Hari Kopi Internasional: Tren Kopi RI dan Daya Saing di Pasar Global

Perayaan Hari Kopi Internasional: Tren Kopi RI hingga peluang di pasar global bisa disimak di artikel ini.

Diterbitkan 30 September 2026, 13:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hari Kopi Internasional, yang diperingati setiap tanggal 1 Oktober, menjadi momentum penting untuk menyoroti dinamika industri kopi di Indonesia. Perayaan global ini tidak hanya merayakan kenikmatan minuman kopi, tetapi juga bertepatan dengan pertumbuhan pesat sektor ini di Tanah Air, dari peningkatan konsumsi domestik hingga inovasi menu yang kreatif.

Organisasi Kopi Internasional (ICO) secara resmi menetapkan tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kopi Internasional pada tahun 2015 di Milan, Italia, dalam ajang World Expo. Tujuan utama penetapan ini adalah menyatukan negara-negara penghasil dan penikmat kopi di seluruh dunia, sekaligus mengampanyekan perdagangan yang adil serta kesejahteraan para petani kopi. Meskipun beberapa negara memiliki hari kopi nasional masing-masing, ICO memilih tanggal tersebut untuk perayaan global bersama.

Sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia, Indonesia kini juga menunjukkan peningkatan signifikan dalam konsumsi kopi di dalam negeri. Fenomena ini didorong oleh perubahan pola konsumsi masyarakat, terutama di kalangan generasi muda yang semakin menggemari budaya “ngopi”.

Kontribusi Kopi bagi Dunia

Kopi punya peran yang jauh lebih besar dari sekadar minuman harian. Melansir laman Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), sektor ini menopang penghidupan sekitar 25 juta petani di dunia dan membuka lapangan kerja di sepanjang rantai nilainya, dengan pendapatan industri global melampaui 200 miliar dolar AS per tahun. Pada 2024, produksi kopi dunia menembus 11 juta ton, dengan sekitar 8 juta ton biji kopi diperdagangkan lintas negara. Bagi banyak negara berpendapatan rendah, ekspor kopi menjadi sumber devisa penting. Di Ethiopia, misalnya, kopi menyumbang 27,9 persen dari total ekspor barang pada 2024.

Pengakuan atas peran itu kini makin kuat. Majelis Umum PBB menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kopi Internasional lewat sebuah resolusi yang menyoroti nilai budaya, sosial, dan sejarah kopi. Resolusi tersebut juga menekankan sumbangan produksi dan pengolahan kopi terhadap sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu pengentasan kelaparan, pengurangan kemiskinan ekstrem, pemberdayaan perempuan, serta pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.

Dalam hal ini, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) berperan aktif. Lembaga ini membantu petani kopi beradaptasi dengan perubahan iklim, misalnya lewat pengendalian hama, agroforestri, dan pengembangan varietas kopi yang tahan iklim. FAO juga mendampingi produsen agar siap menghadapi tuntutan pasar akan ketertelusuran dan standar keberlanjutan, serta membantu membuka akses pendanaan bagi petani. Melalui peringatan Hari Kopi Internasional, FAO berharap tercipta wadah kolaborasi untuk membangun sektor kopi yang efisien, inklusif, dan berkelanjutan.

 

Tren Kopi RI

Data Kementerian Pertanian untuk periode 2022–2025, sebagaimana dikutip dari Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Industri dan Penyegar, menempatkan Indonesia sebagai produsen kopi terbesar keempat di dunia. Posisi Indonesia berada di bawah Brasil, Vietnam, dan Kolombia, dengan produksi sekitar 789.000 ton per tahun.

Kekuatan kopi Indonesia ada pada keragaman rasanya, yang mencerminkan kondisi geografis dan tradisi lokal tiap daerah:

  • Aceh Gayo: aroma gula merah, cokelat pekat, dan sentuhan jeruk.

  • Mandailing: karamel manis dengan nuansa rempah.

  • Java Preanger: rasa jeruk yang segar.

  • Temanggung: cita rasa tanah dengan karamel.

  • Kintamani (Bali): perpaduan cokelat, kacang, dan lemon.

  • Toraja: gula merah, cokelat susu, dengan tekstur lembut.

  • Wamena (Papua): manis alami dengan tingkat keasaman rendah.

Keberagaman ini menjadi modal utama kopi Indonesia untuk bersaing di pasar dunia dan memperkuat posisinya sebagai salah satu produsen terkemuka. Sementara konsumsi kopi di Indonesia bersifat multigenerasi, dengan Gen Z dan Milenial berperan sebagai kelompok trendsetter.

Mereka mencari pengalaman gaya hidup dan sosial, memanfaatkan kopi untuk produktivitas, serta menjadikan aktivitas work from cafe semakin umum. Sebuah studi Statista pada tahun 2024 melansir Sigma Research menunjukkan bahwa 63% konsumen kopi Indonesia berusia 18–34 tahun di Asia Tenggara mengunjungi kedai kopi setidaknya sekali seminggu.

Sementara itu, Gen X melihat kopi sebagai kebiasaan harian yang konsisten, dan Boomers mengonsumsinya sebagai rutinitas untuk menopang stamina. Konsumen yang semakin sadar akan kualitas produk juga menuntut cita rasa unik, mendorong kedai kopi untuk menawarkan pengalaman premium dan berbeda.

Daya Saing Kopi Indonesia di Pasar Global

Makin banyak konsumen dunia yang peduli pada mutu produk dan dampaknya terhadap lingkungan, dan hal ini membuat kopi spesialti serta organik kian dicari. Pembeli di Eropa dan Amerika Utara, misalnya, cenderung memilih kopi yang membawa sertifikasi fair trade atau organik sebagai jaminan bahwa proses produksinya adil dan tidak merusak alam. Kopi spesialti juga punya pasar tersendiri, yakni penikmat yang ingin merasakan sesuatu yang lebih personal dari biji terpilih dengan karakter rasa yang khas. Bagi Indonesia, pergeseran selera ini membuka ruang untuk bersaing sekaligus mendorong penerapan pertanian berkelanjutan yang bermanfaat bagi petani di daerah.

Sebagaimana dikutip dari Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Industri dan Penyegar, dari segi komposisi, robusta mendominasi hasil kebun kopi tanah air dengan porsi 80-90 persen. Meski begitu, jenis spesialti seperti luwak dan Mandailing tetap punya harga jual yang tinggi. Di luar itu, kopi termasuk andalan ekspor Indonesia dan menempati posisi keempat sebagai penyumbang devisa, setelah kelapa sawit, karet, dan kakao.

Di mata pasar internasional, Gayo, Toraja, dan Bali semakin dikenal karena rasanya membawa jejak budaya dan alam tempat kopi itu tumbuh. Modal lain yang tak kalah penting adalah kisah di balik tiap biji, mulai dari kebun di dataran tinggi hingga kebiasaan yang dijaga turun-temurun. Kisah semacam ini sangat berguna untuk membangun merek, sehingga kopi Indonesia bernilai lebih dari sekadar barang dagangan.

Bila dikemas dan dipromosikan dengan tepat, kopi lokal berpeluang menjadi lambang budaya yang menguatkan wajah Indonesia di panggung dunia. Wisata kopi pun menawarkan peluang baru. Bali, Toraja, dan Flores sama-sama menyimpan potensi untuk itu, karena wisatawan bisa berkeliling kebun, melihat cara kopi diolah, dan mencicipinya di tempat asalnya. Selain memperkenalkan kopi Indonesia ke dunia, wisata ini turut menggerakkan perekonomian setempat dan memperkuat nilai budaya Nusantara.

 

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Hari Kopi Internasional

1. Kapan Hari Kopi Internasional diperingati?

Hari Kopi Internasional diperingati setiap tanggal 1 Oktober.

2. Siapa yang menetapkan Hari Kopi Internasional?

Peringatan ini dimulai oleh International Coffee Organization (ICO) pada 2014. Pada 2026, Majelis Umum PBB juga secara resmi menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kopi Internasional.

3. Apa saja daya tarik utama tren kopi RI di pasar global?

Keragaman cita rasa dari berbagai daerah seperti Gayo, Toraja, dan Kintamani, serta meningkatnya permintaan dunia akan kopi spesialti dan organik bersertifikasi.

 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6