Bacaan Surat Al-Maun Lengkap Ayat 1-7, Ketahui Asbabun Nuzulnya

Surat Al Maun terdiri dari 7 ayat, berisi kecaman Allah SWT terhadap orang-orang yang mendustakan agama.

Diterbitkan 02 Juli 2025, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Surat Al-Maun adalah surat ke-107 dalam Al-Qur’an yang terdiri dari 7 ayat pendek namun memiliki kandungan makna sosial dan spiritual yang sangat mendalam. Surat ini diturunkan di Makkah dan termasuk dalam golongan surat Makkiyah. Melalui ayat-ayatnya, Allah SWT menegur keras orang-orang yang mengabaikan hak anak yatim, enggan memberi makan orang miskin, serta melakukan ibadah secara lalai dan riya. Membaca surat Al-Maun bukan hanya sebagai bagian dari hafalan, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya keselarasan antara ibadah dan kepedulian sosial

Dikutip dari buku Tafsir Al-Azhar karya Prof. Dr. Hamka, dinyatakan bahwa surat Al-Maun turun sebagai kecaman terhadap orang-orang yang secara lahir tampak beragama, namun tidak memiliki kepedulian sosial dan suka mengabaikan kewajiban moral terhadap masyarakat kecil. Dari sini, kita memahami bahwa surat ini tidak hanya mengecam penolakan terhadap anak yatim, tetapi juga sikap egois dalam kehidupan sosial. Bahkan shalat pun tidak bernilai jika dilakukan tanpa keikhlasan atau masih dibarengi dengan sikap berpura-pura di hadapan manusia. 

Adapun asbabun nuzul surat Al-Maun dijelaskan dalam kitab Asbabun Nuzul karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi, bahwa surat ini diturunkan berkenaan dengan al-Ash bin Wa’il, seorang tokoh Quraisy yang sering menghardik anak yatim dan enggan memberi bantuan kepada fakir miskin. Hal ini memperkuat makna bahwa surat Al-Maun adalah teguran Allah terhadap perilaku tidak peduli terhadap sesama, meskipun pelakunya rajin beribadah secara formal. 

Berikut ini Liputan6.com ulas selengkapnya, Selasa (1/7/2025). 

Bacaan Surat Al-Maun Lengkap Ayat 1-7 

Surat Al-Maun termasuk surat pendek yang sering dibaca saat sholat berjamaah. Al-Maun sendiri artinya adalah barang yang berguna. Berikut Surat Al-Maun lengkap ayat 1-7 dalam Bahasa Arab, Latin, dan artinya: 

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ .١ 

Arab Latin: a ra`aitallażī yukażżibu bid-dīn 

Artinya: "Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?"

فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ .٢ 

Arab Latin: fa żālikallażī yadu''ul-yatīm 

Artinya: "Maka itulah orang yang menghardik anak yatim,"

وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ .٣ 

Arab Latin: wa lā yaḥuḍḍu 'alā ṭa'āmil-miskīn 

Artinya: "dan tidak mendorong memberi makan orang miskin."

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ .٤ 

Arab Latin: fa wailul lil-muṣallīn 

Artinya: "Maka celakalah orang yang salat,"

الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ .٥ 

Arab Latin: allażīna hum 'an ṣalātihim sāhụn 

Artinya: "(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya,"

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ .٦ 

Arab Latin: Alladziinahum yuroo'uun. 

Artinya: "yang berbuat riya,"

وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ .٧ 

Arab Latin: wa yamna'ụnal-mā'ụn 

Artinya: "dan enggan (memberikan) bantuan."

Tafsir Surat Al-Maun 

Dikutip dari laman Kementerian Agama RI, dalam surat ini Allah menghadapkan pertanyaan kepada Nabi Muhammad, "Apakah engkau mengetahui orang yang mendustakan agama dan yang dimaksud dengan orang yang mendustakan agama?" Pertanyaan ini dijawab pada ayat-ayat berikut. 

Allah lalu menjelaskan bahwa sebagian dari sifat-sifat orang yang mendustakan agama. Yaitu, orang-orang yang menolak dan membentak anak-anak yatim yang datang kepadanya untuk memohon belas-kasihnya demi kebutuhan hidupnya. Penolakannya itu sebagai penghinaan dan takabur terhadap anak-anak yatim itu. 

Sifat pendusta agama berikutnya adalah tidak mengajak orang lain untuk membantu dan memberi makan orang miskin. Bila tidak mau mengajak orang memberi makan dan membantu orang miskin berarti ia tidak melakukannya sama sekali. Berdasarkan keterangan di atas, bila seorang tidak sanggup membantu orang-orang miskin maka hendaklah ia menganjurkan orang lain agar melakukan usaha yang mulia itu. 

Kemudian, Allah mengungkapkan satu ancaman yaitu celakalah orang-orang yang mengerjakan salat dengan tubuh dan lidahnya, tidak sampai ke hatinya. Dia lalai dan tidak menyadari apa yang diucapkan lidahnya dan yang dikerjakan oleh anggota tubuhnya. Ia rukuk dan sujud dalam keadaan lalai, ia mengucapkan takbir tetapi tidak menyadari apa yang diucapkannya. 

Semua itu adalah hanya gerak biasa dan kata-kata hafalan semata-mata yang tidak mempengaruhi apa-apa, tidak ubahnya seperti robot. 

Perilaku tersebut ditujukan kepada orang-orang yang mendustakan agama, yaitu orang munafik. Ancaman itu tidak ditujukan kepada orang-orang muslim yang awam, tidak mengerti Bahasa Arab, dan tidak tahu tentang arti dari apa yang dibacanya. Jadi orang-orang awam yang tidak memahami makna dari apa yang dibacanya dalam salat tidak termasuk orang-orang yang lalai seperti yang disebut dalam ayat ini. 

Allah selanjutnya menambah penjelasan tentang sifat orang pendusta agama, yaitu mereka melakukan perbuatan-perbuatan lahir hanya semata karena ria, tidak terkesan pada jiwanya untuk meresapi rahasia dan hikmahnya. 

Allah menambahkan lagi dalam ayat ini sifat pendusta itu, yaitu mereka tidak mau memberikan barang-barang yang diperlukan oleh orang-orang yang membutuhkannya, sedang barang itu tak pantas ditahan, seperti periuk, kapuk, cangkul, dan lain-lain. 

Keadaan orang yang membesarkan agama berbeda dengan keadaan orang yang mendustakan agama, karena yang pertama tampak dalam tata hidupnya yang jujur, adil, kasih sayang, pemurah, dan lain-lain. Sedangkan sifat pendusta agama ialah ria, curang, aniaya, takabur, kikir, memandang rendah orang lain, tidak mementingkan yang lain kecuali dirinya sendiri, bangga dengan harta dan kedudukan, serta tidak mau mengeluarkan sebahagian dari hartanya, baik untuk keperluan perseorangan maupun untuk masyarakat. 

Asbabun Nuzul Surat Al-Maun 

Asbābun nuzūl atau asal usul Surat Al-Ma’un menjelaskan turunnya surat ke-107 dalam Al-Qur’an yang mengandung teguran keras dari Allah SWT terhadap orang-orang yang berpura-pura beriman, tidak peduli pada fakir miskin dan anak yatim, serta beribadah tanpa keikhlasan. Surat ini terdiri dari 7 ayat dan tergolong Makkiyah, diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. 

Melansir dari kitab Lubābun Nuzūl karya Imam As-Suyūṭi, disebutkan bahwa surat ini diturunkan berkaitan dengan seorang tokoh Quraisy bernama Al-‘Āṣ bin Wā’il, yang terkenal suka mengusir anak yatim dan tidak pernah memberi makan orang miskin. Dalam riwayat lain, ada juga yang menyebut bahwa ayat ini berkenaan dengan Abu Sufyan yang kala itu dikenal sangat pelit, bahkan memukul anak yatim jika mereka meminta makanan. Allah SWT lalu menurunkan surat ini sebagai bentuk teguran keras atas perilaku mereka yang mengaku mulia tetapi merendahkan kaum lemah. 

Dalam Tafsir al-Munīr karya Dr. Wahbah Az-Zuhaylī, dijelaskan bahwa surat ini turun sebagai bentuk kecaman terhadap mereka yang memisahkan antara ibadah kepada Allah dan kepedulian terhadap sesama manusia. Seakan mereka menganggap cukup dengan shalat, padahal kehidupan sosialnya rusak.  

QnA Seputar Surat Al-Maun 

1. Apa arti dari surat Al-Ma’un? 

Jawab: Kata Al-Ma’un berarti barang-barang kecil yang berguna, seperti peralatan rumah tangga atau bantuan ringan sehari-hari. Dalam konteks surat ini, Al-Ma’un merujuk pada bantuan sosial yang enggan diberikan oleh orang-orang munafik dan pelit kepada tetangga atau orang miskin. 

2. Surat Al-Ma’un termasuk golongan surat apa dan diturunkan di mana? 

Jawab: Surat Al-Ma’un termasuk surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Makkah sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. 

3. Siapa yang menjadi sebab turunnya surat Al-Ma’un? 

Jawab: Menurut beberapa riwayat, surat ini diturunkan berkaitan dengan al-‘Āṣ bin Wā’il atau Abu Sufyan, tokoh Quraisy yang dikenal suka menghardik anak yatim dan enggan memberi makanan kepada fakir miskin. 

4. Apa pelajaran utama dari surat Al-Ma’un? 

Jawab: Surat ini mengajarkan bahwa agama tidak hanya soal ibadah ritual, tapi juga tanggung jawab sosial. Keimanan yang sejati harus dibuktikan dengan kepedulian terhadap anak yatim, fakir miskin, dan tidak bersikap riya dalam ibadah. 

5. Apa hukum membaca surat Al-Ma’un dalam shalat? 

Jawab: Hukumnya sunnah membaca surat Al-Ma’un dalam shalat setelah Al-Fatihah, terutama dalam shalat-shalat sunnah atau fardhu karena isinya mengandung peringatan penting yang menyentuh kehidupan sosial.