Tata Cara Sholat Idul Fitri dan Bacaannya: Niat hingga Khutbah

Rayakan Idul Fitri dengan sempurna! Pahami panduan lengkap tata cara sholat Idul Fitri dan bacaannya, mulai dari niat, takbir, hingga khutbah, agar ibadah Anda lebih khusyuk.

Diperbarui 12 Agustus 2025, 14:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Idul Fitri adalah momen kemenangan yang dinanti umat Muslim setelah sebulan berpuasa Ramadhan. Pada hari yang fitri ini, salah satu ibadah utama yang dilaksanakan adalah sholat Idul Fitri. Memahami tata cara sholat Idul Fitri dan bacaannya menjadi kunci untuk melaksanakannya dengan khusyuk dan benar.

Berikut ini telah Liputan6.com rangkum secara tuntas setiap detail mengenai tata cara sholat Idul Fitri dan bacaannya, mulai dari niat yang tepat, jumlah takbir, hingga bacaan-bacaan sunnah di dalamnya. Panduan ini dirancang agar Anda dapat mempersiapkan diri dengan baik menyambut hari kemenangan.

Dengan mengikuti pedoman tata cara sholat Idul Fitri dan bacaannya yang akurat, diharapkan ibadah Anda di hari raya ini menjadi lebih bermakna dan diterima oleh Allah SWT. Mari kita selami lebih dalam panduan lengkap ini untuk memastikan setiap langkah ibadah Anda sesuai syariat.

Hukum Sholat Idul Fitri

Sholat Idul Fitri memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam, dengan hukum sunnah muakkadah. Ini berarti ibadah tersebut sangat dianjurkan untuk dilaksanakan oleh seluruh umat Muslim. Sejak disyariatkan pada tahun kedua Hijriah, Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkannya hingga wafat, dan tradisi ini terus dilanjutkan oleh para sahabat beliau.

Ibadah sholat Idul Fitri terdiri dari dua rakaat, yang umumnya dilaksanakan secara berjamaah di masjid atau lapangan. Namun, bagi umat Muslim yang berhalangan atau tidak dapat hadir dalam sholat berjamaah, sholat Idul Fitri juga dapat dilaksanakan secara mandiri atau munfarid di rumah. Fleksibilitas ini memastikan setiap Muslim memiliki kesempatan untuk menunaikan ibadah penting ini.

Niat Sholat Idul Fitri

Niat merupakan elemen krusial dalam setiap ibadah, termasuk sholat Idul Fitri. Meskipun pelafalan niat secara lisan hukumnya sunnah, namun adanya maksud yang sadar dan sengaja dalam hati untuk menunaikan sholat sunnah Idul Fitri adalah wajib. Kehadiran niat yang benar memastikan ibadah yang dilakukan sah di mata syariat.

Berikut adalah lafal niat yang dapat digunakan, disesuaikan dengan posisi Anda saat sholat, baik sebagai imam, makmum, maupun sholat sendiri (munfarid). Memahami perbedaan lafal niat ini penting agar sholat yang dilaksanakan sesuai dengan tuntunan.

Niat Sholat Idul Fitri untuk Imam

  • Arab: اُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ الفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا للهِ تَعَالَى

  • Latin: Ushalli sunnatan li Idil Fitri rak'atayni mustaqbilal qiblati adā'an imāman lillāhi ta'ālā

  • Artinya: "Aku menyengaja sembahyang sunnah Idul Fitri dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai imam karena Allah SWT."

Niat Sholat Idul Fitri untuk Makmum

  • Arab: اُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ الفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى

  • Latin: Ushalli sunnatan li Idil Fitri rak'atayni mustaqbilal qiblati adā'an ma'mūman lillāhi ta'ālā

  • Artinya: "Aku menyengaja sembahyang sunnah Idul Fitri dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai makmum karena Allah SWT."

Niat Sholat Idul Fitri Sendiri (Munfarid)

  • Arab: اُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ الفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً للهِ تَعَالَى

  • Latin: Ushalli sunnatan li Idil Fitri rak'atayni mustaqbilal qiblati adā'an lillāhi ta'ālā

  • Artinya: "Aku menyengaja sembahyang sunnah Idul Fitri dua rakaat dengan menghadap kiblat karena Allah SWT."

Tata Cara Pelaksanaan Sholat Idul Fitri

Secara garis besar, dilansir Liputan6.com dari kemenag.go.id, syarat dan rukun sholat Idul Fitri tidak jauh berbeda dengan sholat fardhu lima waktu, termasuk hal-hal yang dapat membatalkan sholat. Namun, terdapat beberapa aktivitas teknis khusus yang membedakannya, yang berstatus sunnah. Salah satu perbedaan utama adalah sholat Idul Fitri tidak diawali dengan azan dan iqamah, melainkan cukup dengan seruan "ash-shalâtu jâmi'ah". 

Pelaksanaan sholat ini dimulai dengan niat yang telah disebutkan sebelumnya, diikuti dengan takbiratul ihram. Setelah itu, ada penambahan takbir yang menjadi ciri khas sholat Idul Fitri, baik di rakaat pertama maupun kedua. Pemahaman akan urutan dan jumlah takbir ini sangat penting untuk menunaikan sholat dengan benar.

Takbiratul Ihram dan Takbir Tambahan (Rakaat Pertama)

Setelah niat, sholat dimulai dengan takbiratul ihram, sama seperti sholat pada umumnya. Kemudian, setelah membaca doa iftitah, disunnahkan untuk melakukan takbir tambahan sebanyak 7 kali pada rakaat pertama. Setiap kali takbir, disunnahkan mengangkat tangan.

Di sela-sela setiap takbir tambahan tersebut, dianjurkan untuk membaca salah satu dari bacaan dzikir berikut. Bacaan ini menambah kekhusyukan dan pahala dalam sholat Idul Fitri.

  • Bacaan 1:

  • Arab: اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

  • Latin: Allāhu akbaru kabīrā, walḥamdu lillāhi kathīrā, wa subḥānallāhi bukratan wa aṣīlā

  • Artinya: "Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang."

  • Bacaan 2:

  • Arab: سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

  • Latin: Subḥānallāhi walḥamdu lillāhi wa lā ilāha illallāhu wallāhu akbar

  • Artinya: "Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar."

Membaca Surat Al-Fatihah dan Surat Pendek

Setelah takbir tambahan selesai dan bacaan dzikir diucapkan, sholat dilanjutkan dengan membaca surat Al-Fatihah, yang merupakan rukun sholat. Setelah Al-Fatihah, disunnahkan untuk membaca surat pendek.

Pada rakaat pertama, surat yang dianjurkan untuk dibaca adalah surat Al-A'la. Setelah itu, sholat dilanjutkan dengan gerakan ruku', sujud, duduk di antara dua sujud, dan seterusnya, hingga berdiri kembali untuk rakaat kedua, mengikuti tata cara sholat pada umumnya.

Takbir Tambahan (Rakaat Kedua)

Pada rakaat kedua, setelah berdiri kembali dari sujud, jamaah melakukan takbir tambahan sebanyak 5 kali. Setiap takbir ini juga disertai dengan mengangkat tangan dan melafalkan "allâhu akbar".

Di antara takbir-takbir tersebut, lafalkan kembali bacaan dzikir yang sama seperti pada rakaat pertama. Setelah takbir tambahan selesai, baca surat Al-Fatihah, lalu disunnahkan membaca surat Al-Ghâsyiyah. Sholat kemudian dilanjutkan dengan ruku', sujud, dan gerakan lain hingga salam. Penting untuk diingat bahwa hukum takbir tambahan ini adalah sunnah, sehingga kelupaan mengerjakannya tidak membatalkan sholat Id.

Mendengarkan Khutbah

Setelah sholat Idul Fitri selesai ditunaikan dan salam diucapkan, jamaah sangat dianjurkan untuk tidak buru-buru pulang. Sebaliknya, dianjurkan untuk tetap tinggal dan mendengarkan khutbah Idul Fitri hingga selesai. Khutbah ini merupakan bagian penting dari rangkaian ibadah Idul Fitri yang memberikan nasihat dan pengingat keagamaan.

Namun, kewajiban mendengarkan khutbah ini tidak berlaku bagi mereka yang melaksanakan sholat Id secara munfarid atau sendiri. Menurut Hadits Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah, sunnah bagi seorang Imam untuk berkhutbah dua kali pada sholat hari raya, dengan memisahkan kedua khutbah tersebut dengan duduk.

Tanya Jawab Seputar Sholat Idul Fitri

Q: Apakah sholat Idul Fitri wajib dilaksanakan? 

A: Sholat Idul Fitri hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), bukan wajib. Namun, sejak disyariatkan pada tahun kedua Hijriah, Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkannya hingga wafat. Para ulama sangat menganjurkan seluruh umat Islam untuk melaksanakannya kecuali ada uzur syar'i yang menghalangi.

 

Q: Bolehkah melaksanakan sholat Idul Fitri sendiri di rumah? 

A: Ya, boleh melaksanakan sholat Idul Fitri sendiri (munfarid) di rumah jika tidak bisa hadir dalam sholat berjamaah. Tata caranya sama, hanya niat yang dibaca tidak menyebutkan "imāman" atau "ma'mūman". Namun, sholat berjamaah tetap lebih utama karena mengandung nilai sosial dan ukhuwah yang lebih besar.

 

Q: Apa yang harus dilakukan jika lupa melakukan takbir tambahan? 

A: Takbir tambahan (7 kali di rakaat pertama dan 5 kali di rakaat kedua) hukumnya sunnah. Jika lupa melakukannya, sholat tetap sah dan tidak perlu sujud sahwi. Namun, jika masih dalam tahap yang memungkinkan dan belum terlanjur jauh, boleh melanjutkan takbir yang tertinggal kemudian melanjutkan bacaan Al-Fatihah.

 

Q: Surat apa saja yang dibaca dalam sholat Idul Fitri? 

A: Setelah Al-Fatihah di rakaat pertama, disunnahkan membaca surat Al-A'la (surat ke-87). Di rakaat kedua setelah Al-Fatihah, disunnahkan membaca surat Al-Ghasyiyah (surat ke-88). Ini berdasarkan sunnah Rasulullah SAW, namun boleh juga membaca surat-surat lain yang sudah dihafal.

 

Q: Apakah ada adzan dan iqamah sebelum sholat Idul Fitri? 

A: Tidak ada adzan dan iqamah sebelum sholat Idul Fitri. Sebagai gantinya, biasanya dilakukan seruan "ash-shalātu jāmi'ah" (sholat berjamaah) untuk mengumpulkan jamaah. Ini merupakan kekhususan sholat Idul Fitri yang membedakannya dari sholat lima waktu.

 

Q: Bagaimana jika datang terlambat saat imam sudah dalam takbir tambahan? 

A: Jika datang saat imam masih dalam takbir tambahan, ikuti takbir yang tersisa. Jika imam sudah selesai takbir dan membaca Al-Fatihah, langsung ikuti bacaan imam. Takbir tambahan yang terlewat tidak perlu diganti karena hukumnya sunnah dan tidak mempengaruhi keabsahan sholat.

 

Q: Apakah wajib mendengarkan khutbah setelah sholat Idul Fitri? 

A: Mendengarkan khutbah Idul Fitri hukumnya sunnah muakkadah, sangat dianjurkan namun tidak wajib. Jamaah sebaiknya tidak buru-buru pulang setelah salam, melainkan mendengarkan khutbah hingga selesai untuk mendapatkan nasihat dan bimbingan spiritual. Khutbah juga merupakan bagian dari kesempurnaan ibadah sholat Idul Fitri.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6