Sukses

Prabowo: Koalisi Gemuk, Kekuatan Besar Tegakkan Kebenaran

Liputan6.com, Jakarta - Capres Prabowo Subianto menegaskan alasan berkoalisi dengan 6 partai pendukung yakni PAN, Golkar, PKS, PPP, dan PBB. Alasanya, karena hendak menyusun kekuatan besar untuk menegakkan kebenaran bagi rakyat Indonesia.

"Kami bersatu dengan kekuatan yang besar karena ingin menegakkan kebenaran, keadilan bukan hanya untuk orang kaya tapi untuk seluruh rakyat Indonesia," kata Prabowo saat kampanye terbuka di Lapangan Tanjung Sari, Natar, Lampung Selatan, Kamis (12/6/2014).

Prabowo menduga ada Kekuatan-kekuatan besar yang hendak mengambil alih kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia. Agar rakyat Indonesia tetap miskin.

"Mereka mau ambil dan bubarkan rakyat Indonesia. Ada banyak kekuatan yang takut dengan kekuatan kami. Takut Indonesia jadi kaya, takut Indonesia punya kapal sendiri, takut Indonesia buat pesawat sendiri, buat kereta api sendiri, buat mobil sendiri," tegas Prabowo.

Tak hanya itu, pria yang kerap berbusana safari putih egaliter itu pun melihat, ada kekuatan yang ingin memberikan upah murah bagi para karyawan. Mereka menganggap bangsa kita bisa gampang diatur.

"Ah, pemimpin Indonesia gampang bisa disogok. Ingin beli pemimpin dan katakan rakyat Indonesia gampang dibohongi," ujar Prabowo.

Karena itu mantan Danjen Kopassus itu mengajak rakyat Indonesia berjuang agar menjadi tuan di rumahnya sendiri.

"Perjuangan kami adalah agar anak-anak petani bisa jadi profesor, anak tukang bakso anakmu bisa jadi dokter. Jadi kita wong cilik jangan miskin lagi," tandas dia.

Namun di sela-sela pidato politik itu, Prabowo merasa heran lantaran bendera Partai Gerindra tak terlihat banyak dibanding partai koalisi dan ormas di situ.

"Rakyat di sini di bawah bendera masing-masing ormas, FKPPI, HKTI. PKS kok benderanya paling banyak. Ini mana bendera Gerindra?" kelakar Prabowo sembari memangil Sekjend Gerindra Ahmad Muzani.

"Meski, bendera kurang tapi topi Gerindra banyak. Ketua Gerindra mana ini‎. Tidak banyak, tapi besar,"‎ sambung mantan Pangkostrad itu, bergurau.