Sukses

Cerita Komunitas Muslim Tionghoa Rayakan Imlek, Bagaimana Hukumnya?

Liputan6.com, Jakarta - Komunitas Tionghoa merayakan tahun baru Imlek 2754 pada 22 Januari 2023, termasuk di Indonesia. Meski kerap dihubungkan dengan agama Khonghucu, namun bagi sebagian komunitas Tionghoa, dalam sejarahnya Imlek bukanlah perayaan keagamaan.

Imlek dianggap sebagai perayaan tahun baru China tradisional. Batasannya nilainya bukan agama, melainkan tradisi sebuah bangsa. Karena itu, meski tak beragama Khonghucu banyak pula yang merayakan Imlek.

Salah satu komunitas non-Khonghucu yang merayakan Imlek adalah muslim Tionghoa atau Tionghoa muslim. Mereka juga turut merayakan Imlek, meski ada beberapa prosesi yang diubah.

Misalnya di Tangerang, yang sudah terpotret sejak 2010 silam. Mengutip laman NU, Imlek dimaknai oleh Muslim keturunan Tionghoa di Tangerang sebagai ajang mempererat tali silaturrahim.

Mereka merayakannya bukan dengan cara datang ke kelenteng maupun membakar dupa di tempat-tempat sakral.

"Cara merayakan Imlek kan tidak selalu dengan pergi ke kelenteng. Bagi yang Muslim tentunya itu sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Biasanya setiap Imlek ada kerabat yang datang, jadi bisa sebagai ajang menjaga silaturrahim juga," kata Ketua Umum Solidaritas Masyarakat Islam Tangerang (SMIT) H Eddy Sulaeman di kediamannya, Karawaci Basin, dikutip dari nu.or.id.

Menurut pria yang memeluk Islam di tahun 1976 itu, perayaan tahun baru China sudah menjadi tradisi bagi masyarakat keturunan Tionghoa. Selain itu Imlek biasanya identik dengan anak-anak yang meminta angpau kepada orang yang lebih tua.

Walaupun cara merayakan Imleknya berbeda namun bukan berarti tidak menghormati sesama masyarakat Tionghoa yang merayakan Imlek.

"Tetap saling menghormati," ujar lelaki berkacamata yang menunaikan ibadah haji tahun 1979 itu. Kediaman Eddy Sulaeman sendiri juga sepi dari ornamen berbau Imlek.

 

Saksikan Video Pilihan Ini:

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Hukum Muslim Turut Merayakan Imlek

Presiden keempat RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengatakan, tradisi Tahun Baru Imlek yang merupakan salah satu hari raya Tionghoa tradisional, tidak haram dirayakan oleh warga keturunan China yang beragama Islam.

Menurut Gus Dur, pada dasarnya, peringatan hari itu adalah sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani di Cina yang biasanya jatuh pada tanggal satu di bulan pertama di awal tahun baru.

"Imlek itu bukan perayaan hari raya, itu perayaan tani," ujar Gus Dur .

Budaya Cina sendiri, kata mantan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu banyak memengaruhi budaya Betawi. "Budaya Betawi itu campur aduk antara Arab, Melayu, dan Tionghoa," jelasnya.

Ia juga menyambut baik tumbuh dan berkembangnya kebudayaan China di Indonesia sejak diizinkannya perayaan Imlek secara luas pada masa pemerintahannya. "Mari kita bawa Republik Indonesia ini kepada pluralitas," pungkasnya.

Gus Dur juga mengaku keturunan Tionghoa. Ia malah dengan bangga, mengakui dirinya sebagai seorang China tulen. "Saya ini Cina tulen, sebenarnya. Tapi, ya sudah nyampurlah dengan Arab dan India. Nenek moyang saya orang Tionghoa asli," ungkapnya.

Ia menjelaskan dirinya adalah turunan Putri Campa yang menjadi selir Raja Majapahit Brawijaya V. "Putri Campa itu lahir di Tionghoa, lalu dibawa ke Indonesia," jelasnya.

Dari perkawinannya dengan Brawijaya V, Putri Campa ini mempunyai 2 orang putra. Yang pertama adalah Tan Eng Hian yang mendirikan kerajaan Demak dan akhirnya berganti nama jadi Raden Patah.

"Dari sana keturunannya," ujarnya. Sedangkan putra Putri Campa yang satunya lagi diceritakan Gus Dur bernama Tan A Hok yang akhirnya menjadi seorang Jenderal.

Tim Rembulan

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS