Liputan6.com, Jakarta Istilah copas sudah menjadi bagian dari keseharian pengguna internet di Indonesia. Bahasa gaul seperti copas kerap muncul di grup WhatsApp, kolom komentar media sosial, hingga percakapan santai antarteman.
Meski terdengar sederhana, copas artinya lebih dari sekadar menekan dua tombol di keyboard. Di balik aksi menyalin dan menempel ini, terdapat sejarah teknologi, isu etika digital, hingga potensi pelanggaran hukum yang perlu dipahami.
Dilansir dari TinyMCE, copy and paste diciptakan oleh Larry Tesler bersama koleganya Tim Mott saat mereka bekerja di Xerox PARC pada era 1970-an untuk mengembangkan pengolah kata bernama Gypsy. Memahami copas artinya secara mendalam akan membantu siapa pun menjadi pengguna internet yang lebih bijak dan bertanggung jawab.
Advertisement
Pengertian Copas dan Asal-usul Istilahnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4982937/original/010650800_1730100026-cara-copy-paste-di-laptop.jpg)
Untuk menjawab pertanyaan mendasar tentang copas artinya apa, kita perlu memahami bahwa istilah ini merupakan singkatan dari dua kata bahasa Inggris, yaitu copy yang berarti menyalin dan paste yang berarti menempel. Secara harfiah, copas artinya adalah kegiatan menduplikasi suatu konten dari satu lokasi lalu menempelkannya di lokasi lain tanpa perlu mengetik ulang. Dalam konteks digital, tindakan ini bisa dilakukan pada teks, gambar, tautan, maupun berbagai format konten lainnya.
Sebagaimana dikutip dari Wikipedia, Lawrence Gordon Tesler (1945–2020) adalah ilmuwan komputer Amerika yang bekerja di bidang interaksi manusia-komputer di Xerox PARC, Apple, Amazon, dan Yahoo, dan bersama Tim Mott mengembangkan ide fungsionalitas cut, copy, dan paste. Perintah copy paste di laptop yang kita kenal sekarang melalui pintasan Ctrl+C dan Ctrl+V merupakan warisan dari inovasi tersebut.
Kemudian, Tesler dan Tim Mott mengimplementasikan copy and paste antara tahun 1973 dan 1976, namun fitur ini baru benar-benar populer melalui dua sistem operasi, yaitu Apple Lisa (1983) dan Macintosh (1984). Di Indonesia sendiri, istilah "copy paste" kemudian disingkat menjadi "copas" karena kebiasaan pengguna internet menyingkat kata agar lebih praktis dalam percakapan daring.
Beberapa periode berikutnya, perintah cut and paste dilaporkan terinspirasi dari cara penyuntingan zaman dulu yang melibatkan pemotongan bagian teks cetak secara fisik dan menempelkannya di tempat lain menggunakan perekat. Jadi, copas artinya bukan sekadar fenomena digital, melainkan digitalisasi dari praktik kerja kantor yang sudah ada sejak lama.
Advertisement
Arti Copy dalam Bahasa Gaul Indonesia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4645960/original/010299400_1699844580-pexels-vlada-karpovich-4050287.jpg)
Selain istilah copas, kata "copy" juga sering berdiri sendiri dalam percakapan bahasa gaul di WhatsApp dan media sosial lainnya. Menariknya, penggunaan kata ini memiliki beberapa makna berbeda tergantung konteksnya. Berikut beberapa arti copy dalam bahasa gaul yang perlu dipahami:
- Sudah paham atau mengerti. Serapan dari bahasa komunikasi radio dan militer yang berarti "pesan diterima." Contoh penggunaan: "Besok kumpul jam 8 ya." — "Copy!" Artinya: "Oke, sudah mengerti."
- Menyalin konten. Makna ini serupa dengan copas artinya secara umum, tetapi diucapkan lebih singkat. Contoh: "Jangan di-copy tulisanku tanpa izin ya."
- Meniru atau mengikuti gaya orang lain. Dalam konteks ini, "copy" bisa bermakna negatif karena menunjukkan seseorang menjiplak gaya atau karya orang lain tanpa orisinalitas.
- Menyetujui perintah atau instruksi. Sering digunakan dalam konteks profesional atau komunitas game online sebagai pengganti kata "siap" atau "oke."
- Mengafirmasi informasi. Digunakan untuk mengonfirmasi bahwa informasi sudah diterima dan dipahami dengan baik, misalnya: "Copy that, nanti aku kabari."
Bahasa gaul seperti ini memang terus berkembang seiring dinamika anak muda dalam mengekspresikan diri di era digital. Konteks percakapan menjadi kunci utama untuk memahami makna yang dimaksud.
Sejarah Teknologi Copy Paste yang Mengubah Dunia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4606463/original/068658200_1696995206-super-snapper-UFrd8csYr1w-unsplash.jpg)
Memahami copas artinya secara utuh tidak akan lengkap tanpa menelusuri sejarah teknologi di baliknya. Penemuan copy paste merupakan salah satu inovasi terpenting dalam dunia komputasi yang sering dianggap remeh.
Sebagaimana dilaporkan Hackaday, Xerox Alto merupakan komputer yang melampaui zamannya dan menawarkan editor teks grafis bernama Gypsy, sebuah pengolah kata tahun 1975 yang memungkinkan cut and paste sebagaimana kita kenal saat ini. Sebelum era grafis ini, pengguna komputer harus mengetik ulang setiap teks yang ingin dipindahkan, sebuah proses yang sangat memakan waktu.
Saat Tesler meninggal dunia pada Februari 2020, Xerox memberikan penghormatan melalui media sosial. Sebagaimana diungkapkan pihak Xerox, dikutip dari Newsweek, "Penemu cut/copy and paste, find and replace, dan lainnya adalah mantan peneliti Xerox, Larry Tesler. Hari kerjamu lebih mudah berkat ide-ide revolusionernya."
Computer History Museum di Silicon Valley, menyatakan, "Tesler menciptakan ide 'cut, copy, and paste' dan menggabungkan pelatihan ilmu komputer dengan visi kontrakultur bahwa komputer seharusnya untuk semua orang."
Larry Tesler juga dikenal sebagai pencetus beberapa istilah penting dalam industri teknologi. Berdasarkan data dari TinyMCE, Tesler dikreditkan telah menciptakan tiga istilah industri: WYSIWYG, user-friendly, dan browser. Kontribusinya terhadap dunia kemudahan menyalin teks di perangkat modern tidak dapat dipandang sebelah mata.
Advertisement
Copas dan Ancaman Plagiarisme di Era Digital
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4281985/original/080064000_1672886772-cropped-photo-serious-young-man-sitting-office-coworking__1_.jpg)
Sisi gelap dari kemudahan copas adalah plagiarisme, yakni tindakan mengambil karya orang lain dan mengakuinya sebagai milik sendiri tanpa memberikan atribusi yang layak. Kemudahan akses informasi di internet telah memperbesar godaan untuk melakukan copas secara tidak bertanggung jawab.
Mengutip riset yang dipublikasikan di jurnal Ethics and Behavior melalui Taylor and Francis Online, pada tahun 1999, McCabe menemukan bahwa 10% mahasiswa sarjana yang disurvei mengakui melakukan plagiarisme copy-paste, dan hasil studi tahun 2001 menunjukkan lebih dari 40% mahasiswa terlibat dalam plagiarisme jenis ini, yang sebagian besar tidak menganggapnya serius. Angka ini menunjukkan betapa maraknya tindakan copas tanpa etika di lingkungan akademik.
Merujuk publikasi di PubMed Central (PMC), hadirnya era digital telah secara signifikan mengubah lanskap plagiarisme, di mana kemudahan mengakses, menyalin, dan menyebarkan konten telah meningkat, sehingga memicu kenaikan kasus plagiarisme di berbagai bidang. Selain copy-paste langsung, era digital juga memunculkan bentuk-bentuk plagiarisme baru.
Sebagaimana disampaikan IEEE Computational Intelligence Society, akibat teknologi digital, yaitu kemudahan akses dan kemampuan copy and paste, plagiarisme menjadi masalah yang semakin besar bagi penerbit dan memerlukan penanganan yang hati-hati. Beberapa bentuk plagiarisme digital yang perlu diwaspadai meliputi:
- Plagiarisme langsung: menyalin teks kata per kata tanpa perubahan dan tanpa atribusi sumber.
- Plagiarisme mozaik (patchwriting): menggabungkan frasa dari berbagai sumber menjadi teks baru tanpa atribusi yang tepat.
- Plagiarisme parafrase: mengubah kata-kata tetapi mempertahankan struktur dan ide asli tanpa memberikan kredit.
- Self-plagiarism: menggunakan kembali karya sendiri yang sudah dipublikasikan tanpa pemberitahuan.
- Plagiarisme berbasis alat: menggunakan perangkat lunak untuk mengubah kata-kata (paraphrasing tools) tanpa memberikan penghargaan pada sumber asli.
Di Indonesia, plagiarisme merupakan pelanggaran serius yang dapat berujung pada sanksi akademik mulai dari pembatalan nilai hingga pencabutan gelar. Bahkan di luar dunia akademik, cara menghindari plagiarisme menjadi keterampilan penting yang wajib dikuasai setiap penulis.
Etika Digital: Kapan Copas Boleh dan Kapan Tidak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3348829/original/006967300_1610597904-pexels-photo-4065876.jpeg)
Tidak semua tindakan copas bersifat negatif. Memahami batasan etis menjadi kunci agar aktivitas menyalin konten tidak merugikan pihak lain maupun diri sendiri.
Seperti yang diberitakan EBSCO Research, menyalin dan menempel informasi kata per kata dari sebuah situs web adalah contoh plagiarisme, dan menggunakan ide orang lain tanpa mencantumkan sumbernya juga merupakan contoh plagiarisme, yang meski tidak melanggar hukum, namun melanggar kode etik dan mempertanyakan integritas pelakunya.
Berikut panduan kapan copas diperbolehkan dan kapan sebaiknya dihindari:
Copas yang diperbolehkan:
- Menyalin informasi untuk keperluan pribadi seperti catatan resep, kutipan motivasi, atau materi belajar.
- Menyalin konten setelah mendapat izin dari pemiliknya dan mencantumkan sumber asli.
- Menggunakan konten berlisensi terbuka seperti Creative Commons sesuai ketentuan lisensinya.
- Mengutip sebagian kecil konten untuk keperluan ulasan, komentar, atau riset dengan atribusi yang tepat.
- Menggunakan fitur "share" atau "repost" bawaan platform media sosial yang secara otomatis mencantumkan kredit pemilik konten.
Copas yang tidak diperbolehkan:
- Menyalin tulisan orang lain dan mengakuinya sebagai karya sendiri.
- Menyalin dan menjual karya orang lain tanpa izin dan lisensi.
- Menghapus watermark atau tanda kepemilikan dari konten yang dicopas.
- Menyebarkan konten yang dicopas tanpa konteks yang lengkap, yang berpotensi menyesatkan.
- Menggunakan karya berhak cipta untuk tujuan komersial tanpa persetujuan.
Permintaan "izin copas" yang sering ditemui di kolom komentar media sosial sebenarnya mencerminkan kesadaran etika digital yang baik. Meminta izin sebelum menyalin konten menunjukkan penghargaan terhadap kerja keras pemilik hak cipta dan membangun budaya digital yang lebih sehat.
Advertisement
Shortcut Copy Paste dan Tips Produktivitas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4456876/original/011234900_1686127188-pexels-cottonbro-studio-4065625_1_.jpg)
Setelah memahami copas artinya dan aspek etikanya, penting juga untuk menguasai teknik penggunaannya secara efisien. Berikut beberapa pintasan keyboard dan tips yang berguna untuk meningkatkan produktivitas sehari-hari:
- Ctrl+C (Windows) atau Command+C (Mac): menyalin teks atau objek yang dipilih ke clipboard.
- Ctrl+V (Windows) atau Command+V (Mac): menempel konten dari clipboard ke lokasi baru.
- Ctrl+X (Windows) atau Command+X (Mac): memotong teks atau objek, yaitu menyalin sekaligus menghapusnya dari lokasi asli.
- Ctrl+Shift+V: menempel teks tanpa format (plain text), sangat berguna saat menyalin dari web ke dokumen.
- Windows+V: membuka riwayat clipboard yang menyimpan hingga 25 item terakhir yang disalin, sebagaimana dijelaskan oleh Microsoft Support.
- Ctrl+A: memilih seluruh teks dalam dokumen sebelum menyalin.
Berdasarkan data dari Microsoft Support, saat kamu menyalin konten di PC, konten tersebut secara otomatis disalin ke clipboard untuk ditempel, dan kamu bisa menempel beberapa item dari riwayat clipboard serta menyematkan item yang sering digunakan. Fitur clipboard history ini sangat membantu bagi pengguna yang sering melakukan copy paste dalam pekerjaan sehari-hari.
Bagi pengguna yang membutuhkan fungsionalitas lebih, clipboard manager merupakan solusi ideal. Aplikasi ini memungkinkan penyimpanan ratusan item yang pernah disalin, pencarian cepat, dan bahkan sinkronisasi antarperangkat untuk memaksimalkan efisiensi kerja.
Pertanyaan Seputar Copas Artinya Apa
Apa perbedaan antara copas dan plagiarisme?
Copas merupakan tindakan teknis menyalin dan menempel konten, yang secara inheren bersifat netral. Tindakan ini menjadi plagiarisme ketika seseorang menggunakan hasil copas dari karya orang lain lalu mengakuinya sebagai karya sendiri tanpa mencantumkan sumber. Jadi, copas adalah alatnya, sedangkan plagiarisme adalah penyalahgunaannya.
Apakah izin copas di media sosial memiliki kekuatan hukum?
Permintaan "izin copas" di kolom komentar media sosial lebih bersifat etika sosial daripada perjanjian hukum formal. Meskipun demikian, meminta izin merupakan langkah baik yang menunjukkan penghormatan terhadap kreator konten. Untuk penggunaan komersial atau skala besar, sebaiknya buat perjanjian tertulis yang lebih resmi dengan pemilik konten asli.
Bagaimana cara menghindari plagiarisme saat mengutip informasi dari internet?
Beberapa cara efektif untuk menghindari plagiarisme antara lain menulis ulang informasi menggunakan kata-kata sendiri (parafrase), selalu mencantumkan sumber referensi, menggunakan tanda kutip untuk kutipan langsung, serta memanfaatkan alat cek plagiarisme online sebelum mempublikasikan tulisan. Mengembangkan kebiasaan menulis dengan gaya sendiri juga merupakan langkah pencegahan terbaik.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463779/original/049305200_1767670885-Screenshot_2026-01-06_103951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919749/original/034086800_1723781524-000_36EC7XK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2892802/original/045596000_1566805482-20190826-Jokowi-sebut-kaltim-jadi-ibu-kota-baru-ANGGA-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3864018/original/051307000_1737543005-WhatsApp_Image_2025-01-22_at_17.47.52.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578176/original/007882500_1782536487-v9DTsdwJOonM6vZabwQ52UWBpowozIWsAjm8ZMw2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812277/original/052062800_1684314288-Beach_life.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8525155/original/017274300_1782455154-AP26176798846634.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8668326/original/051794500_1782703035-AP26179791541483.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259121/original/085743200_1781464083-063_2281573951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540213/original/078998400_1774689981-AP26086742238879.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5241643/original/000306500_1749004088-AP25154539148672.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258799/original/021874200_1781411244-brasil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513256/original/026711200_1782437004-AP26176799194484.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8658507/original/009732800_1782681457-000_B8LH2L7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8512971/original/012018800_1782436430-000_B8CY2VE.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8623031/original/006534100_1782616032-063_2283182531.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8660431/original/044103500_1782685503-Canada_s_Stephen_Eustaquio.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8659951/original/005175900_1782684619-000_B8LH2KW.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261754/original/087741000_1750686285-young-lesbian-lgbtq-women-couple-using-mobile-phone-home.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578200/original/020072200_1782536502-jBqN7UIw1hcgIq9fa17peugTpgZETRmptSZs6zMc.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8401284/original/092151100_1782283202-HL_kandang_ayam.jpg)