Sukses

Kumpulan Quote Gus Dur tentang Kehidupan, Islam, Isu Sosial, dan Keberagaman

Quote-quote Gus Dur sering kali mencerminkan pemikiran dan pandangan-pandangannya tentang politik, agama, masyarakat, dan isu-isu sosial.

Liputan6.com, Jakarta Quote Gus Dur merujuk kepada kutipan atau pernyataan dari Abdurrahman Wahid, yang dikenal dengan panggilan "Gus Dur." Gus Dur adalah tokoh Islam yang merupakan presiden Indonesia yang keempat. Ia adalah figur yang sangat dihormati dalam sejarah Indonesia karena kontribusinya dalam memperjuangkan demokrasi, hak asasi manusia, dan toleransi agama.

Quote-quote Gus Dur sering kali mencerminkan pemikiran dan pandangan-pandangannya tentang politik, agama, masyarakat, dan isu-isu sosial. Gus Dur dikenal sebagai seorang pemikir yang kritis dan sering mengungkapkan pendapatnya secara tegas dan kontroversial. Salah satu kutipan terkenalnya adalah tentang pluralisme agama dan toleransi, di mana ia mengatakan bahwa "Pluralisme adalah sebuah keniscayaan. Kita harus mengakui perbedaan, kita tidak bisa mengesampingkannya." Quote Gus Dur ini mencerminkan pandangannya yang kuat terhadap pentingnya menghormati keberagaman agama dan budaya dalam masyarakat.

Quote-quote Gus Dur sering dijadikan inspirasi dan pedoman dalam upaya membangun masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan damai di Indonesia. Gus Dur dikenal sebagai sosok yang mendorong dialog antaragama, kerukunan antarumat beragama, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, nilai-nilai yang terus dijunjung tinggi dalam berbagai perubahan sosial dan politik di Indonesia.

Dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber pada Kamis (7/9/2023), berikut adalah kumpulan quote Gus Dur, baik yang terkait dengan isu sosial maupun agama.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 5 halaman

Quote Gus Dur Menyangkut Kehidupan

1. Sabar itu nggak ada batasnya, kalau ada batasnya berarti nggak sabar

2. Peran agama sesungguhnya membuat orang sadar akan fakta bahwa dirinya bagian dari umat manusia dan alam semesta."

3. Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya.

4. Tidak penting apa agama dan sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua manusia, maka orang tidak pernah tanya apa agamamu

5. Dengan lelucon, kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan humor, pikiran kita jadi sehat

6. Tidak penting apapun agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.

7. Bangsa ini menjadi penakut! Karena tidak berani dan tidak mau bertindak menghukum yang bersalah.

8. Orang yang masih terganggu dengan hinaan dan pujian manusia, dia masih hamba yang amatiran.

9. Allah itu maha besar. Ia tidak memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada. Apapun yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya.

10. Agama mengajarkan pesan-pesan damai dan ekstremis memutarbalikannya. Kita butuh Islam ramah, bukan Islam marah.” Kita butuh Islam ramah, bukan Islam marah.

3 dari 5 halaman

Quote Gus Dur tentang Islam dan Perbedaan

11. Perbedaan itu fitrah. Dan ia harus diletakkan dalam prinsip kemanusiaan universal.

12. Islam itu datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk ‘aku’ menjadi ‘ana’, ‘sampeyan’ jadi ‘antum’, ‘sedulur’ jadi ‘akhi’. Kita pertahankan milik kita. Kita harus serap ajarannya, bukan budaya Arabnya.

13. Islam di Indonesia itu timbul dari basis kebudayaan. Jika itu dihilangkan, maka kemungkinannya ada dua, yaitu pertama kebudayaan akan mati, kedua Islam akan hancur. Pesan saya, jadilah pemikir yang sehat.

14. Dari sudut agama, saya ingin mengingatkan, agar ketidaksenangan kita terhadap seseorang atau suatu kaum jangan sampai menyebabkan kita berlaku tidak adil dalam memutuskan sesuatu.

15. Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya.

16. Esensi Islam tidak terletak pada pakaian yang dikenakan, melainkan pada akhlak yang dilaksanakan.”

17. Jika kita merasa muslim terhormat, maka kita akan berpuasa dengan menghormati orang yang tidak berpuasa.

18. Menyesali nasib tidak akan mengubah keadaan. Terus berkarya dan bekerjalah yang membuat kita berharga.

19. Memaafkan tidak akan mengubah masa lalu, tetapi memberi ruang besar untuk masa depan.

20. Sebenar apapun tingkahmu, sebaik apapun perilaku hidupmu, kebencian dari manusia itu pasti ada. Jadi jangan terlalu diambil pusing. Terus saja jalan.

21. Perbedaan dalam berbagai hal termasuk aliran dan agama, sebaiknya diterima karena itu bukan sesuatu masalah.

22. Tuhan tidak perlu dibela, Dia sudah maha segalanya. Belalah mereka yang diperlakukan tidak adil.

23. Mestinya yang merayakan hari natal bukan hanya umat Kristen, melainkan juga umat Islam dan umat beragama lain, bahkan seluruh umat manusia. Sebab, Yesus Kristus atau Isa Al-Masih adalah juru selamat seluruh umat manusia, bukan juru selamat umat Kristen saja.

24. Sebuah masyarakat tanpa spiritualitas hanyalah akan berujung pada penindasan, ketidakadilan, pemerasan, dan pemerkosaan, atas hak-hak asasi warganya.

25. Negeri ini paling kaya di dunia tapi sekarang negeri ini menjadi melarat karena para koruptor tidak ditindak dengan tegas.

26. Humor tidak bisa menjatuhkan pemerintah. Tetapi humor bisa membantu membusukkan suatu rezim.

27. Kepemimpian yang baik dapat membawa hasil yang baik tanpa banyak menumpahkan darah.

28. Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesejarahan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali

29. Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.

30. Dengan lelucon, kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan humor, pikiran kita menjadi lebih sehat.

4 dari 5 halaman

Quote Gus Dur tentang Kehidupan Berbangsa dan Negara

31. Demokrasi harus berlandaskan kedaulatan hukum dan persamaan setiap warga negara tanpa membedakan latar belakang ras, suku, agama, dan asal-muasal, di muka undang-undang

32. Tugas pokok intelektual adalah mempertahankan kebebasan berpikir, bukan membunuh kebebasan berpikir.

33. Dari sudut agama, saya ingin mengingatkan, agar ketidaksenangan kita terhadap seseorang atau kaum, jangan sampai menyebabkan kita berlaku tidak adil dalam memutuskan sesuatu.

34. Perpustakaan adalah tempat untuk memenuhi dahaga ilmu pengetahuan

35. Pemahaman apa pun yang berbeda apalagi bertentangan bisa menjadi bibit – bibit perpecahan apalagi bertentangan, bisa menjadi bibit-bibit – bibit perpecahan dan persatuan bangsa.

36. Agama mengajarkan pesan-pesan damai dan ekstremis memutarbalikannya.

37. Kalau Anda tidak ingin dibatasi, janganlah Anda membatasi. Kita sendirilah yang seharusnya tahu batas kita masing-masing.

38. Mari kita tanya dalam hati kita, apakah kita ini berjuang untuk suatu kepentingan yang besar yaitu kedamaian dan keutuhan NKRI.

39. Keutuhan negara hanya akan tercapai kalau ia memberikan perlakuan yang sama dimuka hukum.

40. Meskipun takut, kita jalan terus, berani melompati pagar batas ketakutan tadi, mungkin di situ harga kita ditetapkan.

5 dari 5 halaman

Cerita Humor yang pernah Dibagikan Gus Dur

Selain dikenal dengan quote yang penuh dengan pelajaran tentang Islam, isu sosial, dan kehidupan berbangsa, Gus Dur juga dikenal dengan cerita-cerita humornya. berikut adalah sejumlah contoh cerita humor yang pernah dikisahkan oleh Gus Dur:

1. Doa sebelum Makan

Gus Dur bercanda dengan beberapa pastor di Semarang. Dia menceritakan kisah tentang seorang pastor yang memiliki hobi aneh, yaitu berburu binatang buas. Setiap hari Minggu, setelah selesai misa, pastor itu pergi ke hutan.

Saat dia melihat harimau, tanpa ragu, dia langsung menarik pelatuk senapannya dan menembak harimau itu dengan berulang kali, mengucapkan suara "Dor, dor, dor!"

Namun, sayangnya, tembakan pastor tersebut meleset dan harimau justru balik mengejar dia. Ketika menyadari situasinya, sang pastor segera berlari terbirit-birit.

Namun, nasib malang menimpanya saat dia berhadapan dengan jurang yang sangat dalam. Dia terpaksa berhenti, merasa pasrah, dan berlutut. Harimau mendekatinya perlahan, siap untuk menerkam.

Jantung sang pastor berdegup dengan cepat. Dengan penuh ketakutan, dia mengangkat kedua tangannya sambil berdoa dan menutup matanya.

Pastor itu berdoa dengan sangat lama. Sang pastor pun heran karena dia masih hidup. Ketika dia melihat ke samping, dia melihat harimau itu terdiam di sampingnya, mengangkat kedua kaki depannya seperti sedang berdoa.

Terkejut, sang pastor bertanya kepada harimau, "Mengapa kamu tidak menerkam saya? Malah ikut-ikutan berdoa?"

Harimau itu menjawab dengan santai, "Saya sedang berdoa. Berdoa sebelum makan!"

2. Ketika Gus Dur Dibohongi

Gus Dur memiliki kebiasaan tidur malamnya pada pukul 01.00 WIB. Di malam hari, dia sering kali bertanya kepada keluarganya atau pengawalnya, "Pukul berapa sekarang?" Jika jawaban yang diterima belum mencapai waktu yang telah ditentukan, dia tidak akan tidur.

Namun, untuk menjaga kesehatan Gus Dur agar tidak tidur terlalu larut, keluarganya membuat sebuah konspirasi. Ketika Gus Dur bertanya tentang jam, mereka semua sepakat untuk menjawab bahwa sudah pukul satu agar Gus Dur akan beranjak tidur.

Tindakan semacam itu berulang beberapa kali, tetapi akhirnya Gus Dur menyadari hal tersebut. Dia kemudian memutuskan untuk membeli sebuah jam tangan yang bisa mengeluarkan suara saat dipencet.

Suatu malam, pada pukul 23.00, Gus Dur bertanya, "Sekarang jam berapa?" Semua orang secara bersamaan menjawab, "Jam satu, Gus!"

Dengan senyuman, Gus Dur langsung mencet tombol pada jam tangannya, dan semua orang mendengar suara jam itu mengumumkan, "Sekarang jam 11 malam," dengan bahasa Inggris.

3. Halalkan Ikan Curian

Pada masa remajanya, Gus Dur menghabiskan waktunya untuk belajar agama di Pondok Pesantren Salaf Asrama Perguruan Islam atau Pesantren API di Tegalrejo, Magelang, antara tahun 1957 hingga 1959.

Selama berada di pesantren, Gus Dur dan beberapa teman sebayanya merencanakan sebuah aksi pencurian ikan di kolam yang dimiliki oleh guru mereka, Kiai Chudlori. Dalam rencana ini, Gus Dur meminta teman-temannya untuk mencuri ikan dari kolam tersebut, sementara ia sendiri mengawasi dari tepi kolam.

Gus Dur tidak turut serta dalam aksi mencuri ikan tersebut, dan alasannya adalah untuk menjaga agar jika Kiai Chudlori keluar dan melewati kolam, ia bisa memperingatkan teman-temannya.

Suatu malam, ketika Kiai Chudlori yang selalu pergi ke masjid untuk menunaikan salat malam pukul 01.00 WIB, ia melewati kolam tersebut. Saat itulah teman-teman Gus Dur yang sedang sibuk mencuri ikan tadi langsung diinstruksikan untuk segera melarikan diri. Namun, Gus Dur tetap berdiri di tepi kolam sambil memegang ikan hasil curian.

Kemudian, Gus Dur berbicara kepada Kiai Chudlori, mengatakan bahwa ikan miliknya hampir saja dicuri oleh beberapa santri nakal, tetapi ia berhasil mengusir mereka dan menyelamatkan ikan tersebut. Atas usahanya yang gigih, Kiai Chudlori akhirnya memberikan ikan tersebut kepada Gus Dur sebagai hadiah, agar ikan tersebut bisa dimasak dan dinikmati bersama teman-temannya.

Teman-teman yang sebelumnya diinstruksikan untuk mencuri ikan kemudian menyampaikan protes kepada Gus Dur. Namun, Gus Dur dengan santai menjawab bahwa yang lebih penting adalah hasil akhirnya, dan ikan tersebut sudah dianggap halal.

4. Becak Dilarang Masuk

Dulu, Presiden Gus Dur pernah mengisahkan kepada salah satu menterinya, Mahfud MD, tentang seorang warga Madura yang sangat cerdik.

Ceritanya berawal ketika seorang tukang becak asal Madura kedapatan oleh seorang polisi saat ia memasuki wilayah yang memiliki tanda bertuliskan 'becak dilarang masuk'.

Tanpa ragu, polisi segera menghampiri tukang becak yang melanggar peraturan tersebut dan menegurnya dengan keras, "Apakah kamu tidak melihat gambar di sana? Tulisannya jelas, 'becak dilarang masuk'!"

Tukang becak dari Madura itu dengan tenang menjawab, "Saya melihat, Pak, tapi yang ada hanya gambar becak kosong tanpa orang. Sedangkan becak saya ada penumpang di dalamnya, jadi saya pikir boleh masuk."

Polisi semakin kesal dan menyela, "Kamu benar-benar bodoh! Kenapa kamu tidak bisa membaca? Di bawah gambar tersebut ada tulisan yang jelas menyatakan bahwa becak dilarang masuk!"

Tukang becak itu tersenyum dan menjawab dengan penuh keceriaan, "Maaf, Pak, saya memang tidak bisa membaca. Kalau saya bisa membaca, saya pasti menjadi polisi seperti Anda, bukan tukang becak seperti sekarang."

5. Gus Dur Sakit Gigi

Gus Dur telah mengalami sakit gigi selama beberapa hari ini, dan ia merasa sangat tidak nyaman. Ia terlihat tidak bisa duduk dengan nyaman, berbicara pun juga terasa sulit, dan bahkan saat mendengarkan musik pun ia masih merasakan rasa sakit yang sama.

Dalam sebuah percakapan dengan salah seorang stafnya, Gus Dur mengutip lirik lagu dangdut yang mengatakan bahwa sakit hati terasa lebih berat daripada sakit gigi.

Salah seorang stafnya memberikan tanggapan, "Ya, mungkin lebih baik mengalami sakit gigi daripada sakit hati, bukan, Gus?"

Gus Dur kemudian menjawab, "Lebih baik sakit hati saja."

Ketika ditanya alasannya, Gus Dur dengan nada agak tinggi menjelaskan, "Saya bilang lebih baik sakit hati karena saat ini saya sedang mengalami sakit gigi...!" Dengan reaksi tersebut, staf Gus Dur memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.