12 Cara Fermentasi Air Cucian Beras untuk Pupuk Tanaman agar Subur, Cek Takaran yang Tepat

Panduan praktis cara fermentasi air cucian beras untuk pupuk tanaman dengan gula dan EM4. Hemat biaya, ramah lingkungan, dan mudah dipahami.

Diterbitkan 28 September 2026, 09:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Air cucian beras yang biasanya terbuang ternyata bisa menjadi pupuk cair murah untuk tanaman di rumah. Banyak orang masih bingung menentukan cara fermentasi air cucian beras untuk pupuk tanaman yang benar. Akibatnya, hasilnya sering berbau busuk atau justru membuat tanaman layu.

Melansir dari laman Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Brebes, pupuk organik cair dari air cucian beras baru boleh dipakai setelah difermentasi sekitar tujuh hari.

Padahal, prosesnya sederhana dan bahannya mudah ditemukan di dapur. Cukup siapkan wadah tertutup, gula, dan sedikit kesabaran. Berikut adalah cara fermentasi air cucian beras untuk pupuk tanaman dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Senin (28/9/2026).

 

1. Kenali Dulu Manfaat Air Cucian Beras

Air cucian beras mengandung sisa pati, sedikit protein, vitamin, dan unsur hara yang terlepas dari permukaan butir beras. Kandungan ini menjadi makanan bagi mikroorganisme tanah sehingga tanah menjadi lebih hidup.

Namun, perlu dipahami bahwa kandungan hara air cucian beras tergolong ringan. Ia lebih tepat disebut pupuk tambahan, bukan pengganti pupuk utama untuk tanaman yang butuh nutrisi tinggi.

Sebuah penelitian berjudul Analisis NPK Pupuk Organik Cair dari Berbagai Jenis Air Cucian Beras dengan Metode Fermentasi yang Berbeda yang dimuat di Jurnal Agrotech (2021) membandingkan kandungan nitrogen, fosfor, dan kalium dari beberapa jenis beras, termasuk beras putih dan ketan. Hasil ini menunjukkan bahwa jenis beras dan cara fermentasi sama-sama memengaruhi mutu pupuk.

2. Pilih Air Cucian Beras yang Tepat

Gunakan air bilasan pertama dan kedua, karena biasanya lebih pekat. Air bilasan ketiga dan seterusnya sudah terlalu encer.

Pastikan beras yang dicuci tidak mengandung bahan tambahan seperti pewangi atau pemutih. Hindari pula air cucian yang sudah tercampur sabun atau sisa minyak.

Kumpulkan air cucian dalam ember bersih. Jika dikumpulkan bertahap, simpan di wadah tertutup dan gunakan dalam satu hari agar tidak cepat berbau.

3. Siapkan Alat dan Bahan

Bahan yang dibutuhkan cukup sederhana. Berikut daftar dan fungsinya.

Bahan Fungsi
Air cucian beras Bahan utama sumber pati dan hara
Gula merah atau gula pasir Makanan awal bagi mikroorganisme
EM4 pertanian (opsional) Pemercepat fermentasi
Botol bekas atau toples Wadah fermentasi
Saringan Memisahkan endapan saat dipakai

Wadah sebaiknya terbuat dari plastik atau kaca dan dapat ditutup rapat. Hindari wadah logam karena dapat bereaksi dengan cairan fermentasi.

4. Campur Bahan dengan Takaran yang Pas

Melansir dari laman Emindonesia yang mengulas kegiatan mahasiswa Teknik Kimia Universitas Diponegoro di Boyolali, takaran yang dipakai adalah satu tutup botol EM4 pertanian dan satu sendok makan gula pasir untuk setiap satu liter air cucian beras. Campuran dimasukkan ke wadah tertutup lalu disimpan di tempat gelap.

Bagi yang tidak memiliki EM4, fermentasi tetap bisa berjalan dengan tambahan gula merah. Sebuah kegiatan pengabdian masyarakat yang tercatat di ResearchGate berjudul Pembuatan Pupuk Cair dari Air Cucian Beras dan Sisa Sampah Dapur menggunakan air cucian beras, gula merah, dan sisa dapur, lalu memfermentasinya selama 7 sampai 10 hari. Hanya saja, tanpa EM4 hasilnya biasanya kurang stabil.

Larutkan gula terlebih dahulu dengan sedikit air hangat agar mudah tercampur. Setelah dingin, baru tuangkan ke air cucian beras.

5. Isi Wadah Secukupnya dan Tutup Rapat

Jangan mengisi wadah sampai penuh. Sisakan sekitar seperempat ruang kosong di bagian atas untuk gas hasil fermentasi.

Tutup wadah dengan rapat. Fermentasi jenis ini berlangsung tanpa banyak udara, sehingga tutup yang longgar dapat mengundang lalat dan membuat cairan berbau tidak sedap.

6. Simpan di Tempat Teduh dan Gelap

Letakkan wadah di tempat teduh yang tidak terkena hujan dan sinar matahari langsung. Ruang belakang, gudang, atau bawah rak dapur bisa menjadi pilihan.

Suhu ruang yang stabil membantu mikroorganisme bekerja dengan baik. Hindari menaruh wadah di dekat kompor atau tempat yang sangat panas.

7. Buka Tutup Sesaat untuk Melepas Gas

Selama fermentasi, bakteri menghasilkan gas. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang sama, tutup wadah dibuka sesaat untuk mengurangi risiko wadah bocor atau menggembung akibat tekanan gas.

Lakukan sekali setiap satu atau dua hari. Setelah gas keluar, tutup kembali dengan rapat.

8. Tunggu 7 Sampai 14 Hari

Lama fermentasi yang tercatat di berbagai sumber berkisar antara 7 dan 14 hari. Kegiatan pemberdayaan Kelompok Wanita Tani di RW 10 Kelurahan Mulyasari yang dimuat di Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa (2025) menerapkan fermentasi 7 sampai 14 hari. Peserta menilai keberhasilan dari perubahan warna, aroma, dan pembentukan buih.

Waktu fermentasi juga memengaruhi kandungan hara. Dalam penelitian Roja Andesta yang dimuat di Chemical Engineering Journal Storage Volume 3 Nomor 4 (Agustus 2023), kandungan kalium pupuk cair dari air cucian beras dan kulit pisang dipengaruhi oleh lamanya fermentasi. Artinya, menunggu sedikit lebih lama bisa membuat mutu pupuk lebih baik.

9. Kenali Tanda Fermentasi Berhasil dan Gagal

Fermentasi yang berhasil ditandai beberapa hal berikut.

Tanda Berhasil Gagal
Aroma Asam segar seperti tape Busuk menyengat seperti telur
Warna Kuning keruh atau kecokelatan Hitam pekat atau berlendir
Permukaan Ada sedikit buih Ada jamur berbulu atau belatung

Jika gagal, jangan disiramkan ke tanaman. Buang ke tanah kosong atau lubang kompos, lalu ulangi dengan wadah yang lebih bersih.

10. Encerkan Sebelum Digunakan

Pupuk hasil fermentasi tidak boleh dipakai langsung. Melansir dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Brebes, untuk pupuk akar ambil 10 sampai 20 mililiter pupuk cair lalu larutkan dalam 5 liter air. Siramkan sekitar 250 mililiter ke sekitar akar tiap tanaman, dan lakukan seminggu sekali.

Sumber yang sama menyebut pupuk juga dapat disemprotkan ke daun, terutama bagian bawah, cukup sampai basah. Penyemprotan dilakukan dua kali seminggu.

Saring cairan sebelum dipakai agar penyemprot tidak tersumbat. Pakai pada pagi atau sore hari saat matahari tidak terlalu terik.

 

11. Cocokkan dengan Jenis Tanaman

Pupuk ini umumnya cocok untuk tanaman sayur daun seperti kangkung, sawi, dan bayam. Tanaman hias berdaun, cabai, dan tomat dalam pot juga bisa mendapat manfaat sebagai pupuk tambahan.

Untuk tanaman berbunga dan berbuah, tetap padukan dengan pupuk yang lebih kaya fosfor dan kalium. Air cucian beras sendiri lebih dominan menyuplai nitrogen dan makanan bagi mikroba tanah.

12. Hindari Kesalahan yang Sering Terjadi

  • Memakai pupuk tanpa diencerkan sehingga akar bisa terbakar.
  • Menyimpan terlalu lama hingga berbau busuk.
  • Menyiram terlalu sering sampai media tanam tergenang.
  • Menggunakan wadah terbuka yang mengundang serangga.
  • Mengharapkan hasil instan padahal pupuk organik bekerja bertahap.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cara Fermentasi Air Cucian Beras untuk Pupuk Tanaman

1. Apakah air cucian beras harus difermentasi sebelum dipakai?

Tidak wajib, tetapi fermentasi membuat nutrisi lebih mudah diserap akar. Air cucian beras segar yang disiramkan langsung juga tidak berbahaya, asalkan tidak dibiarkan menggenang.

2. Berapa lama fermentasi air cucian beras yang ideal?

Umumnya 7 sampai 14 hari, hingga tercium aroma asam segar seperti tape dan tidak berbau busuk.

3. Apakah pupuk ini bisa menggantikan pupuk kimia sepenuhnya?

Belum tentu. Kandungan haranya tergolong ringan sehingga lebih cocok sebagai pupuk tambahan, terutama untuk tanaman yang membutuhkan banyak nutrisi.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6