Mengapa Imlek Identik dengan Warna Merah? Ini Makna Filosofis dan Sejarahnya

Imlek identik dengan warna merah yang melambangkan keberuntungan dan perlindungan. Simak makna, sejarah, dan filosofi merah dalam perayaan Imlek.

Diterbitkan 16 Februari 2026, 06:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tahun Baru Imlek selalu hadir dengan nuansa warna merah yang mendominasi hampir seluruh aspek perayaan. Mulai dari dekorasi rumah, lampion, amplop angpao, hingga pakaian, merah menjadi identitas yang tak terpisahkan. Fenomena ini kembali terlihat jelas pada perayaan Imlek 2026, ketika berbagai sudut kota dihiasi warna merah menyala. 

Jika ditelusuri lebih dalam, identitas merah pada Imlek lahir dari perpaduan legenda, kepercayaan, dan perjalanan sejarah masyarakat Tionghoa. Warna ini dipercaya membawa perlindungan, harapan, serta keberuntungan yang diwariskan lintas generasi. Tradisi tersebut terbentuk secara bertahap, dimulai dari kebutuhan bertahan hidup hingga akhirnya menjadi simbol budaya. 

Sejarah Imlek

Sebelum Dinasti Qin, penentuan awal tahun dalam kalender Tionghoa belum memiliki standar yang jelas. Setiap dinasti memiliki kebijakan sendiri mengenai kapan tahun baru dimulai, tergantung pada kebutuhan sosial dan agraris masyarakatnya. Pada masa Dinasti Xia, awal tahun kemungkinan dimulai pada bulan pertama, sedangkan Dinasti Shang menetapkannya pada bulan ke-12. Sementara itu, Dinasti Zhou justru memulai tahun baru pada bulan ke-11. Perbedaan ini menunjukkan bahwa perayaan tahun baru masih sangat fleksibel dan belum memiliki bentuk tradisi baku.

Ketidakseragaman ini perlahan berubah seiring berkembangnya sistem penanggalan. Bulan kabisat mulai digunakan untuk menyesuaikan kalender dengan peredaran matahari agar tidak melenceng dari musim tanam. Sejak Dinasti Shang dan Zhou, bulan kabisat selalu ditambahkan setelah bulan ke-12. Penyesuaian ini menjadi fondasi penting bagi masyarakat agraris agar siklus pertanian tetap selaras. Dari sinilah perayaan tahun baru mulai memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat Tionghoa.

Perubahan besar terjadi pada tahun 104 SM ketika Kaisar Wu dari Dinasti Han menetapkan bulan pertama sebagai awal tahun baru Tionghoa. Keputusan ini diambil agar perayaan tahun baru lebih sesuai dengan pola hidup masyarakat agraris. Dengan dimulainya tahun pada bulan pertama, masyarakat dapat menyelaraskan ritual, doa, dan harapan dengan musim tanam yang baru. Penetapan ini kemudian menjadi standar yang bertahan hingga sekarang.

Sejak saat itu, Tahun Baru Imlek dirayakan setiap tanggal 1 bulan pertama kalender Tionghoa. Perayaannya berlangsung hingga hari ke-15 yang dikenal sebagai Cap Go Meh, saat bulan purnama muncul. Rentang waktu ini menciptakan ruang bagi berbagai ritual dan simbol untuk berkembang. Dalam proses inilah warna, hiasan, dan makna-makna simbolik mulai menguat. Warna merah perlahan mendapatkan tempat istimewa dalam rangkaian perayaan tersebut.

Legenda Nian sebagai Awal Dominasi Warna Merah

Legenda tentang makhluk buas bernama Nian menjadi salah satu fondasi utama identitas warna merah dalam Imlek. Dikisahkan bahwa Nian turun dari gunung setiap akhir musim dingin untuk menyerang permukiman manusia. Ancaman ini membuat masyarakat hidup dalam ketakutan setiap menjelang pergantian tahun. Untuk bertahan hidup, nenek moyang masyarakat Tionghoa mencari cara mengusir makhluk tersebut.

Dari pengalaman itu, mereka menemukan bahwa Nian takut pada warna merah, cahaya terang, dan suara ledakan. Penemuan ini kemudian digunakan sebagai strategi pertahanan diri. Rumah-rumah dihias dengan warna merah, api dinyalakan, dan suara keras diciptakan untuk mengusir Nian. Apa yang awalnya bersifat protektif kemudian berubah menjadi tradisi yang diwariskan turun-temurun. Dari sinilah warna merah mulai diasosiasikan dengan keselamatan dan perlindungan.

Seiring waktu, ancaman Nian tidak lagi dipahami secara harfiah. Namun, simbol-simbol yang digunakan untuk mengusirnya tetap dipertahankan. Warna merah tidak lagi sekadar alat perlindungan, melainkan lambang keberanian dan harapan. Petasan dan lampion berubah fungsi dari senjata pengusir menjadi elemen perayaan yang meriah.

Transformasi ini menunjukkan bagaimana tradisi berkembang dari kebutuhan praktis menjadi identitas budaya. Masyarakat tidak menghapus simbol lama, tetapi memberi makna baru yang lebih positif. Warna merah kemudian dimaknai sebagai penolak kesialan dan pembawa keberuntungan. Inilah sebabnya tradisi ini mampu bertahan selama ribuan tahun. Setiap perayaan Imlek menjadi pengingat akan perjalanan sejarah tersebut.

Makna Warna Merah dalam Kehidupan Masyarakat Tionghoa

Dalam filosofi Tionghoa, warna merah melambangkan kebahagiaan, keberuntungan, dan energi positif. Warna ini dianggap mampu menarik rezeki serta mengusir pengaruh buruk. Oleh karena itu, merah tidak hanya digunakan saat Imlek, tetapi juga dalam pernikahan dan perayaan penting lainnya. Penggunaan warna merah mencerminkan harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Makna filosofis ini memperkuat posisi merah dalam Imlek. Setiap dekorasi merah bukan sekadar hiasan visual, melainkan doa simbolik. Angpao merah, misalnya, melambangkan harapan agar penerimanya mendapatkan keberuntungan. Lampion merah menjadi simbol terang di awal tahun baru. Semua elemen tersebut saling terhubung dalam satu makna besar.

Penggunaan Warna Merah dalam Tradisi atau Perayaan Imlek

Penggunaan warna merah dalam perayaan Imlek terlihat jelas pada hampir seluruh elemen tradisi yang dijalankan masyarakat Tionghoa. Warna ini hadir dalam bentuk lampion, hiasan pintu, kertas doa, hingga ornamen rumah yang dipasang menjelang tahun baru. Kehadiran warna merah diyakini berfungsi sebagai simbol perlindungan dari energi negatif yang mungkin datang di awal tahun. Secara turun-temurun, masyarakat mempercayai bahwa rumah yang dihiasi warna merah akan lebih aman dan membawa keberuntungan bagi penghuninya. Oleh karena itu, pemasangan dekorasi merah bukan dilakukan secara acak, melainkan menjadi bagian penting dari rangkaian ritual Imlek.

Selain dekorasi, warna merah juga digunakan dalam berbagai aktivitas simbolik selama perayaan Imlek berlangsung. Angpao merah menjadi media untuk berbagi rezeki sekaligus menyampaikan doa dan harapan baik kepada anggota keluarga yang lebih muda. Pakaian berwarna merah sering dipilih saat berkumpul bersama keluarga sebagai simbol sukacita dan awal yang baru. Dalam pertunjukan barongsai dan liong, warna merah mendominasi kostum untuk menegaskan makna keberanian dan kekuatan. Seluruh penggunaan ini menunjukkan bahwa warna merah tidak hanya memperindah perayaan, tetapi juga menjadi sarana penyampai nilai dan kepercayaan dalam tradisi Imlek.   

Warna Emas sebagai Pendukung Warna Merah

Selain merah, warna emas juga sering hadir dalam perayaan Imlek. Warna ini melambangkan kemakmuran, kekayaan, dan kejayaan. Emas biasanya digunakan sebagai aksen untuk memperkuat makna yang dibawa oleh warna merah. Kombinasi keduanya menciptakan kesan megah sekaligus penuh harapan.

Penggunaan warna emas tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berdampingan dengan merah. Hal ini menunjukkan hubungan sebab-akibat dalam simbolisme Imlek. Merah berfungsi sebagai pelindung dan pembawa keberuntungan, sementara emas melambangkan hasil dari keberuntungan tersebut. Kombinasi ini memperkaya visual sekaligus makna perayaan Imlek. Tradisi ini terus dipertahankan hingga kini.

Perjalanan Imlek di Indonesia hingga Menjadi Budaya Nusantara

Di Indonesia, perayaan Imlek memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan penuh dinamika. Pada masa Orde Baru, ekspresi budaya Tionghoa sempat dibatasi. Perayaan Imlek tidak bisa dilakukan secara terbuka seperti sekarang. Kondisi ini membuat banyak tradisi hanya dirayakan secara terbatas di lingkungan keluarga.

Perubahan terjadi ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres No. 14/1967. Kebijakan tersebut mengembalikan kebebasan berekspresi budaya bagi masyarakat Tionghoa. Langkah ini kemudian diperkuat oleh Presiden Megawati yang menetapkan Imlek sebagai Hari Libur Nasional. Hingga tahun 2026, Imlek telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Nusantara. Warna merah kini menghiasi ruang publik sebagai simbol keberagaman.

Pertanyaan seputar Imlek dan Warna Merah

Mengapa warna merah dianggap membawa keberuntungan saat Imlek

Karena warna merah dipercaya mampu menolak kesialan dan menarik energi positif berdasarkan legenda dan filosofi Tionghoa.

Apa hubungan petasan dengan perayaan Imlek

Petasan berasal dari tradisi mengusir Nian yang takut pada suara ledakan, lalu berkembang menjadi simbol kemeriahan.

Mengapa Imlek dirayakan selama 15 hari

Karena perayaan dimulai pada hari pertama tahun baru dan ditutup dengan Cap Go Meh saat bulan purnama.

Apakah warna emas wajib dalam perayaan Imlek

Tidak wajib, tetapi sering digunakan sebagai pendukung karena melambangkan kemakmuran dan kekayaan.

 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6