kuat dan tahan banting. Dalam menghadapi ujian hidup, senyum adalah perisai yang ampuh.

Buya Yahya juga mencontohkan bahwa Nabi tidak pernah membiarkan duka menguasai hari-harinya. Ia tetap menyebarkan salam, menebar senyum, dan menghadirkan kedamaian di tengah masyarakat yang penuh konflik.

Karena itu, siapa pun yang merasa sedang diuji, hendaknya tetap menjaga wajah ceria. Bukan karena pura-pura, tapi sebagai bentuk keikhlasan dan keyakinan bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya.

Hidup yang ceria bukan berarti tanpa luka. Justru dari luka-luka itu seseorang belajar untuk menjadi lebih kuat. Meneladani Nabi berarti menjadikan semangat dan keceriaan sebagai modal utama dalam berjuang di jalan Allah.

Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul